
Flora tengah memandangi putranya lewat jendela kaca yang mengarah pada sebuah ruangan steril di dalamnya. Ia menggigit kukunya, merasa cemas membiarkan anak kecil itu masuk ruangan sendirian untuk mendapatkan pengobatan. Di dalam sana, Gavin tengah diberikan obat yang disalurkan lewat selang infus di tangan.
Flora terus berusaha mengatur napas agar bisa menenangkan diri. Melihat cara pengobatan yang diberikan kepada putranya turut membuatnya tersiksa. Apalagi ini kali pertama ia membiarkan putranya tanpa pendampingan karena dilarang dokter. Untung saja Gavin anak yang berani dan penurut.
"Bagaimana kondisi Gavin?"
Tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara. Alvaro telah datang dengan masih mengenakan seragam kerjanya.
"Sejak pagi Gavin muntah-muntah terus. Sekarang dia sedang di terapi," jawab Flora dengan raut wajahnya yang masih terlihat lesu.
Alvaro turut mengarahkan pandangan ke dalam ruangan. Tampak Gavin tengah berada di dalam bersama dokter dan perawat. Sudah lebih dari dua minggu Gavin dirawat di sana dan belum diperbolehkan pulang karena kondisinya yang belum stabil.
"Jadi, bagaimana keputusanmu?" tanya Alvaro.
"Keputusan apa?" Flora terlihat kurang paham dengan maksud Alvaro.
"Mau tidak kamu menikah denganku?" Alvaro berkata dengan lugas.
Flora kembali menghela napas. Memikirkan kondisi anaknya sampai membuat ia lupa dengan tawaran lelaki itu. Baginya, tidak ada yang penting selain putranya di dunia ini.
"Apa tidak terlalu cepat? Kamu baru saja bercerai dengan istrimu. Sekarang, kamu mau menikahiku?" tanya Flora. Ia sungguh merasa tak enak hati dengan perceraian yang Alvaro alami. Ia seperti seorang pelakor yang berhasil merampas suami orang.
"Apa itu masalah? Atau kamu masih bisa bersabar dengan kondisi Gavin seperti ini? Mau menunggu kabar dari lembaga donor sumsum tulang belakang?"
Alvaro sangat menyayangi Gavin. Ia selalu mengkhawatirkan kesehatan anak yang sekian lama baru bisa temui itu. Selain karena dia memang mencintai Flora, dia juga ingin melihat kesembuhan Gavin.
Flora sendiri masih belum yakin. Tentu saja ia menginginkan kesembuhan Gavin. Namun, rasanya aneh ketika ia harus menikah dengan lelaki yang pernah menghamilinya demi kembali hamil.
"Kok diam? Kamu saking bencinya padaku sampai tidak mau menikah denganku?" tanya Alvaro. Ia heran pertanyaannya tak segera dijawab.
Flora ingin rasanya memukul lelaki di sampingnya. Kalau mengingat masa lalu, tentu saja ia kesal dan benci maksimal kepada lelaki yang selalu mengejek dan menghinanya itu. Meskipun Alvaro mengatakan itu dilakukan untuk menarik perhatiannya, tetap saja apa yang lelaki itu lakukan sudah menorehkan trauma di dalam dirinya.
__ADS_1
"Ayolah, aku tidak semenyebalkan itu. Aku bisa jadi suami yang baik untukmu dan juga ayah yang baik untuk Gavin," bujuk Alvaro.
Flora menoleh dan mengangkat sebelah alisnya. "Oh, iya? Apa ada jaminannya?"
Alvaro merasa tertantang untuk membuktikan perasaannya. Ia bergerak maju hingga membuat Flora terkejut dan terpaksa mundur sampai punggungnya membentur dinding.
Alvaro memojokkannya dengan kedua tangan. Ia mengulaskan senyum penuh arti sambil memandanti wanita di hadapannya. "Setelah menikah, kamu akan tahu betapa tergila-gilanya aku padamu," ucapnya dengan yakin.
Flora mematung di tempatnya. Lelaki itu cukup mengerikan dari responnya. "Baiklah, coba nanti kita tanyakan pada Gavin sendiri. Apa dia memang mau punya ayah sepertimu."
Alvaro tersenyum lebar." Aku yakin anakku oasti akan langsung setuju." ia sangat merasa percaya diri.
"Ibu Flora ...."
Terdengar suara panggilan dari arah pintu ruangan. Alvaro dan Flora menghentikan pembicaraan mereka saat perawat memanggil. Flora menyingkirkan tangan Alvaro dan berjalan mendekat ke arah perawat.
"Anak Gavin sudah selesai menjalani terapi, boleh dipindahkan kembali ke kamarnya. Mau Ibu Flora sendiri yang mendorong atau saya saja?" tanya sang perawat.
"Oh, biar saya saja," kata Flora.
"Yeay, ada Papa!" serunya girang.
Gavin memang selalu semangat setiap kali Alvaro datang. Meskipun ia sangat menyayangi ibunya, Gavin sangat suka dengan Alvaro.
Alvaro berlutut di hadapan Gavin, memandangi wajah anaknya yang pucat meskipun tetap tersenyum kepadanya.
"Jagoan Papa hebat sekali, berani masuk ke dalam sendiri," pujinya.
Gavin tersenyum lebar. "Iya, Papa. Gavin mau sembuh supaya bisa jalan-jalan sama Mama Papa. Gavin tidak takut disuntik!" anak itu berbicara dengan semangat seolah tak merasakan sakit.
"Kalau nanti Gavin merasa mual atau muntah, tolong hubungi perawat. Saya permisi dulu," ucap perawat yang tadi menangani Gavin. Ia kembali masuk ke dalam ruangan untuk melayani pasien lain.
__ADS_1
"Ayo, Sayang, kita kembali ke kamarmu," ajak Alvaro. Ia kembali berdiri dan beralih ke belakang kursi roda Gavin lalu mendorongnya. Flora mengikuti di samping Gavin.
Sesampainya di ruang perawatan, dengan hati-hati ia pindahkan Gavin ke atas ranjang. Flora membantu memegang botol infus yang terhubung pada tangan Gavin.
"Papa ... Apa Papa masih sibuk bekerja? Apa Papa tidak bisa menemaniku di sini kalau malam? Kasihan Mama sendirian, dia pasti kelelahan karena kurang tidur," ucap Gavin dengan polosnya.
"Gavin, Mama tidak lelah menjagamu, jangan khawatir," timpal Flora. Ia merasa tidak enak hati selalu merepotkan Alvaro.
"Atau mungkin Tante Prilly dan Leon akan marah ya, kalau Papa sering di sini," kata Gavin dengan raut wajah cemberut.
Alvaro dan flora saling bertatapan.
Alvaro kembali mendekat, duduk di samping ranjang Gavin sembari memegangi tangan anak itu. "Sayang, boleh Papa bicara padamu? Ini penting sekali," ucapnya.
Gavin mengerutkan kening. "Apa itu, Papa?" tanyanya.
"Boleh tidak kalau Papa menikahi mamamu?" tanya Alvaro.
Flora langsung tercengang dan melebarkan matanya. Ia tidak menyangka lelaki itu akan secepat itu mengatakan pada putranya. Padahal, ia sudah meminta waktu.
"Kalau Papa menikah dengan Mamamu, nanti Papa bisa sering bersama Gavin. Kita juga bisa tinggal bersama," bujuk Alvaro dengan kata-kata yang sangat halus.
"Tapi, nanti Leon pasti marah lagi. Tante Prilly bisa jahat sama Mama," ucap Gavin khawatir.
Alvaro mengulaskan senyum. "Mereka sudah pergi dari rumah Papa karena di sana bukan tempat mereka, Gavin. Papa hanya ingin tinggal bersama kamu dan mama kamu. Jadi, apa Gavin mau kalau Papa benar-benar jadi Papanya Gavin?" tanyanya memastikan.
Gavin menoleh ke arah Flora, menatap ibunya dengan penuh harap. "Gavin mau sekali punya Papa. Tapi, itu kalau Mama setuju. Sepertinya Mama tidak suka dengan Papa," ucapnya lugas.
Flora sampai menghela napas dan memegangi dahinya. Ia merasa terdesak untuk menuruti kedua orang yang sangat mirip sifatnya itu.
"Kamu dengar sendiri kan, Gavin tidak keberatan kalau kita bersama," kata Alvaro.
__ADS_1
"Mama, ayo jawab ... Kalau Mama tidak mau juga tidak apa-apa," desak Gavin sambil cemberut.
"Iya, Sayang, iya ... Mama mau kok menikah dengan Papamu," jawab Flora setengah terpaksa.