Papaku Seorang CEO

Papaku Seorang CEO
Bab 23: Rebutan Papa


__ADS_3

"Akhirnya sampai juga."


Flora menghela lega saat mobil yang ia naiki berhenti di depan rumah Alvaro. Selama dua hari ini ia menahan kerinduannya kepada sang anak. Urusan bisnis yang ikut ia tangani di luar kota bisa selesai lebih cepat dari seharusnya.


Alvaro sebenarnya mengajak Flora untuk pulang esok hari. Namun, ia memaksa untuk langsung pulang meskipun malam baru sampai setelah menempuh perjalanan 5 jam.


"Kamu menginap saja di sini, ya! Gavin juga pasti sudah tidur," pinta Alvaro yang duduk di samping Flora.


"Tidak, aku mau pulang sekarang saja. Kalau Gavin tidur, aku akan membangunkannya. Tidak enak jika kelamaan merepotkan orang," tukas Flora.


Gavin menahan tangan Flora yang hendak meraih gagang pintu. "Siapa yang kamu sebut orang lain, hm? Aku ini papanya Gavin," protesnya.


Flora hanya tersenyum menyeringai. Ia melepaskan tangan Alvaro darinya. "Sudahlah, jangan dibahas lagi, ya! Kamu itu kan cuma menitipkan bibit saja, tapi aku yang mengandung dan membesarkannya sendiri," timpalnya. Ia lantas membuka pintu samping lalu keluar dari mobil itu.


Alvaro dengan wajah yang agak kesal turut membuntuti Flora yang terburu-buru masuk ke rumah.


"Dasar keras kepala!" umpat Alvaro lirih.


Suasana rumah cukup lengang mengingat sudah larut malam, pelayan telah beristirahat di tempatnya.


"Untuk apa kamu terburu-buru? Gavin pasti sudah tidur. Kamu khawatir sekali, padahal para pelayan juga menjaganya dengan baik," ujar Alvaro.


"Iya, Pak. Terima kasih untuk itu. Tapi aku sangat merindukan putraku," kata Flora.


"Ah!"


Tiba-tiba terdengar suara jeritan dari arah atas membuat Alvaro dan Flora kaget. Keduanya langsung berlari mempercepat langkah menuju ke lantai atas.


"Gavin!" teriak Flora panik.


Ia terkejut melihat putranya yang terkapar di lantai dengan dahi yang berdarah. Kakinya langsung gemetar seakan lemas dan tidak kuat berdiri melihat kondisi itu. Sementara, tak jauh dari Gavin ada Leon dan Prilly yang tidak melakukan apapun untuk menolong putranya.

__ADS_1


Dengan perasaan cemas, Flora berlari menghampiri putranya dan memeluknya.


"Mama ...." rengek Gavin.


Flora masih syok dan gemetaran dengan kondisi putranya.


"Ada apa ini? Kenapa Gavin sampai terluka?" tanya Alvaro yang ikut kaget. Ia lihat Leon juga ada di sana.


"Gavin tidak sengaja jatuh, Sayang. Tadi memang Leon dan Gavin sedikit bertengkar. Kalau bukan karena Gavin bilang mau punya papa sepertimu. Leon juga tidak akan marah," kata Prilly membela anaknya.


Ia cukup terkejut melihat kepulangan suaminya yang lebih cepat dari dugaannya. Hatinya sedikit khawatir jika Alvaro akan murka karena kejadian itu.


"Leon, apa yang terjadi?" tanya Alvaro. Ia tidak percaya dengan ucapan Prilly begitu saja.


"Papa, Gavin jahat. Dia mau merebut papa dariku. Dia juga kemarin mendorong Mama sampai hampir tenggelam di kolam renang. Kaki Mama masih terkilir," kata Leon dengan ketakutan.


Sebenarnya ia merasa bersalah telah mendorong Gavin dengan keras sampai membentur meja dan keningnya berdarah. Namun, ia lebih takut jika ayahnya benar-benar diambil oleh Gavin.


"Anak ini tidak ada sopan santunnya! Dengar sendiri kan, Sayang! Dia lancang memanggilmu sebagai Papanya. Bagaimana Leon tidak marah, coba? Ini pasti ajaran ibunya juga!" kesal Prilly.


"Papa ...," Leon merengek sembari memeluk ayahnya. Ia takut sekali kehilangan ayanya.


Alvaro menghela napas. Ia memijit keningnya sendiri yang terasa pening. Tidak disangka kekacauan di rumahnya hanya karena perkara kecil.


"Prilly, kamu diamlah! Jangan memperkeruh suasana dan semakin membuat salah paham Leon," pinta Alvaro.


"Tapi, Sayang, apa salah aku membela anakku sendiri? Leon itu anakmu, dia takut ayahnya direbut anak lain!" Prilly tak mau mengalah. Ia bersikeras bahwa putranya tak bersalah tentang kejadian itu.


"Sayang, Mama kan sudah mengingatkanmu untuk tidak sembarangan memanggil dia papa," lirih Flora mengingatkan putranya sendiri. Ia tidak tahu jika Gavin akan senekad itu memanggil Alvaro dengan sebutan Papa. Padahal anak itu biasanya sangat patuh.


"Maaf, Ma ... Gavin hanya mau punya Papa," kata Gavin dengan polosnya.

__ADS_1


Tatapan mata bening itu selalu membuat Flora tak berdaya. Satu sisi ia sangat ingin membahagiakan putranya, tapi di sisi lain ia juga tidak mau menghancurkan kebahagiaan orang lain.


"Mama, kepala Gavin rasanya sakit. Mata Gavin jadi gelap," keluh Gavin.


Flora kembali khawatir dengan kondisi putranya yang tiba-tiba lemah dan pucat. "Sayang, kamu tidak apa-apa, kan? Kita akan segera pulang, Sayang!" ucapnya sembari menggoyang sedikit badan Gavin yang ada di pelukannya.


Gavin tak memberika respon. Anak itu semakin terlihat lemas dan akhirnya memejamkan matanya tak sadarkan diri.


"Gavin! Gavin! Bangun, Sayang!" teriak Flora panik. Ia semakin menggoyang-goyangkan anaknya agar tersadar. Namun, Gavin tetap pingsan.


Melihat hal itu, Alvaro melepaskan pelukan Leon. Ia berlari menghampiri Gavin.


"Flora, Gavin kenapa?" tanyanya khawatir. Apalagi melihat Flora yang sudah menangis.


"Halah, dasar anak manja! Berdarah sedikit saja sudah pingsan!" cibir Prilly.


Leon tertegun di tempat melihat ayahnya yang lebih peduli pada anak lain di bandingkan dirinya. Ia merasa sangat sedih.


"Pak, tolong bantu aku membawa Gavin ke rumah sakit. Dia harus segera ditolong," ucap Flora dengan nada gemetar.


"Iya, iya, ayo kita bawa dia ke rumah sakit," kata Alvaro.


Dengan sigap lelaki itu mengambil tubuh Gavin dan menggendongnya. Saat melewati Leon, ia hanya menatap anak itu sekilas lalu berlari pergi membawa Gavin keluar kamar. Flora mengikuti di belakang sembari menangis.


"Pak, cepat antar kami ke rumah sakit terdekat!" perintah Alvaro kepada sang sopir yang tengah beristirahat di halaman depan.


Mendengar komando dari Alvaro, sang sopir bergegas membukakan pintu mobil mempersilakan Alvaro dan Flora masuk ke dalam bersama Gavin. Tanpa menunggu lama, sang sopir melajukan mobilnya.


"Ini kenapa darahnya tidak bisa berhenti? Apa lukanya parah?" tanya Alvaro cemas sekaligus keheranan. Kemejanya sudah berlumuran darah dan masih terasa basah mengalir dari kepala Gavin.


"Dia memang tidak boleh terluka, Pak," kata Flora sembari terus menangis. "Pak sopir, bisa lebih cepat sedikit mengemudinya? Gavin harus cepat mendapat penanganan dokter!" desaknya.

__ADS_1


"Iya, Bu. Ini saya usahakan untuk mengemudi secepat mungkin," sahut yang sopir.


__ADS_2