Papaku Seorang CEO

Papaku Seorang CEO
Bab 19: Anak Flora


__ADS_3

"Jadi, ada urusan apa kamu datang ke kantorku?" tanya Alvaro dengan nada ketusnya.


Ia sama sekali tidak suka jika Prilly bertingkah di luar batas. Ada perjanjian di antara mereka bahwa Prilly tidak boleh mencampuri urusannya, begitu pula sebaiknya. Ia hanya setuju untuk menikah karena desakan keluarga, tapi dia tidak mau menjadi suami bagi Prilly.


"Sayang, semalam kamu dimana? Leonard demam, dia mencarimu," ucap Prilly dengan raut wajah memelas. Ia menampilkan kesedihan agar Alvaro kasihan padanya.


"Kalau dia demam, bawa ke rumah sakit atau panggil dokter keluarga," jawab Alvaro.


"Memangnya kamu tidak tahu seperti apa anak kita? Dia itu sangat manja, maunya kamu yang merayunya," rengek Prilly.


Gavin memegangi tangan ibunya. Ia hanya bisa memandangi lelaki yang biasa ia sebut papa sedang bersama wanita lain. Ia merasa sedih, ia berharap mamanya yang ada di dekat sang papa.


Sementara, Flora membuang pandangannya. Ia kesal luar biasa dengan ucapan Prilly tentang putranya. Apalagi wanita itu berlagak sok suci dan tidak bersalah.


"Baiklah, bawa dulu Leo ke dokter. Katakan kalau hari ini aku akan pulang cepat," kata Alvaro.


Prilly mengembangkan senyuman lebar. Ia merasa sangat senang. "Baiklah, Sayang. Kami akan menunggumu pulang," ucapnya seraya memberikan ciuman kepada Alvaro secara spontan sebelum ia pergi keluar dari ruangan itu.


Suasana menjadi kikuk.


"Flora," panggil Alvaro.


"Iya, Pak?"


"Kenapa Gavin ada di sini?" tanya Alvaro.


"Saya minta maaf, Pak. Sekolah Gavin sedsng libur, saya tidak tahu mau menitipkannya di mana. Jadi saya ajak dia ke kantor."


"Tapi, nanti kita ada meeting. Pagi ini kan jadwalnya?"

__ADS_1


"Benar, Pak. Tidak perlu khawatir, Gavin anak yang pintar. Dia bisa menunggu di sini dengan tenang asal ada mainan dan makanan. Saya sudah menyiapkan semuanya."


Flora menunjukkan sudut untuk bersantai bagi Gavin beserta segala jenis bekal yang dibawa dari rumah.


Alvaro masih ragu. Ia khawatir Gavin akan membuat kekacauan di kantor. Ia lantas mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.


"Datang ke ruanganku sekarang juga!" perintahnya.


Flora terkejut mendengar perkataan Alvaro. "Pak, Anda mau mengusir Gavin dari sini? Saya bisa menjamin dia tidak akan mengganggu," katanya dengan khawatir. Ia takut Alvaro memanggil petugas keamanan untuk membawa anaknya pergi.


"Kamu tenang saja, aku hanya akan mencarikannya teman selama kita meeting," jawab Alvaro.


Tak berselang lama, seorang karyawan lelaki yang masih muda masuk ke ruangan tersebut. Namanya Rion, anak magang dari divisi pemasaran.


"Ada apa Bapak memanggil saya?" tanya Rion penasaran. Ia terlihat takut akan dimarahi karena mungkin sudah membuat kesalahan yang tidak disadarinya.


"Pagi ini aku dan Flora ada meeting sekitar dua jam. Kamu tolong temani anak ini di sini," pinta Alvaro.


Baru sekali ini ia melihat anak itu di sana. Ia yakin itu bukan putra Alvaro karena berbeda dengan gambar di foto. Apalagi Alvaro terkenal tidak menyukai anak kecil, seharusnya tidak ada karyawan yang berani membawa anaknya ke dalam kantor.


"Dia anakku, Rion," sahut Flora. Ia tidak ingin lagi menutupi keberadaan anaknya kepada siapapun. Memiliki Gavin adalah kebahagiaan baginya, bukan suatu aib yang harus disembunyikan.


"Hah? Ibu Flora sudah punya anak?" Rion tertegun. Pegawai baru yang ditaksirnya itu ternyata sudah punya anak. Padahal ia berharap bisa dekat dengan Flora. Harapannya pupus mengetahui fakta itu.


"Jadi bagaimana, kamu bisa menjaganya, kan?" tanya Alvaro memastikan.


"Iya, Pak. Saya akan menjaga anak ini dengan baik," jawab Rion kikuk.


"Flora, materi untuk rapat pagi ini sudah siap, kan? Lebih baik kita ke ruang pertemuan lebih awal untuk mempersiapkan semuanya!" pinta Alvaro.

__ADS_1


"Baik, Pak. Semuanya sudah saya persiapkan!" jawab Flora mantap. "Sayang, kamu jadi anak baik di sini, ya! Mama mau kerja dulu," bisiknya kepada Gavin.


Ia meraih tas kerja dan membawa beberapa dokumen mengikuti Alvaro keluar dari ruangan itu.


Alvaro berjalan dengan langkah cepat sampai Flora harus setengah berlari untuk mengimbangi langkahnya.


"Lain kali jangan berurusan dengan Prilly!" perintah Alvaro.


Flora merasa heran kenapa jadi dia yang dimarahi. "Anda tenang saja, Pak. Saya tidak akan mengatakan kalau Gavin sebenarnya putra Anda. Dia hanya anak saya," ucapnya dengan kesal.


"Siapa yang mempermasalahkan itu? Gavin tetap putraku. Aku hanya tidak ingin kamu dan Gavin mendapat masalah karena dia."


"Kalau begitu, seharusnya Anda yang mengajari istri Anda supaya bersikap sopan!" tepis Flora dengan beraninya.


Alvaro menghentikan langkah. Ia menatap tajam ke arah Flora. Namun, wanita itu juga turut menatapnya dengan berani.


"Coba bayangkan rasanya mendengar putra Anda disebut sebagai anak haram? Apa Bapak tidak sakit hati?" ujar Flora.


Alvaro menghela napas. Apa yang Flora katakan ada benarnya, mana mungkin wanita itu akan diam saja saat anaknya dihina. Ia hanya khawatir Prilly akan menyakiti mereka.


"Ya sudah, lah! Lebih baik kita fokus dulu dengan rapat nanti. Apalagi besok kita juga perlu ke luar kota untuk peninjauan proyek lagi. Ayo kita masuk ke dalam!" ajak Alvaro.


Mereka memasuki ruang rapat yang masih kosong. Alvaro ingin semuanya siap sebelum rapat dimulai.


"Apa saya harus ikut peninjauan proyek besok, Pak? Bukankah bisa digantikan oleh kepala bagian?" tanya Flora.


"Kamu ini bagaimana? Kamu kan sekertarisku, masa tidak ikut?" Alvaro menatap wanita itu dengan heran.


"Bukan begitu, Pak. Bagaimana dengan Gavin. Saya tidak tahu harus menitipkan pada siapa. Tidak mungkin juga kalau saya mengajaknya," ujar Flora dengan cemas. Ia takut Samantha kembali menculik putranya.

__ADS_1


Alvaro ikut bingung. Ia memikirkan cara terbaik agar Flora tetap bisa ikut perjalanan bisnis tanpa khawatir untuk meninggalkan Gavin.


"Itu urusanku, kamu tenang saja. Gavin akan aku tangani," kata Alvaro dengan entengnya.


__ADS_2