Papaku Seorang CEO

Papaku Seorang CEO
Bab 32: Butuh Tidur dan Istirahat


__ADS_3

"Apa urusannya sudah selesai?" tanya Flora.


Ia dan Alvaro kini duduk di sofa ruang tengah. Ruang perawatan Gavin sengaja Alvaro pesankan yang paling luas agar lebih leluasa. Mereka berbincang-bincang saat Gavin masih terlelap di ranjang perawatannya.


Di depan pintu, dua bodyguard Alvaro tengah berjaga. Ia sudah mengingatkan kepada mereka agar melarang siapapun masuk selain tenaga medis yang menangani putranya. Sekalipun itu ibunya sendiri, ia tidak mau ada yang mengganggu keluarga kecilnya.


"Apa kamu khawatir? Semua urusan di tanganku pasti akan beres," ucap Alvaro dengan penuh percaya diri.


Ia menatap wajah wanita yang masih tampak cemas itu. Rasanya masih tidak bisa dipercaya, wanita cantik cinta pertamanya akhirnya bisa menjadi istrinya.


"Ini sudah larut malam. Gavin juga sudah tidur, jadi kalau Bapak mau pulang dan beristirahat juga tidak apa-apa. Saya juga mau tidur," ucap Flora yang merasa kehabisan pembahasan.


Entah mengapa perasaannya menjadi gugup dan canggung berhadapan dengan Alvaro. Padahal, sebelumnya, ia sudah biasa bekerja dengan lelaki itu.


"Oh. Tentu saja. Kamu memang butuh istirahat dan tidur," jawab Alvaro.


"Ayo!" ajak Alvaro. Tangannya meraih tangan Flora.


"Hah? Ayo?" Flora tertegun tak paham mengapa lekaki itu malah meraih tangannya seakan ingin mengajak pergi.


"Iya, ayo, kamu butuh tempat yang nyaman untuk istirahat. Aku akan mengantarmu," kata Alvaro menjelaskan.

__ADS_1


Flora melebarkan matanya. "Saya mau tetap di sini menjaga Gavin. Bapak saja yang pergi," tolaknya dengan halus.


"Sudahlah, ada banyak orang yang akan menjaga Gavin di sini. Aku juga sudah memanggil Lita ke sini, dia ada di depan!" jawab Alvaro. Ia menarik tangan Flora agar ikut bersamanya.


Mengetahui Alvaro hendak membawanya pergi dari sana, Flora berusaha memberontak. Ia tidak mau meninggalkan Gavin dan mengikuti lelaki itu.


"Pak, lepaskan! Saya masih mau tetap di sini!" pinta Flora sembari sesekali menoleh ke belakang melihat putranya yang masih tertidur.


"Kamu itu perlu istirahat, Flora. Biarkan yang lain gantian menjaga Gavin untuk kita," jawab Alvaro dengan bijak. Ia memberi kode kepada anak buahnya agar menjaga putranya dengan baik.


Flora yang terus berusaha melepaskan diri dari Alvaro tetap gagal. Lelaki itu menggenggam tangannya begitu erat. Bahkan dengan santainya, alvaro merapatkan tubuh memeluk pinggangnya dengan posesif.


"Pak, aku tidak mau meninggalkan Gavin," rengek Flora. Ia harap Alvaro akan kasihan dengan nada suaranya yang memelas.


"Hah? Kok dipecat? Katanya pengajuan cuti untuk merawat Gavin sudah disetujui?" protes Flora. Ia merasa keputusan Alvaro sangat tidak adil. Ia terpaksa cuti karena anaknya sakit, bukan karena malas bekerja.


"Setelah menikah, memangnya masih perlu bekerja? Aku yang akan menafkahimu," kata Alvaro dengan bangganya.


Ia membukakan pintu mobil, meminta Flora masuk ke dalam. Terpaksa Flora menurut dengan paksaan yang lelaki itu lakukan. Ia sendiri tak tahu kemana lelaki itu akan membawanya.


"Aku benar-benar tidak bisa meninggalkan Gavin," keluh Flora saat Alvaro memasangkan sabuk pengaman di badannya.

__ADS_1


Agaknya lelaki itu tak mendengarkan protes Flora. Alvaro tetap menghidupkan mesin mobilnya dan mengemudikan mobilnya keluar dari kawasan rumah sakit.


"Kamu tenanglah, Gavin akan baik-baik saja. Sekalipun terjadi sesuatu, Lita akan mengabari kita," kata Alvaro menenangkan.


Mobil itu bergerak melaju ke arah bangunan tinggi yang tak terlalu jauh dari rumah sakit. Di depan dua menara kembar, apartemen mewah di pusat kota, Alvaro menghentikan mobilnya.


Lelaki itu membukakan pintu mobil untuk Flora, lalu mengulurkan tangan kepada wanita itu.


"Mau apa kita ke sini?" tanya Flora lagi.


Alvaro menggandeng erat tangan Flora, mengajaknya berjalan masuk ke area apartemen mewah itu. Seorang satpam membukakan pintu kaca saat mereka masuk ke area lobi seraya menyapa.


"Aku kan sudah bilang, kamu butuh istirahat. Malam ini aku akan menemanimu tidur," kata Alvaro dengan gamblang. Ia mengajak Flora menaiki private lift menuju unitnya.


Flora tercengang mendengarnya. Ia sampai tidak bisa mengatakan apa-apa untuk membalas ucapannya. Perasaannya menjadi semakin gugup, berpikir semua hal yang aneh-aneh akan terjadi di sana.


Pikirannya tidak bisa tenang sepanjang perjalanan menuju ke unit apartemen milik Alvaro. Ingin rasanya ia kabur dan bersembunyi dari lelaki itu.


"Em, aku rasa ini terlalu terburu-buru. Sepertinya aku belum siap," kata Flora.


Alvaro menyunggingkan senyum. "Aku akan membuatmu siap," katanya.

__ADS_1


Pintu lift yang membawa mereka ke atas akhirnya terbuka. Saat mereka keluar, sudah langsung sampai di unit apartemen milik Alvaro. Tentu saja apartemen yang tampak mewah dan besar melebihi ukuran perumahan yang biasa Flora tempati.


__ADS_2