Papaku Seorang CEO

Papaku Seorang CEO
Bab 29: Pernikahan Kelabu


__ADS_3

Pernikahan antara Flora dan Alvaro akhirnya terlaksana. Tidak ada upacara maupun pesta megah yang meriah. Mereka hanya menikah di depan pemuka agama dan mencatatkan pernikahan agar diakui negara. Semua terlaksana di ruang perawatan Gavin.


Mengenakan gaun sederhana berwarna putih serta make up tipis, Flora duduk di sana menandatangani beberapa dokumen terkait pernikahan. Sementara, Alvaro duduk di sebelahnya mengenakan kemeja putih yang senada dengan Flora. Keduanya tampil sederhana.


Gavin terus mengembangkan senyuman melihat kebersamaan kedua orang tuanya. Apa yang pernah ia bayangkan, akhirnya terwujud. Kini, Gavin memiliki seorang ayah.


"Mama, Papa, selamat atas pernikahannya, ya. Gavin hari ini senang sekali." Gavin memberikan ucapan selamat kepada kedua orang tuanya.


Alvaro dan Flora berdiri di samping ranjang Gavin sembari memeluk anak itu bersama-sama.


"Mama, terima kasih sudah mewujudkan keinginan Gavin. Kalau Gavin nanti meninggal, Mama tidak akan kesepian," ucap Gavin.


Raut wajah Alvaro dan Flora berubah muram memandangi putra mereka yang masih harus mendapatkan perawatan di rumah sakit itu.


Masih jelas dalam ingatan Flora kemauan Gavin saat itu. Ia sampai rela pulang kembali ke negaranya demi memenuhi menauan Gavin bertemu ayah kandungnya. Rasanya tidak rela jika Gavin benar-benar pergi secepat itu.


"Gavin, kenapa kamu bicara seperti itu? Kamu pasti akan sembuh," kata Alvaro. Ia masih tak percaya anak manis itu bisa berkata demikian.


Gavin mengulaskan senyuman. "Papa, Gavin tahu kalau penyakit Gavin ini sangat sulit untuk sembuh. Gavin sudah senang karena bertemu Papa. Mama juga tidak akan sendirian kalau Gavin meninggal."


Flora menghela napas dalam-dalam. Ia sekuat tenaga tak ingin menangis di sana. "Sayang, berhenti bicara seperti itu. Mama sudah mempertemukanmu dengan Papa. Sekarang, giliranmu untuk berjuang sembuh, ya! Kamu mau kan, melakukannya untuk Mama?"


Gavin mengangguk. Ia kembali tersenyum. "Iya, Mama. Gavin akan menurut karena Mama sangat baik," ucapnya.


Anak itu, meskipun masih kecil, ia tahu betapa berat perjuangan ibunya untuk menyembuhkannya. Oleh karena itu, ia tak banyak merengek saat jarum suntik menusuk tubuh kecilnya. Obat-obatan yang membuatnya merasa mual juga tidak ia rasakan demi membuat ibunya tenang.


"Gavin, sekarang sudah ada Papa. Tidak ada yang perlu kamu takutkan lagi. Kamu pasti akan sembuh! Percaya pada Papa!" kata Alvaro dengan tatapan mata penuh kesungguhan.


Gavin menjawab dengan anggukkan. "Papa juga buat Mama bahagia, ya! Selama ini Mama sudah banyak menangis. Papa harus sering mengajak Mama jalan-jalan," pinta Gavin.

__ADS_1


Air mata Flora meleleh. Ia mengusapnya agar tak terlihat cengeng di depan putranya.


"Tentu saja, Sayang. Bukan hanya Mama yang akan Papa ajak jalan-jalan. Kita akan jalam-jalan bertiga! Kemanapun Gavin mau, akan Papa turuti," jawab Alvaro.


Gavin tersenyum lebar. "Gavin mau jalan-jalan kemana saja asalkan sama Mama dan Papa."


Flora memeluk dan menciumi putranya dengan perasaan haru. "Iya, Sayang. Kita akan banyak jalan-jalan bertiga. Makanya kamu cepatlah sembuh."


"Dimana wanita tidak tahu diri yang bernama Flora itu? Biar aku melihatnya!"


Suasana haru yang tengah meliputi peresmian ikatan pernikahan Flora dan Alvaro tiba-tiba terusik dengan suara gaduh yang berasa dari luar. Beberapa orang memaksa masuk ke dalam ruang perawatan Gavin.


"Minggir kalian! Berani menghalangiku, hah?" bentak seorang wanita paruh baya dengan penampilan ala-ala kaum sosialita.


Dua orang anak buah yang Alvaro tugaskan berjaga di depan pintu sampai tak berani melawan. Mereka bahkan menunduk membiarkan wanita itu masuk.


Di belakang wanita itu, ada Prilly menggandeng Leon bersamanya.


Flora terkejut. Rasa panas dan sakit seakan membakar pipinya. Alvaro dan Gavin yang berada di sana turut terkejut melihatnya.


"Mama!" seru Alvaro.


Ternyata wanita yang barusan masuk adalah ibu kandung Alvaro. Nyonya Suhay sangat marah ketika mendengar aduan Prilly tentang putranya. Ia buru-buru kembali dari luar negeri sengaja untuk membereskan masalah yang timbul.


Prilly bercerita bahwa Alvaro tega mengusir dia dan anaknya dari rumah hanya demi seorang wanita nakal. Tentu saja ia tidak terima karena perceraian bisa berpengaruh pada nama baik keluarga.


"Alvaro, apa kamu sudah gila? Apa wanita ini yang sudah membuatmu gila?" Nyonya Suhay menatap murka ke arah putranya.


"Ma, cukup, hentikan! Ini rumah sakit," bujuk Alvaro berusaha menenangkan ibunya.

__ADS_1


Nyonya Suhay sudah hilang kendali. Ia tak mau mendengarkan putranya. Dengan kasar, ia menjambak rambut Flora sembari memakinya.


"Dasar wanita murahan!" umpat Nyonya Suhay.


"Mama!" teriak Gavin. Ia ketakutan melihat ibunya diperlakukan kasar seperti itu.


Alvaro berlari melepaskan ibunya dari Flora. "Cukup, Ma! Hentikan!" pintanya sembari melindungi Flora dalam dekapannya.


"Apa yang sudah kamu lakukan sampai membuat putraku gila? Wanita kurang ajar!" teriak Nyonya Suhay.


Prilly yang menonton momen itu tersenyum lebar. Ia merasa di atas awan karena mendapat dukungan dari ibu mertuanya.


Seburuk apapun dirinya, keluarga Alvaro pasti lebih membela dirinya yang merupaka seorang artis dibandingkan dengan wanita biasa.


"Lita, tolong jagakan Gavin sebentar," pinta Alvaro kepada sekertaris sementaranya.


"Baik, Pak," jawab Lita.


"Mama," rengek Gavin. Anak itu menangis sedih melihat ibunya seperti itu.


"Gavin, kamu di sini dulu. Kami akan bicara di luar. Jangan cemas," ucap Alvaro menenangkan Gavin.


"Siapa lagi anak itu? Anak dari wanita murahan ini?" tanya Nyonya Suhay.


"Kita bicara di luar, Ma. Ini rumah sakit," kata Alvaro dengan nada bicara yang masih sopan.


Alvaro terus mendekap Flora yang masih syok dan ketakutan. Wanita itu sudah pasti tidak menyangka jika hari ini akan terjadi sesuatu yang di luar dugaan.


"Ayo kita keluar. Semuanya akan baik-baik saja," bisik Alvaro kepada Flora dengan suara yang lirih.

__ADS_1


Flora hanya menurut. Ia mengikuti kemauan Alvaro untuk berjalan keluar. Nyonya Suhay masih menatapnya dengan sinis. Begitu pula Prilly yang seolah sedang pamer bahwa dirinya sudah bisa mengalahkan Flora.


__ADS_2