Papaku Seorang CEO

Papaku Seorang CEO
Bab 11: Saudara Kejam


__ADS_3

Hari ini jadwal kontrol Gavin ke rumah sakit. Setelah kembali dari luar negeri, Flora mengganti dengan dokter lokal yang menurut beberapa kenalannya dianggap baik. Mereka duduk menunggu giliran di depan ruang periksa bersama pasien lainnya.


"Ma, sampai kapan sih Gavin harus bolak-balik ke rumah sakit? Kayaknya Gavin sehat-sehat saja, kok!" tanya Gavin.


Flora mengulaskan senyum mendengar pertanyaan putranya. Ia paham jika anaknya pasti sangat bosan setiap hari harus minum obat dan dua bulan sekali harus datang ke rumah sakit menemui dokter untuk mengecek kondisi kesehatannya.


"Dokter kan sudah bilang kalau Gavin harus patuh dengan dokter. Rajin minum obat, makan bergizi, olahraga, istirahat cukup, supaya kamu tetap sehat!" kata Flora.


Wajah Gavin terlihat sedikit muram. "Aku memang bakalan mau mati ya, Ma? Berapa lama lagi aku akan mati?" ucapnya dengan polos.


Beberapa orang yang mendengar bahkan mengarahkan pandangan kepada mereka. Flora tersenyum kikuk dan berusaha menenangkan anaknya.


"Sayang, kamu tidak boleh bicara seperti itu." Flora berbicara dengan nada lirih sembari memeluk Gavin.


"Dokter dulu bilang Gavin nggak bisa hidup lama," kilah Gavin.


"Itu kan kata dokter, bukan kata Tuhan. Asal Gavin semangat, rajin minum obat, pasti sembuh, kok!" Flora terus membesarkan hati putranya.


"Gavin mau punya Papa, Ma ... Kayak Om Alvaro," rengek Gavin. Ia bergelayut manja memeluk ibunya.


Flora terlihat bimbang. Ingin rasanya ia mengatakan bahwa memang benar Alvaro adalah anak Gavin. Namun, ia tidak mau menjadi penghancur keluarga orang lain hanya demi kepentingan dirinya sendiri dan Gavin.


"Kamu suka Om Alvaro?" tanya Flora.


"Iya, Ma. Gavin sangat suka. Dia mau Gavin panggil Papa. Dia juga ganteng, Ma," mata Gavin terlihat berbinar ketika membahas tentang Alvaro.


Flora mengusap lembut kepala putranya. Ia akan berusaha mendapatkan apa yang seharusnya Gavin dapatkan.


"Nanti Mama sampaikan sama Om Alvaro kalau Gavin mau ketemu."


"Benar ya, Ma! Gavin mau ketemu Papa Alvaro!" seru Gavin semangat.


Lagi-lagi mereka menarik perhatian orang-orang sekitar. Flora hanya bisa tersenyum kepada mereka karena merasa tidak enak hati sudah membuat sedikit kegaduhan.

__ADS_1


"Anak Gavin!"


Terdengar suara panggilan dari depan ruang periksa. Giliran Gavin telah tiba. Flora mengajak putranya masuk ke dalam tuang pemeriksaan. Di sana sudah ada Dokter Gilang, seorang dokter spesialis hematologi.


"Halo, jagoan ... Kita ketemu lagi. Apa kabar?"


Seperti biasa, Dokter Gilang menyambut kehadiran Gavin dengan semangat. Ia menyodorkan kepalan tangannya untuk tos dengan tangan mungil Gavin.


"Aku baik, Om Dokter," jawab Gavin.


"Bagus sekali! Pokoknya, jaga terus kesehatannya, ya! Tidak boleh terlalu capek! Kalau main jangan lama-lama," nasihat dokter.


"Iya, Om Dokter. Gavin di sekolah jadi anak baik kok, banyak diam," kata Gavin dengan polosnya.


Dokter Gilang tersenyum. "Sekarang. Kamu ikut kakak perawat untuk diperiksa sebentar, ya!"


Gavin mengangguk. Tanpa diminta, ia sudah tahu untuk ikut perawat ke ruangan khusus yang ada di sebelah ruangan itu. Sementara, dokter dan Flora masih menunggu di ruangan yang sama.


"Bagaimana dengan Gavin, Dok?" tanya Flora cemas.


Flora sedikit lega mendengarkan penjelasan yang dokter berikan.


"Asalkan dia rajin minum obat dan rutin periksa darah, saya rasa masih aman. Juga pastikan agar dia tidak terlalu banyak aktivitas atau kelelahan."


"Iya, Dok. Saya juga sudah berkoordinasi dengan pihak sekolah menyampaikan kondisi Gavin. Mereka bisa diajak bekerjasama. Saya juga setiap hari mengingatkan Gavin untuk menjaga diri dan tidak terlalu lelah."


"Sebenarnya hal yang paling dikhawatirkan kalau Gavin tertular sakit dari orang lain atau mengalami luka. Kekebalan tubuhnya kan kurang baik, jadi rentan terkena infeksi dan pendarahan."


Flora tertunduk memikirkan putranya. Selain harus mengkonsumsi obat, setiap bulan memang Gavin juga perlu mendapatkan transfusi darah serta terapi imunosupresif.


"Jadi, bagaimana? Sejauh ini kamu belum memanggil anggota keluarga yang lain untuk kecocokan sumsum tulang belakang," tanya dokter.


"Saya serahkan saja kepada dokter, menunggu adanya donor dari bank donor sumsum tulang belakang Internasional," ujar Flora.

__ADS_1


Dokter Gilang terlihat menghela napas. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi. Sepertinya ia agak kecewa. "Apa salahnya mencari dari orang-orang yang dekat dulu? Semakin cepat, semakin baik. Kalau tidak tertangami secara cepat, takutnya akan ada komplikasi."


"Iya, Dokter. Saya mengerti. Saya akan mengusahakannya," kata Flora.


Sebenarnya dalam hati ia sedang risau memikirkan cara menghubungi Alvaro. Ia berharap ayah kandung putranya itu memiliki kecocokan sumsum tulang belakang dengan putranya.


"Kita harus sama-sama berusaha, Ibu Flora. Semua demi Gavin," kata Dokter.


"Iya, Dokter. Saya mengerti."


***


Selesai proses pemeriksaan, Flora menggendong Gavin yang terlihat lemas setelah mendapatkan terapinya. Anak itu merasakan kesakitan sehingga ingin bermanja.


Flora menunggu taksi yang sudah dipesannya lewat aplikasi.


"Flora, kamu ada di sini!"


Sebuah suara yang sangat familiar terdengar menyapa. Dengan cemas Flora menoleh ke arah suara itu. Benar saja, dia Samantha, kakak kandungnya. Wanita itu adalah salah satu orang yang sangat tidak ingin ia temui. Flora masih tidak bisa melupakan tentang malam itu dimana kakaknya sendiri dengan tega berusaha menjualnya kepada seorang lelaki paruh baya.


"Oh, ya Tuhan, aku mencarimu kemana-mana, Flora! Kamu tidak tahu betapa kakakmu ini sangat mencemaskanmu!" Samantha sangat girang bertemu dengan adiknya.


"Tolong jangan ganggu aku!" kata Flora dengan dingin. Ia bahkan tak mau menatap wajah kakaknya.


"Hais! Kamu masih marah sama kakak?" tanya Samantha.


"Mama, dia siapa?" tanya Gavin ingin tahu.


"Dia bukan siapa-siapa," jawab Flora.


Samantha mengembangkan senyum. "Apa ini anakmu gara-gara malam itu? Dia anak Tuan Roman, ya?" wajahnya terlihat bahagia.


"Apa sih yang kamu bicarakan! Aku tidak ada waktu basa-basi denganmu!"

__ADS_1


Flora memilih menghindar. Ia buru-buru membawa Gavin pergi dan menaiki taksi yang sudah dipesannya. Ia tahu bahwa berurusan dengan kakaknya hanya akan membuatnya kesulitan. Apalagi Samantha sudah mengetahui keberadaan Gavin.


__ADS_2