
"Alvaro, tega kamu mengatakan hal seperti itu ... Coba bayangkan bagaimana perasaan Leon mendengar papanya tidak mau mengakuinya!" Nada bicara Prilly bergetar mendengar kalimat Alvaro. Lelaki itu menganggap bahwa Leon bukanlah anaknya.
Alvaro ingin rasanya tertawa. "Selama ini aku sudah cukup bersabar denganmu, berharap kamu mau mengakui kebusukkanmu, Prilly. Apa aku yang harus mengatakannya?" tantang Alvaro.
"Maksudmu apa, sih? Aku salah apa? Kamu yang jahat mengatakan Leon bukan anakmu. Jelas-jelas malam itu kita tidur bersama!" tegas Prilly.
Kesabaran Alvaro Habis. Ia menuju ke arah salah satu lemari di kamarnya lalu mengambil setumpuk berkas dari dalamnya. Ia melemparkan dengan kasar tumpukan berkas itu tepat di hadapan Prilly.
"Kamu pikir aku bodoh untuk mempercayai orang sepertimu?" ujar Alvaro dengan nada kesalnya.
Prilly hanya bisa mematung di tempat melihat kumpulan foto-foto yang berserakan di lantai. Foto yang menunjukkan kebersamaannya dengan seorang lelaki tua yang sangat ia kenal. Tentu saja Prilly tidak akan melupakannya.
"Sayang, pasti ada yang ingin menjebakku! Ada yang mau memisahkan kita!" Prilly berusaha membela diri. Ia tidak ingin dibuang oleh Alvaro.
"Ini hanya kesalahpahaman, percayalah ... Kamu juga tahu kondisi yang sebenarnya. Malam itu, kita telah tidur bersama dan aku hamil gara-gara itu," imbuh Prilly.
Prilly masih mengingat jelas kejadian malam itu. Selepas terbangun di kamar Tuan Roman dalam kondisi tanpa busana, Prilly membenahi diri. Ia mengenakan selimut dan kabur dari sana. Ia tidak menyangka jika lelaki yang tidur dengannya bukanlah Alvaro. Padahal ia berada di kamar yang benar. Entah mengapa justru lelaki tua itu yang ada di kamarnya.
__ADS_1
Kondisinya malam itu cukup mabuk. Ia tidak sadar siapa yang tidur dengannya. Ia hanya tahu jika Alvaro sudah berhasil diberinya obat agar mau tidur dengannya. Nyatanya, ia justru tidur dengan lelaki lain.
Ketika melewati kamar sebelah, ia lihat kamar itu terbuka. Ia mengintip ke dalam karena penasaran. Betapa kagetnya Prilly saat melihat Alvaro tengah terbaring di atas ranjang. Kamar itu tampak berantakan dengan pakaian yang berserakan di mana-mana.
Tentu saja ia syok. Lelaki yang seharusnya tidur bersamanya justru tidur dengan wanita lain. Ia masuk ke dalam kamar itu, mengunci kembali pintunya dan melepaskan semua pakaiannya. Dengan santai, Prilly berbaring di ranjang yang sama dengan Alvaro lalu berpura-pura tidur.
Saat Alvaro terbangun, lelaki itu terkejut melihatnya di sana. Ia pura-pura menangis telah kehilangan keper awanannya dan meminta pertanggungjawaban pada Alvaro.
Awalnya Alvaro menolak, lelaki itu terlihat keras kepala dan merasa tidak beekewajiban untuk menikahinya. Berkat air mata buaya yang ia keluarkan di hadapan keluarga Alvaro, apalagi Prilly tengah mengandung, akhirnya Alvaro berhasil didesak untuk menikahinya. Namun, lelaki itu sama sekali tak mau menyentuhnya setelah menikah.
"Apa aku perlu melaporkan ini ke polisi? Atau harus aku siarkan di televisi kalau ada mantan artis terkenal tega menipu orang lewat pernikahan?" ancam Alvaro.
"Mau sampai kapan kamu akan memanfaatkan Leon demi kepentinganmu sendiri? Apa kamu pantas disebut sebagai seorang ibu?"
Alvaro sangat kecewa wanita itu tak pernah berubah. Prilly seorang yang egois, hanya mementingkan diri sendiri. Bahkan anaknya sendiri saja tidak dipedulikan sama sekali. Jika dulu ia tidak menikahi wanita itu, Prilly juga sudah berniat akan menggugurkan anaknya sendiri. Ia mempertahankan bayinya hanya karena merasa bisa dijadikan alat untuk menjadi istri seorang Alvaro.
Ia tidak pernah kasihan kepada wanita itu, ia hanya kasihan dengan Leon. Menjadi seorang anak yang terlahir dari ibu yang egois pastilah sangat berat. Itulah salah satu sebab Alvaro mau menikahinya.
__ADS_1
Sekarang, ia mengetahui putra kandungnya sendiri tengah membutuhkan dirinya. Ia harus memilih apa yang menjadi prioritas utamanya, Flora dan Gavin.
"Alvaro, mungkin bagimu terkadang aku melakukan hal yang di luar nalar. Tapi itu aku lakukan demi Leon. Apa kamu tega membuatnya menangis?" kata Prilly memelas.
"Selama ini aku sudah cukup lama membuatnya tersenyum. Juga memberikan kalian kehidupan yang nyaman. Sementara, di luar sana aku membiarkan dua orang yang seharusnya menempati rumah ini justru hidup menderita."
Setiap hari tidak ada hari tanpa rasa penyesalan di hati Alvaro memikirkan nasib Flora dan Gavin. Ia mengutuk dirinya sendiri yang tidak punya keberanian sejak awal untuk mengungkapkan perasaannya kepada Flora. Ia juga menyesal tidak mengutarakan perasaannya terhadap keluarga.
Sekalipun akan ada penolakan, ia hanya butuh lebih berusaha agar Flora bisa diterima di keluarganya. Apalagi sekarang ia sudah hidup mandiri dan bisa menentukan arah hidupnya sendiri.
"Alvaro, aku mohon ... Jangan ceraikan aku! Lakukan apapun asal jangan bercerai!" kata Prilly dengan putus asa.
Alvaro menggeleng. "Temuilah ayah kandung Leon."
"Tidak! Leon itu anakmu! Kamu ayahnya!" bantah Prilly.
"Aku tidak akan meladenimu lagi, Prilly. Kalau mau bercerai baik-baik, temui pengacaraku besok. Tapi, kalau kamu masih saja keras kepala seperti ini, bukti-bukti yang ada di hadapanmu saat ini akan tersebar di berbagai media." Alvaro kembali memperingatkan.
__ADS_1
Prilly tertawa seperti orang gila. Ia rasanya ingin menjadi benar-benar gila. Tidak ia sangka kehidupannya yang nyaman akan segera hilang. Ia tidak akan pernah rela.