Papaku Seorang CEO

Papaku Seorang CEO
Bab 12: Pertemuan dengan Prilly


__ADS_3

"Mama ... Aku mau es krim yang tinggi seperti itu!" kata Gavin sembari menunjuk ke seorang anak kecil yang baru saja membeli es krim cone di sebuah lapak yang ada di mall.


Hari ini Flora sengaja mengajak anaknya jalan-jalan karena ia tidak punya banyak waktu libur setelah bekerja. Mereka baru saja menonton film anak di bioskop dan hendak berniat belanja serta mengunjungi tempat permainan yang Gavin inginkan.


"Oh. Kamu mau es krim itu ... Ayo kita beli!"


Dengan semangat Flora menggandeng tangannya mendekat ke arah penjual es krim yang tampak cukup ramai itu. Mereka mengantre giliran sampai akhirnya bisa memesan apa yang Gavin inginkan.


Saat mendapatkan es krim yang dimau, mata Gavin tampak berbinar-binar. Flora merasa bahagia bisa melihat anaknya ceria. Ia berharap bisa tetap menjaga binar kebahagiaan di mata putranya. Ia akan melakukan apapun demi anak kesayangannya.


"Mama ... Mau nonton di sana," kata Gavin.


Kali ini ia menunjuk ke arah kerumunan orang-orang di depan panggung. Sepertinya ada acara dari sebuah produk yang sedang promosi. Ada penyanyi yang tampil dan banyak orang menonton.


Flora mengikuti langkah kaki kecil Gavin mendekati keramaian itu. Gavin merasa tertarik karena yang tampil di panggung seorang artis cilik yang sedang menyanyi.


"Mama, seharusnya Mama juga menyanyi di sana. Suara Mama kan bagus," ujar Gavin sembari menonton penyanyi di atas panggung.


Flora hanya mengulaskan senyum. Seandainya kejadian malam itu tidak pernah terjadi, mungkin saja ia bisa menjadi seorang penyanyi terkenal.


Dulu, ia mengikuti ajang pencarian bakat dari sebuah agensi artis. Flora memiliki suara yang indah sehingga bisa menjadi kandidat yang kuat untuk diorbitkan menjadi seorang penyanyi. Karena kelakuan kakaknya yang tega membuat dia tidur dengan seorang lelaki sampai akhirnya ia hamil, Flora terpaksa mengubur mimpinya dalam-dalam.


"Loh, kamu flora, ya?" sapa seseorang tiba-tiba.


Flora menoleh ke arah suara orang yang berbicara. Ia terkejut mengetahui ternyata orang itu bukanlah orang asing.


"Justin?" ucapnya.


Keduanya saling bersalaman. Mereka sama-sama tidak menyangka akan bisa bertemu di sana setelah sekian lama. Justin merupakan salah satu produser musik yang turut menangani Flora saat di agensi.


"Kemana saja kamu? Lama sekali kita tidak bertemu," kata Justin.

__ADS_1


"Ah, itu ... Aku selama ini tinggal di luar negeri. Baru-baru ini saja aku pulang," jawab Flora.


"Padahal aku berharap bisa menjadikanmu sebagai penyanyi terkenal. Sayang sekali suara indah yang kamu miliki tidak bisa didengarkan oleh banyak orang," ujar Justin.


Flora hanya tersenyum mendengar pujian dari Justin.


"Ah! Siapa anak kecil ini? Apa dia keponakanmu?" tanya Justin ketika melihat Gavin ada di dekat Flora.


"Dia anakku, namanya Gavin." Flora memperkenalkan putranya dengan percaya diri.


Wajah Justin yang awalnya ceria ketika bertemu dengan Flora seketika berubah muram. Ada rasa kecewa yang dia rasakan mengetahui wanita yang sejak dulu ia kagumi ternyata sudah memiliki seorang anak.


Justin sebenarnya sangat menyukai Flora, namun ia memendam perasaannya karena takut akan mengganggu karir yang mulai ditapaki oleh Flora. Ketika wanita itu seharusnya diorbitkan menjadi penyanyi, Flora malah menghilang tanpa kabar.


"Oh, kamu sudah menikah, ya?" tanya Justin dengan raut kecewa.


"Dia itu hamil tanpa suami, Justin. Makanya dulu dia kabur ke luar negeri supaya tidak ada yang tahu."


Flora tidak percaya akan kembali bertemu dengan wanita menyebalkan itu yang juga merupakan istri Alvaro.


Prilly menunjukkan senyum sinisnya. "Bagaimana, kamu sudah tidak malu lagi sekarang? Akhirnya kamu berani pulang membawa anak harammu," ucapnya.


Flora reflek menutup telinga Gavin. Ia tidak bisa menerima putranya yang tidak punya salah apa-apa harus mendengar ucapan buruk semacam itu.


"Sejak dulu memang kamu tidak pernah bisa berubah, ya. Sepertinya menyakiti hati orang lain adalah hobimu," sindir Flora menahan kekesalannya.


Gavin tampak keheranan dengan perlakuan ibunya. Ia juga merasa ibunya sedang menghadapi orang yang tidak baik. Tapi, dia hanya diam di depan ibunya dengan telinga yang terus berusaha ditutupi meskipun ia tetap bisa mendengar perbincangan mereka.


"Hahaha ... Kamu merasa tersakiti? Aku kan hanya mengatakan fakta. Kalau kamu tersinggung, berarti sepenuhnya itu benar, kan?" kilah Prilly. Ia lantas mengarahkan pandangan kepada Justin.


"Sudah benar kamu tidak jadi mengorbitkannya jadi penyanyi, Justin. Beruntung kamu akhirnya memilihku, setidaknya kamu tidak harus malu dan rugi kalau harus memilih artis yang banyak skandal seperti dia," kata Prilly.

__ADS_1


"Sudahlah, kamu jangan memperkeruh suasana," kata Justin berusaha menjadi penengah.


"Aku tidak punya maksud apa-apa, tapi akan lebih baik kalau kita pura-pura tidak kenal dengannya. Takutnya nanti kasus yang dulu bisa kembali mencuat. Nanti manajemenmu bizsa rugi," ujar Prilly.


"Kasus apa? Kasus plagiarisme lagu? Ada artis yang naik daun berkat mencuri karya teman satu agensinya sendiri, kan?" sahut Flora.


Ia tidak tahan lagi terus disudutkan. Kenyataannya, lagu populer yang pernah mengangkat nama Prilly sebenarnya memang karyanya. Ia tidak tahu jika ada yang mencuri lagu buatannya sebelum ia sempat menampilkan di depan para juri. Sayangnya saat itu ia juga terkena masalah pribadi dan akhirnya tidak bisa menuntut lagunya.


Prilly terdiam, ia merasa tersindir.


"Prilly, apa itu benar? Kamu melakukannya?" tanya Justin penasaran.


Dulu ia juga merasa kurang setuju untuk memilih Prilly sebagai artisnya. Tapi, berkat lagu yang Prilly nyanyikan, ia berubah pikiran. Setelah lagu itu, Prilly tak lagi bisa membuat lagu lain dengan banyak sekali alasan.


"Justin, apa kamu akan percaya dengan ucapan wanita murahan seperti dia? Jangan aneh kamu, dia hanya mengada-ada," kilah Prilly membela diri.


"Aku punya banyak buktinya, Prilly. Suatu saat akan aku perlihatkan padamu," kata Flora dengan penuh keyakinan.


Prilly menyunggingkan senyum seringai. "Oh, ya?" ledeknya.


"Lihat saja nanti. Aku juga mungkin akan membuatmu sangat terkejut. Jadi, bersiap-siap saja jangan sampai kena penyakit jantung!" tegas Flora dengan tatapan mata seriusnya.


"Justin, senang bertemu denganmu lagi. Tapi sepertinya waktunya kurang nyaman untuk kita bisa bicara. Aku pergi dulu, ya! Semoga lain kali ada kesempatan bertemu lagi," kata Flora kepada Justin.


"Iya, Flora. Sampai bertemu lagi," jawab Justin dengan kecewa. Ia sebenarnya sangat ingin lebih lama lagi berbicara dengan wanita itu, namun ia tahu bahwa Prilly memang orang yang sangat menyebalkan.


Flora mengajak Gavin kembali berjalan menjauh dari mereka. Sepertinya ia akan langsung pulang karena sudah malas akibat bertemu dengan manusia seperti Prilly.


"Aku ingin tahu responmu jika tahu suamimu punya anak denganku," gumam Flora lirih. Ia sangat kesal sampai ingin membalas kekesalannya kepada Prilly.


"Mama, tadi mereka siapa?" tanya Gavin.

__ADS_1


"Teman lama Mama, Sayang," jawab Prilly.


__ADS_2