
Sore hari telah tiba. Satu per satu murid dari TK Penerus Unggul mulai keluar setelah datang jemputan. Tampak tiga anak yang masih berada di area permainan sembari menunggu jemputan datang, salah satunya Gavin.
"Hey, Gavin. Kamu anak orang miskin, ya?" Tanya Aiden sambil berayun di atas ayunan.
"Iya, kamu pasti orang miskin. Cuma kamu yang berangkat sekolah jalan kaki," sambung Eren. Ia tengah sibuk bermain perosotan.
Gavin merasa heran kenapa pertanyaan semacam itu selalu datang kepadanya, baik di sekolah lama maupun di sekolah barunya.
"Memangnya kenapa kalau aku orang miskin?"
"Kalau miskin jangan sekolah di sini nanti kamu bakalan malu," kata Aiden.
"Kenapa aku harus malu? Aku kan pakai baju," tukas Gavin.
"Kamu kan nggak punya mobil," sahut Eren.
"Iya, kamu juga tidak punya ayah!"
Gavin langsung tertunduk. Perkataan teman-temannya membuat ia sedih. Seperti yang sering ia tanyakan kepada ibunya, kenapa dia harus berbeda dengan teman-temannya yang lain. Ia juga mau punya ayah.
"Gavin kasihan ya, tidak punya ayah. Tidak ada yang bisa jemput pakai mobil. Nanti dia pulang jalan kaki lagi," ledek Aiden.
Kedua anak itu menertawakan Gavin yang hanya bisa duduk diam di sana.
Gavin menjadi tidak betah. Ia berjalan ke arah gerbang, memandangi teman-temannya yang sudah dijemput keluarganya. Sekolah itu memang merupakan sekolah swasta tempat anak-anak orang kaya. Mereka selalu diantar jemput menggunakan mobil, terkecuali Gavin.
Anak itu hanya menatap iri ke arah mereka. Melihat teman-temannya memeluk ibu atau ayah mereka dengan wajah bahagia, membuatnya membayangkan dipeluk juga oleh seorang ayah.
"Kamu pasti pulang paling akhir, Gavin. Ibumu masih jalan kaki untuk menjemputmu," ucap Eren.
Kedua anak itu lagi-lagi mendekati Gavin dan membuat suasana hatinya menjadi sendu.
Tiba-tiba sudut matanya menemukan sosok yang tidak asing baginya. Seorang pria dewasa dengan penampilan yang keren mengenakan kacamata hitam baru saja keluar dari mobil.
Mata Gavin langsung berbinar-binar. Pria dewasa itu adalah CEO tampan yang ia temui di kantor ibunya.
"Papa ....!" serunya dengan girang sambil melambaikan tangan.
Eren dan Aiden saling bertatapan. Mereka heran dan tidak percaya bahwa Gavin punya ayah. Apalagi selama ini mereka tidak pernah melihat Gavin dijemput ayahnya.
Gavin tersenyum seringai kepada kedua temannya. "Papaku sudah datang menjemputku. Aku pulang duluan, ya!" katanya dengan percaya diri.
__ADS_1
"Mana papamu? Aku tidak percaya," kata Eren.
"Itu, orang yang paling keren itu papaku!" ucap Gavin penuh semangat.
"Nggak mungkin!" kata Aiden.
Gavin merasa tertantang untuk membuktikan kepada kedua temannya. Ia langsung berlari menghampiri Alvaro.
"Papa ...." panggilnya.
Seruan Gavin menarik perhatian orang-orang yang masih ada di sana. Alvaro bingung dan ikut celingukan. Apalagi saat Gavin ternyata mendekatinya dan memeluknya.
"Papa," katanya.
Alvaro terlihat bingung mendengar anak Flora memanggilnya seperti itu. Ia merendahkan badan agar sejajar dengan Gavin. Lagi-lagi anak itu memeluknya. Mereka menjadi pusat perhatian orang-orang.
"Gavin!" panggil Flora.
Ia baru saja keluar dari dalam mobil mengenakan tongkatnya. Ia ikut terkejut karena anaknya dengan sembarangan memanggil atasannya dengan sebutan 'papa' apalagi di tempat umum.
"Mama kenapa? Kok kakinya seperti itu?" tanya Gavin heran.
"Gavin, Mama kan sudah bilang kamu tidak boleh seperti itu! Mama marah!" tegur Flora.
Raut wajah Gavin kembali sendu. Ia menatap wajah pria tampan yang ada di hadapannya. Ia sangat berharap bisa memanggilnya 'papa'. Ia ingin memiliki ayah seperti teman-temannya.
"Om, maafkan Gavin, ya ... Boleh nggak Gavin panggil 'Papa' hari ini saja?" tanya Gavin dengan penuh harap.
Alvaro memicingkan sebelah alisnya. Ia tak pernah suka dengan anak-anak, namun anak kecil di hadapannya sekarang sangat imut dan membuatnya senang. Ia tidak menyangka jika yang ada di hadapannya kini benar-benar anaknya. Tapi, Flora melarangnya untuk tiba-tiba mengakui sebagai ayahnya.
"Gavin, jangan bicara macam-macam! Ayo kita pulang!" kata Flora. Ia tidak enak hati menjadi pusat perhatian di sana.
Wajah Gavin terlihat seperti ingin menangis. "Om, aku selalu diejek teman-temanku. Katanya aku anak orang miskin karena jalan kaki setiap hari, tidak punya mobil dan tidak punya ayah seperti yang lain."
Ucapan Gavin membuat Alvaro terharu. Ia menarik Gavin dan memeluknya dengan hangat. Flora juga tidak bisa berbuat apa-apa. Hatinya ikut sakit mendengarkan kejujuran yang Gavin rasakan selama ini.
"Ayo, kenalkan Papa kepada teman-temanmu. Biarkan mereka tahu kalau kamu juga punya Papa yang keren," kata Alvaro.
Gavin langsung terlihat riang. "Aku boleh panggil Om Papa kan?" tanyanya.
"Tentu saja boleh. Ayo, kita beri kejutan kepada teman-temanmu!" jawab Alvaro dengan semangat.
__ADS_1
Flora tak berkomentar apa-apa lagi. Ia membiarkan mereka melakukan apa yang dimau. Ia hanya berdiri saja di sana.
Alvaro menggendong Gavin dengan penuh kasih sayang. Mereka berjalan menghampiri Eren dan Aiden yang masih tercengang melihat Gavin. Keduanya takjub mengetahui ayah Gavin ternyata sangat keren.
"Papa, ini teman-temanku," kata Gavin.
Anak itu begitu pandai berakting. Ia memeluk Alvaro sembari bermanja menyandarkan kepalanya pada dada orang yang ia panggil ayah itu. Raut wajahnya terlihat ceria agar kedua temannya bisa merasa iri kepadanya.
"Halo, siapa nama kalian?" tanya Alvaro.
"Saya Eren, Om."
"Saya Aiden."
Alvaro mengulaskan senyum. "Aku papanya Gavin," akunya. "Terima kasih sudah menjadi teman baik untuk Gavin, ya," imbuhnya.
"Iya, Om," jawab Aiden dan Eren kompak. Mereka masih tercengang mengingat pria itu sangat tampan dan keren, berbeda jauh dengan ayah mereka.
"Oke, Gavin. Hari ini kita akan makan di restoran. Kamu mau makan apa?" tanya Alvaro.
"Aku mau makan steak, Papa! Aku juga mau es krim!" jawab Gavin dengan semangat.
"Boleh, nanti sekalian Papa belikan kamu mainan. Kita jalan-jalan sampai malam, ya!"
"Yeay! Asyik!"
Eren dan Aiden hanya bisa iri melihat kebahagiaan Gavin. Ayah Gavin ternyata sangat baik dan perhatian di mata mereka.
"Baiklah, kalau begitu kita pulang dulu. Kamu pamit dengan teman-temanmu," ucap Alvaro.
"Eren, Aiden, aku pulang dulu, ya! Sampai jumpa besok," pamitnya seraya melambaikan tangan.
Alvaro menggendong Gavin kembali mendekati Flora. "Ayo, kita pulang," ucapnya pada Flora.
"Papa, aku mau turun. Papa bantu Mama jalan, ya!" pinta Gavin.
"Tidak usah, aku bisa jalan sendiri," tolak Flora. Ia hanya bisa menghela napas dengan kemauan putranya.
Alvaro menurunkan Gavin. Ia tetap membantu Flora berjalan menuju mobilnya. "Jangan banyak protes. Kenyataannya aku kan memang Papanya," lirih Alvaro.
"Sudah saya bilang, kan, sebelum Anda membereskan urusan dengan keluarga kecil Anda, jangan mengusik kehidupan kami!" jawab Flora setengah berbisik.
__ADS_1