
Sepanjang perjalanan, Flira merasa tidak tenang. Ini pertama kalinya ia akan meninggalkan Gavin untuk waktu yang lama. Apalagi Gavin ditinggalkan bersama orang yang menurutnya sangat berbahaya. Prilly sudah terlihat sangat tidak suka padanya, apalagi Gavin sendirian.
Alvaro menoleh ke arah Flora, melihat wanita itu yang tengah mengigiti kuku jarinya sambil memandang ke arah jendela mobil. Sangat jelas tergambar keresahan wanita itu dari tingkah lakunya.
Tiba-tiba Alvaro menggenggam tangan kiri Flora sampai membuat wanita itu terkejut.
"Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Kamu bisa memukulku kalau terjadi sesuatu pada Gavin di rumah. Lagi pula, aku ini juga ayahnya, mana mungkin aku tega membuat dia susah," kata Alvaro berusaha menenangkan.
Flora langsung melepaskan tangan Alvaro. Wajahnya jadi kesal. "Kalau tidak mau menyusahkan sih seharusnya kamu lakukan sejak enam tahun yang lalu! Sembarangan menghamili orang!" gerutunya.
Alvaro melebarkan matanya merasa tidak terima dengan ucapan Flora. "Kalau kamu tidak kabur, sudah pasti aku nikahi kamu!" kesalnya.
"Kamu sendiri yang membuatku bingung selama ini. Kamu kira aku senang dengan kondisi semacam ini, hm?" lanjut Alvaro.
"Sudahlah! Kenapa jadi membahas masa lalu. Rasanya kurang pantas karena kamu sudah punya anak istri. Jadi lupakan saja!" tegas Flora. Ia mengalihkan pandangan ke arah kaca jendela lagi sembari memikirkan nasib anaknya.
***
Di rumah milik Alvaro, Gavin masih seru-seruan bermain bersama Leon. Ia sangat senang mendapatkan teman main seumuran. Leon juga memperlakukannya dengan sangat baik. Hanya saja, ia merasa kurang nyaman dengan keberadaan ibunya Leon.
Sejak tadi Gavin merasa terus diperhatikan oleh Prilly dari arah pintu. Ia mencoba mengabaikannya dan menikmati permainannya merakit robot dengan Leon.
"Leon, bagaimana rasanya punya papa?" tanya Gavin tiba-tiba.
Leon mengernyitkan dahinya. Ia tidak terlalu paham dengan pertanyaan dari Gavin. "Bukankah itu hal yang biasa? Semua anak pasti punya Papa. Dan punya Papa tentu saja menyenangkan karena dia bisa ajak jalan-jalan. Papa terkadang mengangkatku duduk di pundaknya jadi aku bisa melihat dari tempat yang lebih tinggi. Itu sangat seru."
Leon menceritakannya dengan mata yang berbinar-binar, memperlihatkan betapa bahagianya anak itu.
Gavin hanya mengulaskan senyum. "Kamu sangat beruntung, ya. Kalau aku hanya bersama mama sejak kecil," tuturnya.
"Memangnya papamu kemana?" tanya Leon penasaran.
Gavin menggelengkan kepalanya. "Entahlah! Aku tidak tahu!" kilahnya.
"Oh, iya! Gavin, kamu mau nggak main di taman belakang? Aku punya kelinci!" ajak Leon dengan semangat.
__ADS_1
"Boleh," jawab Gavin.
"Ayo! Kamu harus melihat kelinci-kelinciku!"
Leon meraih tangan Gavin. Kedua anak itu lantas berlari riang menuju ke arah taman belakang. Di sana Leon membawa ke area kandang kelinci yang terletak di pojok belakang. Kelinci Gavin ada sekitar tujuh ekor dengan penampilan bulu yang menawan. Kedua anak itu bermain-main di sana.
Beberapa saat kemudian, Leon dan Gavin sudah berpindah ke dekat kolam renang sambil menggendong kelinci yang dilepaskan dari kandang.
"Gavin, aku mau ke dapur sebentar mau ambil wortel buat kelinci-kelinci kita. Kamu tunggu di sini sebentar, ya!" pinta Leon.
Gavin mengangguk. Ia membiarkan Leon pergi sementara dirinya masih bermain bersama kelincinya.
"Eh, ada Gavin. Kamu pasti sangat suka kelinci, ya."
Terdengar suara dari arah belakang Gavin. Anak itu bebalik badan mendapati Prilly telah berada di sana. Wanita itu tersenyum kepadanya, namun Gavin merasa bahwa wanita itu tengah tersenyum jahat padanya. Ia sebenarnya sedikit takut berhadapan dengan wanita itu. Tapi, Prilly adalah ibu Leon.
"Gavin, apa kamu suka berenang? Leon biasanya berenang bersama kelincinya," ucap Prilly.
Gavin tersenyum kikuk. Semakin wanita itu berbicara ramah dan tersenyum, semakin membuat Gavin merasa takut. Ia memeluk erat kelincinya.
"Oh. Benarkah? Padahal kelinci yang kamu peluk itu pasti sangat ingin berenang. Bagaimana kalau Tante ajari kamu renang. Kamu mau, kan?" bujuk Prilly.
"Em, tidak usah, Tante. Biar nanti kelincinya renang dengan Leon saja," tolak Gavin.
"Ayolah, air tidak menyeramkan kok. Tante akan memegangimu biar jadi pemberani," paksa Prilly.
Gavin terus menolak, namun Prilly tetap memaksa. Wanita itu memegangi lengan kecil Gavin, berusaha untuk menceburkan anak itu ke dalam air.
Gavin semakin panik. Ia merasa sesuatu yang tidak beres dengan ibunya Leon. Ia benar-benar tak ingin berenang di kolam yang terlihat dalam itu.
"Ayo, Gavin, tidak apa-apa," bujuk Prilly lagi.
Gavin gampir terjatuh, namun ia berhasil meraih kalung berlian yang Prilly kenakan sampai putus.
Prilly syok melihat kalung berharganya rusak. Napasnya sampai seakan berhenti melihat kejadian itu.
__ADS_1
Gavin menjatuhkan kalung itu ke dalam kolam. "Aduh, Tante. Maaf, aku tidak sengaja," ucap Gavin pura-pura.
"Ih! Dasar anak nakal!" umpat Prilly saking kesalnya.
Terpaksa ia menceburkan diri ke dalam kolam untuk mengambil benda berharga mahal yang terjatuh ke dasar kolam. Prilly sampai harus menyelam ke dalam kolam yang dalamnya srkitar lima meter itu. Hatinya terus menggerutu karena usahanya untuk menjatuhkan anak itu gagal, malah sekarang dirinya yang harus berbasah-basahan.
Setelah berhasil mendapatkan kembali kalungnya, Prilly tersenyum lebar. Ia menekan kakinya untuk kembali berenang ke atas.
'Aduh! Kenapa dengan kakiku!' batin Prilly saat berusaha berenang ke atas.
Kakinya tiba-tiba kram, sulit untuk digerakkan. Padahal ia belum sampai berenang ke tepian. Ia semakin panik. Dengan sekuat tenaga, ia menyembulkan kepalanya ke atas dan berteriak-teriak.
"Tolong ... Tolong ...."
Di bagian tepian kolam, Gavin masih berdiri sambil menatap Prilly yang terus timbul tenggelam sambil berteriak.
"Tante itu kenapa sih? Aneh banget. Suka sekali akting," gumamnya.
Sejak pertama bertemu Prilly, Gavin sudah merasa tidak suka. Ia anak yang peka, tahu bahwa Prilly punya niat yang buruk padanya. Tadi saja wanita itu hendak menenggelamkannya. Sekarang, wanita itu malah pura-pura mau tenggelam.
Gavin hanya terus berdiri di sana dengan rasa keheranannya. "Apa nanti Tante Prilly mau bilang ke semua orang kalau aku yang mendorongnya, ya? Tapi aku kan masih kecil. Mana kuat mendorong Tante," gumamnya.
"Mama!"
Teriakan Leon membuat Gavin menoleh. Leon berlari kencang mendekat membawa sekeranjang wortel.
"Mama ... Mama ... Aduh, Mama tenggelam!" seru Leon panik.
"Leon, kenapa kamu berteriak-teriak? Mamamu kan bisa berenang. Nanti juga bisa ke tepian sendiri," kata Gavin dengan entengnya.
"Mama memang bisa renang, tapi kakinya mungkin kram. Aduh. Bagaimana ini, Gavin! Kita harus menolong Mama!" kata Leon yang masih panik.
Mendengar hal itu, Gavin ikut panik. Sementara, Leon terus-terusan berteriak memanggil mamanya.
Untung saja saat itu ada tukang kebun yang lewat dan dipanggil oleh Gavin untuk menolong Prilly.
__ADS_1