Papaku Seorang CEO

Papaku Seorang CEO
Bab 16: Pelukan Gorila


__ADS_3

"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Alvaro sembari tetap fokus pada kemudinya.


Sejak tadi Flora terus memijit keningnya. Ia merasa pusing dengan kelakuan kakaknya sendiri.


"Aku dengar Tuan Roman sedang sakit parah. Sepertinya kakakku menginginkan Gavin untuk diperkenalkan kepada keluarga Tuan Roman. Dia kira kalau Gavin itu anak Tuan Roman," kata Flora memberi penjelasan.


"Kenapa kamu tidak bilang saja kalau Gavin itu bukan anaknya? Gavin itu kan anakku, enak saja ada yang mau mengaku-aku!" gerutu Alvaro. Ia ikut kesal mendengar Gavin dianggap sebagai anak orang lain.


Flora menghela napas. Rasanya semua orang hanya bisa membuat kepalanya pusing saja. "Aku sudah menjelaskan kalau itu bukan anaknya. Tapi, kakakku tidak akan peduli. Seperti biasa, dia akan menggunakan apapun yang bisa dijadikan uang, termasuk untuk menjual adiknya atau keponakannya sendiri."


"Kakakmu itu kurang ajar juga, ya! Dia tidak tahu berurusan denga siapa. Awas saja kalau nanti terjadi apa-apa kepada anakku!" ancam Alvaro.


Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia tak sabar untuk bertemu dengan orang yang berani mengusik putranya.


Setibanya di kebun binatang yang dimaksud, mereka segera bergegas turun dari mobil dan masuk untuk mencari Gavin.


"Aduh!" pekik Flora.


Saking panik dan tergesa-gesa, Flora sampai jatuh karena tersandung. Alvaro yang khawatir datang menghampiri. "Kamu tidak apa-apa?" tanyanya.


Kedua lutut Flora tampak lecet dan berdarah.


"Seharusnya kamu lebih hati-hati. Aku yakin Gavin juga pasti akan baik-baik saja. Dia kan anak yang pintar," kata Alvaro menenangkan.


"Kakakku orang yang nekad. Mungkin saja ia benar-benar menaruh Gavin di kandang macan," kata Flora dengan nada khawatir.


"Lalu bagaimana? Apa kamu masih bisa berjalan dengan kondisi seperti ini?" Alvaro menggerutu karena merasa peduli sekaligus gregetan. Ia kesal dengan sikap Flora yang gegabah dan ceroboh.


"Tidak apa-apa, aku masih kuat. Ini hanya luka kecil."

__ADS_1


Flora mengabaikan rasa sakitnya. Ia berusaha bangkit dibantu oleh Alvaro. Dengan langkah perlahan, ia kembali berjalan. Alvaro membantu menggandengnya.


"Gavin ... Gavin .... "


Keduanya terus berusaha memanggil Gavin. Mereka berkeliling untuk mencari keberadaan anak itu di sana. Setiap kandang hewan mereka lewati sembari menajamkan penglihatan.


"Apa tidak ada telepon lagi dari kakakmu?" tanya Alvaro.


"Belum. Nomornya juga tidak aktif," jawab Flora.


Mereka terus mencari tanpa petunjuk yang jelas. Banyaknya jumlah pengunjung yang datang semakin menyulitkan mereka untuk menemukan keberadaan Gavin.


"Eh, di sana kenapa ramai sekali kelihatannya. Memangnya hewan apa yang ada di sana?"


Alvaro menunjuk ke arah kerumunan orang-orang yang tak jauh dari tempat mereka. Kedengarannya di sana ada sesuatu yang seru sampai banyak yang bersorak dan tertawa-tawa.


"Bagaimana kalau kita coba cari Gavin siapa tahu dia ada di sana," ajak Alvaro.


"Permisi, Pak. Memangnya ada pertunjukkan apa di depan sana?" tanya Alvaro kepada salah seorang pengunjung.


Ia sangat penasaran karena sejak tadi banyak orang yang tertawa-tawa melihat ke arah kandang hewan. Sementara, ia kesulitan untuk masuk ke dalam kerumunan yang padat.


"Oh, pasti kalian baru datang, ya? Lucu banget di sana. Pokoknya kalian harus lihat. Ada orang yang sedang dipeluk oleh gorila. Lucu sekali. Hahaha ...." kata orang tersebut yang tak bisa menahan tawanya. Ia sampai memegangi perut saking lucunya dan tak bisa mengontrol tawanya sendiri.


Flora dan Alvaro saling berpandangan.


"Jangan-jangan itu Gavin, Pak! Bagaimana ini?" Flora kembali panik. Ia takut anaknya dalam bahaya bersama binatang buas di sana.


"Tenanglah dulu, ayo kita lihat bersama."

__ADS_1


Alvaro menuntun Flora berjalan pelan. Ia membukakan kerumunan agar Flora bisa mudah menuju ke arah depan.


Ketika melihat ke arah kandang, Flora sangat terkejut. "Kak Samantha!" serunya tak percaya.


Di dalam kandang gorila itu, ternyata ada kakaknya. Samantha tengah didekap oleh seekor gorila besar. Wanita itu terus berteriak dan menjerit ketakutan. Namun, para pengunjung justru menertawakannya. Samantha dianggap lucu, pasalnya si gorila terlihat menyukai Samantha seperti pasangannya sendiri. Gorila itu bahkan beberapa kali mencium Samantha dengan lembut.


"Siapapun tolong aku ... Cepat keluarkan aku dari sini ... Tolong ...." terdengar suara teriakan Samantha dari dalam kandang.


"Apa itu kakakmu?" tanya Alvaro memastikan.


"Iya, dia kakakku, Samantha," jawab Flora yang masih tertegun melihat kakaknya ada di sana.


"Kenapa jadi dia yang ada di sana. Lalu, Gavin dimana?" guman Alvaro yang juga ikut heran.


"Mama ... Mama ...."


Tiba-tiba Flora seperti mendengar suara Gavin. Ia melayangkan pandangan ke segala arah untuk bisa menemukan putranya. Termyata anak itu tengah ikut menonton di sana, di bagian depan.


Alvaro dan Flora berjalan melewati kerumunan untuk mendekat ke arah Gavin. Flora langsung memeluk putranya. Ada rasa lega dalam hatinya saat mengetahui Gavin baik-baik saja.


"Oh, jadi ini mama dan papa Gavin, ya?" tanya salah seorang lelaki yang memakai seragam dengan logo kebun binatang. Sepertinya dia adalah salah satu pegawai di sana.


"Iya, Om. Ini mama dan Papa Gavin," jawab anak itu dengan bangga.


"Jadi, apa sekarang Om boleh mengeluarkan Tante cantik itu dari dalam sana?" tanya si pegawai yang sejak tadi bersama dengan Gavin.


"Jangan, Om. Tanteku belum puas main sama gorila. Dia sangat suka sekali dipeluk gorila. tunggu sebentar lagi, Om," pinta Gavin.


Flora terkejut mendengar putranya bicara seperti itu. Artinya, Gavin sendiri yang membuat Samantha bisa masuk ke kandang gorila itu.

__ADS_1


"Tolong aku ... Tolong ... Aku bisa mati kalau lama-lama di sini ...."


Teriakan Samantha masih terdengar. Para pengunjung yang menonton semakin riuh memberi sorakan. Sebagian dari mereka menganggap itu adalah sebuah pertukkan yang dibuat oleh tempat itu.


__ADS_2