
"Gavin!" seru Flora saat memasuki ruang perawatan putranya. Ia bersyukur putranya dalam kondisi yang baik. Ia langsung memeluk Gavin dengan erat melepaskan rasa kekhawatirannya.
Meskipun kondisi Gavin masih lemah dengan selang infus dan tranfusi darah yang terpasang di tangan serta kepala yang telah dibalut perban, Flora tetap bersyukur putranya masih diberi keselamatan.
"Papa ...," panggil Gavin.
Flora agak kecewa putranya justru menyebut selain dirinya. Ia cemburu, ternyata putranya lebih ingin dekat dengan Alvaro.
Alvaro mengulaskan senyuman. Ia merasa senang saat dipanggil oleh putra kandungnya sendiri.
"Papa," panggil Gavin lagi seraya mengulurkan tangannya.
Alvaro mendekat, meraih tangan kecil itu dan menciumnya. "Iya, Sayang. Papa di sini," ucapnya.
"Papa ... Gavin tidak nakal. Gavin tidak mendorong Tante, dia jatuh sendiri," kata Gavin.
Alvaro dan Flora saling berpandangan. Ternyata putra mereka masih mengingat kejadian sebelumnya.
"Iya, Sayang. Kamu tidak perlu memikirkannya lagi. Papa percaya padamu," ucap Alvaro untuk menenangkan anak itu.
"Papa ... Apa boleh Gavin tetap memanggil Papa? Leon sangat marah kalau aku memanggil Papa. Gavin senang punya Papa," rengek Gavin.
"Tidak ada yang boleh melarang Gavin memanggil Papa. Papa kan memang Papanya Gavin. Jadi, tidak apa-apa, Sayang." Alvaro mencium pipi putranya. Ia merasa sedih melihat kondisi putranya yang seperti itu. Seharusnya ia lebih cepat menemukan putranya agar bisa medengarkan panggilan Papa yang terdengar merdu di telinganya.
"Tuh, Mama dengar sendiri, kan? Gavin boleh terus memanggil Papa. Gavin tidak salah," Kata Gavin mengadu pada ibunya.
Flora tersenyum. "Iya, Sayang. Dia memang Papamu. Kamu boleh memanggilnya Papa," ucapnya mengalah.
Ia tak ingin lagi egois terhadap dirinya sendiri. Apalagi keinginan Gavin memang untuk bertemu dengan ayah kandungnya.
"Gavin, Om Dokter mau bicara sebentar ya, dengan Mama dan Papanya Gavin. Boleh?" tanya sang dokter yang masih ada di ruangan tersebut.
Gavin mengangguk setuju.
__ADS_1
"Kamu di sini dulu ya, Sayang. Nanti Mama kembali," pamit Flora.
Ia dan Alvaro mengikuti sang dokter menuju ke sebuah ruangan yang terpisah dengan ruang perawatan Gavin. Raut wajah dokter terlihat serius, seperti ingin menyampaikan sesuatu yang penting kepada mereka.
"Ini tentang kondisi putra ... Kalian?" tanya dokter memastikan.
"Iya, Dok. Dia putra kami," sahut Alvaro cepat-cepat menjawab.
"Penyakit yang diderita Gavin harus segera ditangani. Jika dibiarkan, lama-lama bisa melemahkan kondisi fisiknya. Bukan hanya tentang seberapa bahaya penyakit itu, tapi jika daya tahan tubuhnya melemah, dia akan lebih rentan terserang berbagai macam penyakit. Itu bisa menyebabkan komplikasi," kata sang dokter.
"Ibu Flora, saya sudah pernah mengingatkan sebelumnya jika Gavin tidak boleh sampai mendapatkan luka, maka dari itu dulu saya menyarankan untuk home schooling saja. Karena anak seumuran dia sedang aktif-aktifnya dan kita tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi," lanjut dokter.
Flora menunduk. Ia merasa bersalah dulu mengambil keputusan untuk tetap menyekolahkan Gavin. Karena menurutnya Gavin lebih senang bersekolah dari pada berdiam diri di rumah. Selama ini Gavin juga sangat patuh bersekolah dengan baik.
"Dokter, lakukan apa saja yang bisa dilakukan untuk menyembuhkannya. Berapapun biayanya, katakan saja," sambung Alvaro.
Sang dokter terlihat tersenyum. "Pasti kami akan mengusahakan yang terbaik untuk putra Anda, Pak. Karena kondisinya sudah seperti ini, kami perlu melakukan beberapa terapi untuk meningkatkan kekebalan tubuhnya. Gavin perlu dirawat di rumah sakit sampai kondisinya benar-benar stabil."
"Tidak masalah, Dok. Lakukan saja kalau memang perlu," kata Flora.
"Iya, Pak. Bisa diusahakan jika ada donor sumsum tulang belakang yang cocok dengannya. Tapi, permasalahannya, sampai sekarang belum ada yang cocok dengan milik Gavin. Mungkin kalian bisa meminta saudara-saudara dekat untuk melakukan tes, siapa tahu ada yang cocok. Atau mungkin Gavin punya saudara kandung? Biasanya tingkat kecocokannya tinggi."
Alvaro dan Flora saling berpandangan.
"Bagaimana dengan Leon?" tanya Flora kepada Alvaro.
Alvaro menelan ludahnya. Flora pasti menganggap Leon sebagai anaknya dan Prilly, yang artinya merupakan saudara kandung Gavin meskipun berbeda ibu.
Ia mendekatkan wajahnya ke arah telinga Flora dan membisikkan sesuatu. "Leonard bukan anakku, Flora," ucapnya.
Flora membulatkan mata. Ia langsung terdiam.
***
__ADS_1
Alvaro melonggarkan lilitan dasi yang melingkar di lehernya. Hari ini terasa sangat melelahkan. Ia memutuskan pulang ke rumahnya meninggalkan Gavin dan Flora di rumah sakit pada dini hari. Ada urusan yang harus ia selesaikan terlebih dahulu.
"Sayang, akhirnya kamu pulang!" seru Prilly kegirangan melihat kepulangan Alvaro.
Saat ia hendak membantu melepaskan jas yang masih melekat di badan Alvaro, tangannya ditepis kasar.
"Sayang, jangan marah dengan kejadian kemarin. Itu hanya pertengkaran anak kecil. Leon juga semalaman sudah menangis karena merasa bersalah. Ia tidak bermaksud melakukan hal itu pada Gavin. Dia hanya marah saja takut ayahnya diambil," kata Prilly untuk mengambil hati suaminya.
"Apa yang kamu lakukan saat mereka bertengkar?" tanya Alvaro dengan nada dingin.
Mendengar pertanyaan itu, Prilly terlihat kelincutan. "Aku ... Aku tentu saja berusaha melerai mereka, Sayang. Tapi, namanya anak-anak kalau sedang marah kan memang suka begitu," kilahnya.
Alvaro tampak melayangkan tatapan tajam ke arah Prilly. Sejak tadi ia menahan kesabarannya meski sebenarnya sudah sangat kesal dirasa.
"Oh, ya? Apa kamu benar-benar melerai mereka?" tanya Alvaro memastikan.
"Tentu saja, Sayang. Mana mungkin aku membiarkan mereka bertengkar," kata Prilly dengan meyakinkan.
"Tapi kenapa seluruh badan Gavin sampai lebam-lebam, hah!" bentak Alvaro. Tatapan matanya tajam menyalang seperti ada kobaran api di dalamnya.
Prilly seketika merasa ketakutan. "Aku ... Memang datang telat saat mereka bertengkar. Tapi, yang penting kan sekarang anak itu baik-baik saja," ucapnya dengan nada sedikit bergetar.
"Sejak dulu kelakuanmu memang tidak pernah berubah. Semakin hari semakin parah!" maki Alvaro. Ia sungguh sudah hilang kesabaran menghadapi wanita itu.
"Sayang ... Kenapa kamu tega berkata seperti itu kepadaku? Apa salahnya seorang ibu membela anaknya? Wajar kan, Leon marah saat ada anak lain ingin merebut ayahnya?" Prilly masih berusaha membela diri.
"Ayo kita bercerai!" ucap Alvaro dengan tegas.
"Apa?" Prilly tertegun di tempatnya. "Hanya karena itu kamu mau menceraikan aku? Sayang, apa kamu sudah gila?" ia benar-benar tidak habis pikir dengan Alvaro.
"Pasti wanita itu sudah merayumu kan? Apa dia memberikan tubuhnya saat kalian perjalanan bisnis bersama? Kamu lebih membela wanita itu dari pada anakmu sendiri?" Prilly meluapkan kekesalannya. Ia yakin ada yang sudah Flora lakukan sampai Alvaro tega melakukan itu kepadanya.
"Tutup mulutmu!" bentak Alvaro.
__ADS_1
Prilly mengepalkan kedua tangannya karena kesal. "Kamu memang tidak pernah peduli padaku atau anakmu sendiri, Alvaro ...."
"Anakku? Berhenti membohongi semua orang, Prilly. Aku tahu jika Leon sebenarnya bukan putraku," kilah Alvaro.