Papaku Seorang CEO

Papaku Seorang CEO
Bab 17: Kasihan Samantha


__ADS_3

"Sayang, kenapa Tante Samantha bisa ada di sana?" tanya Flora penasaran.


"Tadi Tante Samantha nakut-nakutin Gavin, Ma. Katanya mau lembar Gavin ke kandang buaya. Jadi Gavin lari. Terus Gavin masuk ke dalam kandang gorila, Tante Samantha ikut masuk mengejar. Gavin ditolong sama anak-anak gorila. Mereka baik. Tapi, Tante Samantha dipeluk ayah gorila itu nggak mau lepas," kata Gavin dengan polosnya.


"Iya, itu benar. Pasangan gorila jantan itu belum lama ini meninggal. Sepertinya dia menganggap wanita itu adalah betinanya," kata sang pekerja yang bersama Gavin.


Flora keheranan, namun menurutnya itu sangat lucu. Ia hanya bisa menahan tawanya sambil memperhatikan Samantha yang masih berteriak minta tolong karena ketakutan. Meskipun kasihan, ada rasa kepuasan melihat penderitaan yang dialami oleh kakaknya sendiri. Ia masih tidak bisa melupakan perlakuan buruk sang kakak terhadapnya.


"Jadi, bagaimana ini selanjutnya? Apa kami perlu menembak gorila jantan itu supaya bisa menyelamatkan wanita itu? Sepertinya dia akan mengamuk jika ada yang berani berusaha menolong wanita itu," kata si pekerja.


"Tidak usah!" sahut Alvaro tegas.


"Biarkan saja dia tetap di sana sampai besok," pintanya.


"Pak, itu berlebihan. Kasihan kakakku, kalau lapar bagaimana?" ujar Flora. Meskipun senang kakaknya seperti itu, ia tetap tidak tega.


"Beri makanan yang banyak, jangan sampai mereka kelaparan. Biarkan mereka tetap bersama, kelihatannya mereka memang cocok jadi satu keluarga," kata Alvaro. Ia ingin membalas orang yang sudah berusaha menculik putranya.


"Gunakan uang ini untuk mencukupi makanan mereka. Lagi pula dia di sana juga bisa memberikan hiburan untuk pengunjung." Alvaro memberikan sejumlah yang kepada pegawai tersebut.


"Ah, baik, Pak," ucap pegawai tersebut.


"Pak, Anda kok kejam sekali," bisik Flora.


"Biarkan saja. Siapa suruh dia cari gara-gara denganku," jawab Alvaro.

__ADS_1


"Gavin, ayo kita pulang sekarang," ajak Alvaro.


"Ayo, Papa!" Dengan semangat, Gavin memeluk Alvaro. Ia juga meminta digendong dan bermanja pada lelaki itu.


Flora turut mengikuti Alvaro dan Gavin yang telah beranjak pergi. Ia sempat menoleh ke belakang melihat kakaknya yang masih ada di dalam kandang gorila.


"Papa ... Tante Samantha itu sebenarnya kasihan. Tapi dia sudah jahat sama Mama." Gavin mengadukan kelakuan kakak dari ibunya itu.


"Apa yang kamu lakukan sudah bagus, Gavin. Orang jahat memang harus diberi pelajaran." Alvaro mengacungkan jempolnya memberi pujian.


Gavin mengulaskan senyuman lebar. "Mama itu kasihan, Papa. Dia banyak mengalami kesulitan. Apa Papa bisa melindungi Mama juga dari orang jahat?" pintanya dengan mata yang berbinar-binar.


Flora merasa terkejut mendengar ucapan anaknya. Meskipun masih kecil, tapi dia sangat peka dan mampu memahami situasinya.


"Aku rasa Mamamu akan baik-baik saja karena dia punya anak hebat seperti Gavin," kata Alvaro sembari mencubit hidung anak itu dengan gemas.


"Kecil-kecil bisa masukin orang ke kandang gorila. Itu kan hebat namanya," puji Alvaro.


Ketiganya lantas pergi meninggalkan kebun binatang itu. Mereka menyempatkan diri mampir ke sebuah pantai dan bersantai di sana.


Gavin terlihat sangat senang bisa bermain ombak bersama Alvaro. Anak itu terus tertawa riang sepanjang waktu. Sementara, Flora memilih duduk-duduk di tepi pantai memperhatikan mereka sambil menikmati sebutir kelapa muda.


***


Samantha meringkuk tak berdaya dalam pelukan gorila jantan. Ia hanya bisa pasrah setiap kali wajahnya diciumi oleh gorila itu. Suaranya sudah habis untuk meminta tolong dan tidak ada satupun orang yang mau menolongnya. Ia malah menjadi tontonan banyak orang.

__ADS_1


"Ya Tuhan ... Apa-apaan ini ... Kenapa bisa jadi seperti ini ...." rintih Samantha.


Gorila itu memang tidak menyakitinya. Ia seolah sedang disayang dan dimanjakan. Namun, makhluk berbulu itu tetap saja menakutkan untuknya. Apalagi hewan itu seperti mengajaknya bicara dengan bahasa yang tidak dimengerti.


Sementara, anak-anak gorila asyik bermain di sekitar mereka. Ada juga yang duduk manis sambil memandang ke arahnya.


Tiba-tiba seorang petugas masuk ke dalam kandang. Samantha terlihat senang dan punya harapan untuk dibebaskan dari gorila itu.


"Pak, cepat tolong aku ... Aku bisa mati kalau lama-lama di sini," rengek Samantha.


Petugas kebun binatang itu berjalan mendekat membawa sebuah nampan besar berisi makanan dan buah-buahan. Ia hidangkan di hadapan gorila.


Terlihat gorila jantan itu memberikan lirikan waspada terhadapnya. Hewan itu juga mendekap Samantha lebih erat saat si petugas mendekat, seolah takut jika Samantha akan direbut darinya.


"Em, Nona, maafkan saya. Sepertinya dia akan mengamuk kalau saya melepaskan Nona. Dia masih trauma dengan kematian pasangannya. Jadi, harap bersabar sampai dia mau melepaskan Anda sendiri," kata si petugas dengan sedikit takut.


Samantha membulatkan matanya lebar. "Apa kamu sudah gila, hah?" omelnya. Ia kesal dengan petugas itu.


Saat ia marah, si gorila menoleh ke arahnya dan memandanginya dengan intens, membuat nyali Samantha menciut.


"Sekali lagi maafkan saya, Nona. Gorila ini kalau mengamuk bisa membanting orang sampai tulangnya remuk. Jadi, harap bersabar sampai dia mau melepaskan Anda dengan sendirinya. Saya hanya bisa membantu menyediakan makanan supaya Nona tidak kelaparan. Saya permisi dulu," pamit petugas itu.


Samantha rasanya ingin protes dan mengamuk. Namun, melihat tatapan kesal si gorila ia jadi takut. Akhirnya ia memilih diam.


Gorila itu mengambil sebuah pisang dan memberikannya pada Samantha. Karena lapar, terpaksa Samantha menerimanya. Ia memakan pisang itu sembari meratapi nasibnya.

__ADS_1


"Flora ... Gavin ... Awas kalian!" gerutu Samantha.


__ADS_2