Papaku Seorang CEO

Papaku Seorang CEO
Bab 30: Meluruskan Masalah


__ADS_3

Alvaro menatap tajam ke arah Prilly. Ia yakin jika wanita itu yang telah membuat ibunya sampai datang ke rumah sakit dengan marah-marah. Ia terus mendekap Flora dalam pelukannya, tak membiarkan wanita itu menghadapi ibu dan mantan istrinya.


"Kamu sama sekali tidak punya rasa malu memeluk wanita itu di hadapan kami, Alvaro! Mama tidak habis pikir denganmu!" Nyonya Suhay masih terlihat kesal dengan kelakuan anaknya.


"Maaf, Ma. Untuk pertama kalinya, aku ingin melakukan apa yang benar-benar aku inginkan. Flora satu-satunya wanita yang aku cintai," kata Alvaro dengan tegas.


Dulu, ia terlalu pengecut untuk mengambil keputusan sendiri. Kini, ia tak ingin melakukan hal yang sama lagi. Hidupnya terasa sia-sia setelah melepaskan Flora demi cita-cita keluarganya.


"Apa? Kamu berani mengatakan itu di depan putramu sendiri?" Nyonya Suhay semakin tidak percaya dengan kelakuan anaknya.


Leon tampak muram. Ia sejak tadi hanya bisa memeluk Prilly sembari menatap ke arah Alvaro.


"Putra kandungku ada di dalam, Ma. Dia bukan anakku," kata Alvaro dengan tatapan sendunya.


Sebenarnya ia tidak ingin menyakiti perasaan Leon. Namun, ia juga tidak mau Flora dan Gavin terus dipersalahkan atas tindakannya.


"Apa?" Nyonya Suhay langsung gemetar mendengar ucapan putranya. Tidak mungkin Alvaro hanya asal bicara.


"Kalau mau cerita lebih jelas, tanyakan saja secara langsung pada Prilly. Dia yang lebih tahu. Kalau dia masih mau menyangkal, Mama bisa menemui pengacaraku. Dia tahu segalanya," ucap Alvaro sembari kembali menatap Prilly dengan benci.

__ADS_1


Ia benar-benar tidak akan melepaskan wanita itu begitu saja jika terus melakukan hal yang membuatnya jengkel.


Prilly hanya bisa mematung. Ia tidak menyangka jika obrolan mereka akan sampai ke sana. Ia hanya berharap masih dibela mantan ibu mertuanya agar tetap bisa bersama Alvaro.


"Prilly, apa ada hal yang tidak kamu katakan padaku?" desak Nyonya Suhay. Ia menatap tajam ke arah Prilly berharap memperoleh fakta.


"Ma, apa Mama mau punya menantu tidak jelas asal-usulnya seperti dia? Mama tidak takut reputasi keluarga akan hancur? Dia itu wanita tidak benar ... Punya anak saja tanpa pernikahan," kilah Prilly. Ia sudah terlihat panik untuk membela dirinya.


"Aku yang dulu menghamilinya, Ma!" sahut Alvaro tanpa malu lagi. Prilly semakin dibiarkan semakin seenaknya sendiri.


"Pak, sudah, jangan diteruskan, ini hal yang memalukan!" bisik Flora lirih. Sejak tadi ia ingin pergi, namun Alvaro memeluknya dengan erat. Ia tidak enak mendengar percakapan itu.


"Alvaro, kamu ...." Nyonya Suhay semakin tidak mengerti dengan kelakuan anaknya. Ia sampai hampir mati berdiri mendengarnya.


"Maaf, Ma. Aku baru mengatakannya. Aku juga belum lama tahu kalau ternyata aku sudah punya anak. Dan seperti yang aku katakan sebelumnya, Leon bukan putra kandungku!" tegas Alvaro.


"Ada bukti hasil tes DNA, semua dipegang oleh pengacaraku. Mama cek sendiri saja kalau tidak mau mendengarkan aku," imbuh Alvaro.


"Ma, tes DNA bisa saja direkayasa." Prilly masih berharap Nyonya Suhay mempercayai ucapannya.

__ADS_1


"Berani sekali kamu meragukan hasil tes DNA, Prilly! Kamu bisa dituntut pihak rumah sakit atas tindakanmu!" ancam Alvaro.


"Pak, sudah, hentikan! Aku mau kembali ke dalam!" bujuk Flora dengan suara lirihnya. Ia benar-benar tidak nyaman berada di sana, meskipun Alvaro jelas-jelas membelanya.


"Sudah dulu ya, Ma. Aku tidak mau meneruskan keributan ini. Di dalam anakku sedang sakit dan lebih butuh perhatian dibandingkan masalah ini," kata Alvaro.


Ia kembali mengajak Flora masuk ke dalam ruangan. Ia perintahkan kedua anak buahnya untuk kembali berjaga dan melarang siapapun pengganggu masuk ke dalam.


"Mama," rengek Gavin khawatir.


Flora berusaha tersenyum dan memeluk putranya. Ia tak mempedulikan lagi rasa sakit yang masih tersisa di pipinya.


"Mama, apa Mama baik-baik saja?" tanya Gavin dengan raut wajah cemasnya.


"Tentu saja, Sayang. Mama baik-baik saja. Kamu jangan pikirkan peristiwa tadi, ya! Itu hanya salah paham," kata Flora menenangkan.


Alvaro tampak menghela napas. Ia sangat merasa bersalah telah menyebabkan kejadian tak menyenangkan untuk mereka.


"Flora, maafkan aku," ucap Alvaro.

__ADS_1


"Lebih baik kamu selesaikan masalahmu dulu sebelum kembali menemui kami," kata Flora. Ia merasa kecewa dengan perlakuan yang diterima.


Menjadi seorang istri dari lelaki keluarga kaya memang tidak mudah apalagi tidak ada restu dari pihak keluarga. Kalau bukan demi Gavin, mungkin ia juga tidak akan memilih Alvaro sebagai suaminya.


__ADS_2