
Alvaro berdiri sembari melipat tangannya di dada. Sorot matanya penuh kemarahan. Ia sangat kecewa dengan apa yang baru saja terjadi. Fasilitas di resort baru itu membuat sekertarisnya hampir celaka.
Pak Bowo yang bertanggung jawab atas semua kejadian itu hanya bisa tertunduk pasrah.
"Aku curiga ada korupsi dalam proyek resort kali ini. Jangan harap kalian bisa selamat! Aku sudah membentuk tim untuk menyelidikinya," kata Alvaro.
"Maafkan, Pak. Saya juga akan melakukan evaluasi ulang," jawab Pak Bowo.
"Kerjamu apa selama ini? Berani sekali memberikan fasilitas buruk untuk pengunjung. Kalau sampai terjadi apa-apa dengan sekertarisku, aku akan menuntutmu!"
"Pak Alvaro, silakan masuk ke dalam."
Seorang dokter muncul dari balik pintu pemeriksaan. Di dalam ada Flora. Ia meninggalkan mereka dan ikut masuk bersama dokter ke dalam untuk melihat kondisi Flora.
"Bagaimana kondisinya, Dok?" tanya Alvaro.
"Ibu Flora baik-baik saja. Kakinya terkilir saja, tapi mungkin butuh waktu satu dua minggu untuk sembuh. Dalam masa penyembuhan lebih baik tidak terlalu banyak gerak."
"Bagaimana dengan kepalanya? Apa dia gegar otak?" tanya Alvaro khawatir.
Dokter tertawa kecil. "Tidak, Pak. Kepalanya baik-baik saja, hanya luka luar."
"Baik, Dok. Terima kasih," ucap Alvaro.
"Kalau begitu, saya permisi dulu," pamit dokter tersebut bersama perawat yang membantunya.
Alvaro berjalan mendekat ke arah ranjang Flora. Matanya menatap sendu melihat wanita itu dengan kepala dililit perban dan kaki yang terpasang alat penyangga kaki.
"Maafkan saya, Pak. Pekerjaan kita jadi tertunda," ucap Flora.
Alvaro memukul kepala Flora.
__ADS_1
"Aduh! Kenapa saya dipukul?" protes Flora sembari mengusap kepalanya.
"Kamu ini bodoh atau bagaimana? Sudah tahu bahaya malah sok mau menolong orang. Memangnya kamu pikir aku tidak bisa melindungi diriku sendiri?" gerutu Alvaro.
Flora sampai ternganga mendengar omelan atasannya. Ia kira akan diberi penghargaan karena telah berhasil menyelamatkan aset perusahaan yang sangat berharga. Sebaliknya, ia malah dimarahi habis-habisan.
"Gara-gara kondisimu seperti ini jadwalku jadi berantakan!" bentak Alvaro. "Lain kali tidak usah sok pahlawan! Pikirkan dirimu sendiri!"
Flora menghela napas. Ia menahan diri agar tidak mengatakan kata-kata yang tidak pantas. Alvaro memang manusia kejam yang tidak punya belas kasihan.
Baru sebentar ia merasa bahwa Alvaro punya sisi yang baik. Saat lelaki itu menggendongnya, ia seperti melihat ketulusan. Kenyataannya, sisi kejam itu tetap menjadi wataknya.
"Iya, Pak. Maafkan saya," ucap Flora.
"Kamu akan dirawat di sini sampai sembuh. Selama itu, aku bebaskan kamu dari pekerjaan," kata Alvaro.
Flora terkejut dengan keputusan Flora. "Maaf, Pak! Saya baik-baik saja. Saya mau pulang," pintanya.
"Saya rawat jalan saja, Pak," pinta Flora.
"Tidak! Pokoknya kamu harus dirawat di sini sampai sembuh. Ini bukan aku baik padamu, tapi demi kepentingan perusahaan. Kasihan tim HRD kalau harus cari sekertaris pengganti lagi."
Flora meledeknya dalam diam. Ia sudah tahu bahwa selama atasannya itu memimpin, sudah berkali-kali meminta ganti sekertaris. Dia adalah sekertaris ke-30 yang akhirnya terpilih untuk mendampingi CEO keras kepala itu.
"Terima kasih atas niat baik Anda. Tapi, saya tidak bisa tinggal di rumah sakit. Anda pasti tidak lupa kalau saya sudah memiliki seorang anak. Dia tidak punya siapa-siapa selain saya."
Alasan yang Flora berikan membuat Alvaro sedikit melembek. Ia tiba-tiba ikut memikirkan anak itu. Mata Gavin yang terlihat jernih seperti pernah ia lihat sebelumnya.
"Jadi, bagaimana, Pak? Saya boleh pulang, kan? Sebentar lagi waktunya Gavin pulang dari sekolah. Saya harus menjemputnya," kata Flora dengan penuh harap.
"Baiklah kalau begitu, biar aku yang mengantarmu pulang!" kata Alvaro.
__ADS_1
"Eh, eh, Anda mau apa?" Flora kaget saat Alvaro ingin menyentuh tubuhnya.
"Kamu masih kesulitan jalan, kan? Aku mau menggendongmu seperti tadi," kata Alvaro dengan polosnya.
"Jangan, Pak! Saya tidak mau! Itu memalukan!" tolak Flora.
"Apa?" Alvaro agak tersinggung mendengar penolakan itu. "Aku juga tadi yang susah payah membawamu sampai di sini, kamu bilang itu memalukan?" protesnya.
"Aduh, Pak! Maksud saya bukan seperti itu. Tadi kan darurat. Tapi, masa sekarang Anda mau mengulangnya lagi? Nanti bisa jadi gosip dikira ada hubungan yang tidak-tidak di antara kita. Apalagi Anda juga sudah menikah," ujar Flora.
Alvaro berpikir sejenak. Ia memang tidak sejauh itu membayangkannya.
"Tolong ambilkan saja tongkat di sebelah sana, Pak. Saya masih bisa berjalan," kata Flora dengan tegas, sembari menunjuk ke tongkat yang terletak di sebelahnya.
Alvaro menuruti permintaan Flora. Ia mengambil tongkat tersebut dan memberikannya pada Flora dengan lembut. Lalu, Alvaro memegang lengan Flora saat mereka berdiri dan memulai perjalanan menuju pintu.
Mereka berdua melangkah perlahan, Flora yang mengandalkan tongkat bantu jalan untuk mendukung langkahnya, dan Alvaro yang membantunya dengan penuh kehati-hatian. Ketika mereka keluar dari ruangan, mereka melihat banyak orang yang menunggu di luar. Ekspresi simpati dan kasihan terlihat di wajah mereka ketika melihat kondisi Flora akibat kecelakaan kerja yang baru saja terjadi.
Alvaro dengan tegas memberi instruksi kepada orang-orang yang menunggu. "Kalian langsung pulang ke perusahaan. Aku yang akan mengantarkan Flora pulang, lalu menyusul kalian di kantor. Jangan pulang dulu," ucapnya dengan suara tegas namun penuh perhatian.
Talia, salah satu staf yang ikut hadir di sana, langsung menyuarakan kekhawatirannya, "Bagaimana kondisi Ibu Flora? Apa kakinya baik-baik saja?"
Flora mengembangkan senyuman yang lemah, mencoba menenangkan orang-orang di sekitarnya. "Aku baik-baik saja, tidak perlu terlalu khawatir. Ini hanya terkilir," jawabnya dengan suara lembut, mencoba meredakan kekhawatiran mereka.
"Ya sudah, aku dan Flora duluan. Ingat, kalian kembali ke kantor!" perintah Alvaro dengan tegas.
"Baik, Pak," jawab mereka serempak, patuh terhadap perintah bos mereka.
Flora berjalan dengan langkah pelan, bergantung pada tongkat bantu jalan yang menjadi sahabatnya sementara. Alvaro berjalan di sampingnya, dengan penuh kewaspadaan dan kehati-hatian agar tidak terjadi kejadian yang tak diinginkan.
Ketika mereka tiba di mobil, Alvaro membantu Flora masuk dengan hati-hati. Tongkat bantu jalan diletakkan di kursi belakang dengan penuh perhatian. Alvaro kemudian membantu Flora memasang sabuk pengaman, dan dalam saat-saat seperti itu, ada getaran yang tak terungkap yang Flora rasakan ketika Alvaro mendekatkan tubuhnya.
__ADS_1
Momen singkat itu terasa seperti jeda di antara keadaan yang penuh tekanan. Flora merasakan denyutan jantungnya meningkat saat Alvaro dengan lembut mengamankan sabuk pengaman di sekitar tubuhnya. Pandangan mereka bertemu sesaat, dan dalam tatapan itu, ada perasaan yang tak terucapkan di antara mereka. Flora dan Alvaro merasakan sesuatu yang aneh namun segera menepisnya.