Papaku Seorang CEO

Papaku Seorang CEO
Bab 27: Tangisan Leon


__ADS_3

"Ma, kenapa barang-barang kita dibereskan? Kita mau kemana?" tanya Leon.


Hari ini anak itu terlihat kebingungan melihat kesibukan tak biasa yang dilakukan oleh ibunya beserta beberapa orang pelayan. Seluruh barang-barang yang ada di kamarnya dan di kamar ibunya tiba-tiba dikemasi lalu dibawa ke bawah.


"Sayang, hari ini kita akan pergi dari rumah ini! Semua karena anak nakal itu!" kata Prilly dengan emosi.


Ia berbicara sembari membereskan perhiasannya. Segala cara yang sudah ia lakukan tak membuahkan hasil untuk bernegosiasi dengan Alvaro. Lelaki itu tetap menginginkan percaraian. Mau tidak mau ia harus menerima keputusannya agar Alvaro tidak menyebarkan aibnya.


Ia telah menghubungi pengacara Alvaro guna memberikan persetujuan perceraian. Ia tidak menuntut apapun dari lelaki itu. Sebagai gantinya, ia akan mendapatkan kompensasi uang perceraian.


Memanfaatkan momen terakhirnya di rumah itu, Prilly akan membawa seluruh barang berharga dan perhiasan yang diperolrh selama pernikahan. Cinta Alvaro bisa tidak ia dapatkan, setidaknya hartanya bisa ia bawa pergi. Begitulah kiranya prinsip Prilly.


"Tapi, kenapa kita harus pergi, Ma? Gavin masih sakit ya, gara-gara Leon?"


Prilly berhenti sejenak dari aktivitasnya. Ia menoleh ke arah leon, berlutut di hadapan anak itu dan menatapnya dalam-dalam.


"Sayang, anak itu sudah merebut papamu. Makanya kita diusir dari rumah ini. Semua gara-gara anak itu yang ingin menguasai papamu!" ucap Prilly.


Leon tertegun di tempat tak percaya. Beberapa hari ini, ia merasa bersalah karena telah melukai Gavin. Ia ingin meminta maaf meskipun ibunya melarang. Mendengar ucapan ibunya, ia jadi merasa sedih dan kesal.


"Mama jangan bohong, Gavin pasti tidak begitu," ujar Leon yang masih tidak percaya.


"Aduh, Leon ... Kalau mama bohong, untuk apa kita membereskan semua barang-barang ini?" Prilly kembali mengemasi perhiasannya.


"Papamu memang sangat jahat, Sayang. Dia tega mengusir kita demi anak itu. Malang sekali nasibmu, Sayang, sekian lama papa tidak pernah menyayangimu," sambung Prilly.


Kata-katanya terdengar sangat pedas dan mampu membuat Leon terpancing. Anak itu semakin merasa kesal. Apalagi ia mengingat masa-masa kecilnya dulu, memang ayahnya jarang sekali mau bersamanya. Alvaro memang seperti tidak pernah menyayanginya.


"Ayo, Sayang. Kamu juga harus siap-siap pergi sekarang. Kita berdua akan meninggalkan rumah ini," ajak Prilly. Ia menggandeng tangan Leon berniat mengajaknya jalan bersama, namun Leon tetap diam di tempat, tak mau bergerak.

__ADS_1


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Prilly heran.


"Leon tidak mau kehilangan Papa, Ma. Dia Papa Leon, ini rumah Leon. Leon tidak mau pergi," rengek Leon.


Prilly menghela napas. Ia sebenarnya juga masih berharap jika Leon bisa dijadikan sebagai alat untuk bertahan di rumah itu. Sayangnya, hal itu tidak berhasil.


"Apa kamu tidak mendengarkan Mama, hah? Papa sudah mengusir kamu, Leon! Papa tidak menyayangimu lagi! Makanya ayo cepat kita pergi!" bentak Prilly. Ia sudah hilang kesabaran menghadapi anaknya sendiri. Ia menganggap Leon tidak berguna lagi untuknya.


Leon terlihat cukup syok dengan nada bicara Prilly yang tidak biasa. Baru kali ini ia dibentak-bentak oleh ibunya sendiri.


"Ayo cepat kita pergi! Jangan menyusahkan mama!"


Prilly menarik paksa tangan Leon. Wanita itu sangat tega membuat anaknya berjalan memburu untuk mengimbangi langkahnya.


Prilly sangat kasar, tidak peduli dengan keselamatan Leon saat mereka turun tangga. Sosok ibu peri yang selama ini ada di mata Leon kini berubah menjadi setan.


"Untuk apa aku punya anak kalau hanya bisa menyusahkan saja!" gerutu Prilly dengan suara yang lirih.


Ia baru saja kembali dari kantor hendak mengambil dokumen penting. Tidak disangka istri yang sedang diceraikannya itu ternyata masih belum keluar juga dari rumahnya.


"Papa!" seru Leon senang. Ia melepas paksa cengkraman tangan Prilly darinya. Leon berlari dan memeluk ayahnya. Ia takut dengan ibunya sendiri.


"Leon, cepat ke sini!" paksa Prilly. Ia sudah kesal melihat wajah Alvaro, lelaki yang begitu tega menceraikannya.


Leon mempererat pelukannya seolah meminta perlindungan. Alvaro bingung sendiri. Kelakuan Prilly memang sangat keterlaluan.


"Bisa tidak kamu bersikap yang baik pad anakmu sendiri? Kamu tidak kasihan sudah membuat Leon ketakutan?" tanya Alvaro dengan raut wajah kesalnya.


"Hah! Apa kamu sudah gila? Apa aku harus tertawa senang karena sudah diusir olehmu seperti ini?" cibir Prilly.

__ADS_1


"Papa ... Leon minta maaf. Leon memang nakal. Leon may minta maaf juga sama Gavin. Tapi jangan usir Leon ...," pinta anak itu.


Tangisan Leon pecah. Anak itu terus merengek meminta maaf menunjukkan penyesalannya. Ia tidak ingin diusir dari sana dan harus kehilangan ayah yang diidolakannya.


Tangisan Leon membuat Alvaro tidak tega. Ia tak pernah membenci anak itu, hanya Prilly yang ia benci.


Alvaro merendahkan tubuhnya, berlutut di hadapan Leon. Ia mengusap air mata yang mengalir di wajah anak lelaki itu.


"Papa, please, jangan usir aku .... Leon tidak mau kehilangan Papa." saking sedihnya, Leon sampai terisak.


"Leon, kamu boleh tetap tinggal di sini bersama Papa. Tapi, mamamu harus pergi dari sini. Kamu hanya boleh tinggal dengan Papa," kata Alvaro.


Tidak masalah bagi Alvato jika Leon tetap menjadi putranya. Ia tidak membenci anak itu. Ia yakin Gavin dan Flora juga tidak akan keberatan.


"Tidak bisa!" sahut Prilly. "Kalau kamu ingin Leon tetap di sini, aku tidak mau cerai darimu! Aku juga ingin terus bersama Gavin! Dia itu putraku!"


Tatapan Alvato tajam ke arah Prilly. Wanita menyebalkan itu masih saja membuatnya emosi. Padahal, selama ini Prilly tidak terlalu perhatian dengan Leon, pengasuh yang lebih banyak mengurusi Leon sejak kecil.


"Kamu harus sadar dirimu siapa, Prilly! Masih ingat apa yang aku katakan?" ucap Alvaro mengintimidasi.


"Kalau kamu menyayangi Leon, seharusnya kamu berbesar hati untuk menerimaku," kata Prilly dengan percaya diri. Ia masih berusaha menggunakan Leon sebagai alat.


"Papa, please, jangan usir kami ... Leon akan jadi anak yang baik," pinta Leon.


Sebenarnya sorot mata polos itu membuat Alvaro tidak tega membuatnya bersedih.


"Sayang, maafkan Papa. Kali ini Papa sudah tidak bisa menerima mamamu di sini. Jadi, ikutlah dulu bersamanya pergi. Kalau nanti kamu tidak betah tinggal bersama ibumu, hubungi Papa. Leon akan Papa jemput untuk tinggal dengan Papa," kata Alvaro dengan lembut.


"Leon, ayo!" paksa Prilly. Ia kembali menarik paksa Leon hingga menjauh dari Alvaro.

__ADS_1


Anak itu terus menangis meronta memohon kepada Alvaro untuk membantunya. Namun, Alvaro harus rela melepaskannya. Prilly akan terus menggunakan Leon jika ia goyah. Jadi, meskipun Leon menangis, ia hanya bisa melihat anak itu keluar dari rumahnya.


__ADS_2