Papaku Seorang CEO

Papaku Seorang CEO
Bab 13: Si Anak Jenius


__ADS_3

Hari minggu yang cerah Alvaro habiskan dengan menikmati secangkir kopi di sebuah kafe sembari menatap layar laptopnya. Akhir pekan tak berarti libur baginya. Ia seperti seseorang yang sangat mencintai pekerjaan sampai tak peduli hari kerja maupun hari libur ia tetap bekerja.


Penampilan santainya dengan kaos polos dan celana jeans membuatnya terlihat muda. Banyak pengunjung wanita yang terkesima mencuri pandang ke arahnya. Ia nampak seperti magnet di kafe itu.


Menjadi pusat perhatian bukanlah hal baru baginya. Alvaro sadar dirinya memang tampan. Oleh karena itu, ia membiarkan saja orang memandanginya meskipun ada rasa sedikit tidak nyaman.


Alvaro menoleh ke arah jendela kaca di sampingnya yang tepat berada di sisi tepi jalan. Dari sana terlihat jelas lalu lalang orang dan kendaraan yang lewat.


Saat ia melihat seorang anak melintas, ia memusatkan perhatiannya. Ia seperti familiar dengan anak itu.


"Gavin?" gumamnya.


Alvaro merasa heran anak Flora ada di sana sendirian melihat pedagang kaki lima yang berjualan mainan. Ia melayangkan pandangan ke sekitar berusaha menemukan ibu anak itu, namun tidak ada.


"Apa Flora sudah gila? Kenapa anaknya dibiarkan pergi sendirian? Kalau tertabrak kendaraan bagaimana?" gerutunya sendiri.


Tidak tahan melihatnya, Alvaro memutuskan untuk meninggalkan tempat duduknya. Ia keluar dari kafe untuk menghampiri Gavin.


"Halo, Gavin," sapanya ramah. Ia berjongkok di dekat anak itu agar tinggi mereka sama.


Gavin tampak terkejut melihat keberadaan Alvaro di sana. "Papa ...." serunya seraya memeluk atasan ibunya itu dengan reflek saking bahagianya. Ia sangat merindukan lelaki itu. Bertemu dengannya membuat Gavin merasa bertemu dengan ayahnya sendiri.


Alvaro merasakan hal yang sama. Hatinya merasa senang mendapat panggilan papa dari anak itu. Ia ingin sekali mengatakan jika memang dia adalah papanya. Tapi, Flora masih ingin mereka merahasiakannya.


"Gavin kenapa di sini sendirian? Mama dimana?" tanya Alvaro.


"Mama sedang potong rambut di sana," kata Gavin seraya menunjuk ke sebuah barbershop yang tak jauh dari sana.


"Lalu, kenapa Gavin di sini? Nanti kalau ada orang jahat bagaimana?" tanya Alvaro khawatir.


"Gavin cuma mau beli mainan," jawab Gavin dengan polos.


"Memangnya kamu mau beli apa?" tanya Alvaro.

__ADS_1


"Aku mau beli ini, ini, dan ini!"


Gavin menunjuk beberapa mainan yang diinginkannya. Alvaro yang membayar mainan yang Gavin ambil. Lalu, dia membawa anak itu masuk ke dalam kafe tempat ia meninggalkan barang-barangnya. Tak lupa ia membelikan minuman dan cemilan yang Gavin suka untuk duduk bersama dengannya.


"Apa itu anaknya?"


"Aku rasa iya. Lihat saja, wajah mereka begitu mirip."


"Yah, sayang sekali. Padahal aku mau kenalan dengannya."


"Sabar, sabar ... Siapa tahu dia duda."


Kehadiran Gavin di sana turut mengundang perhatian. Alvaro hanya senyum-senyum mendengar sayup suara berbisik beberapa wanita yang sejak tadi memperhatikannya.


"Gavin, apa spaghetti-nya enak?" tanya Alvaro.


Gavin mangguk-mangguk. Ia dengan lahap menikmati makanan yang dipesankan untuknya. Ia duduk dengan tenang dan bisa makan sendiri.


Lelaki itu tertegun mendengar ucapan Gavin sampai matanya tak berkedip selama beberapa saat. Ia seperti tidak percaya seorang anak kecil, lima tahun bisa paham apa yang sedang dilihatnya sekarang.


Alvaro memang tengah fokus mencari prospek saham yang bagus sebagai pilihan investasi. Sejak tadi ia sibuk memperhatikan pergerakkan saham di beberapa perusahaan besar yang diminatinya.


"Memangnya Gavin tahu tentang seperti ini?" tanya Alvaro. Ia iseng memperlihatkan layar laptopnya agar Gavin lebih mudah melihatnya.


"Joice suka bermain itu. Katanya dia tidak perlu capek kerja bisa dapat uang hanya dengan rebahan sambil melihat pergerakkan saham," ucap Gavin dengan polosnya.


Alvaro mengernyitkan dahi. "Siapa itu Joice?" tanyanya penasaran.


"Kakak yang tinggal di sebelah apartemen Mama waktu kami tinggal di US. Aku sering main sama Joice kalau Mama sibuk kerja. Aku juga suka membantu Joice main itu," kata Gavin.


Alvaro semakin tercengang. "Memangnya ... Kamu tahu cara mainnya?"


Ia tak yakin anak sekecil itu akan paham dengan pekerjaan serius semacam itu. Dia sendiri terkadang gagal menganalisa dengan baik pergerakan grafik harga saham yang tidak bisa diprediksi.

__ADS_1


"Tentu saja tahu," ucap Gavin dengan penuh keyakinan. Ia meletakkan alat makannya lalu menarik laptop itu agar lebih dekat dengannya. Anak itu mulai menggerakkan kursor laptop milik Alvaro seperti layaknya orang dewasa.


"Kita tinggal melihat chart saham yang diminati, kan ... Misalnya bank ini saja yang sering muncul diberita." Gavin bersemangat menerangkan apa yang diketahuinya kepada Alvaro.


Dengan masih menyimpan keraguan, Alvaro tetap memperhatikan apa yang dilakukan anak itu. Ia bahkan khawatir jika data-data di laptopnya akan hilang.


"Kalau Papa memang berminat membeli saham, aku rasa bank ini cocok untuk investasi. Trend yang dimiliki bullish, banyak candle hijau dan pergerakkan harga miring ke kanan. Harganya juga di atas garis moving average. Di bagian atas membentuk base dan stochastik relatif di bawah lima puluh. Ini cocok sekali untuk membeli saham, Pa," ujar Gavin.


Alvaro sampai tercengang mendengar penuturan anak sekecil itu. Apa yang disampaikan bukanlah pengetahuan yang lazimnya dikuasai anak kecil. Gavin benar-benar bisa membaca grafik saham yang sedang diminatinya.


"Gavin beneran pernah main saham juga?" tanya Alvaro meyakinkan.


"Iya, Pa. Joice itu punya banyak uang walaupun dia tidak bekerja dan tidak pergi kemana-mana. Aku sering dibelikan mainan. Mama juga aku ajak nggak mau, katanya mau kerja saja. Padahal aku maunya Mama terus di rumah, nanti Gavin yang bantuin lihat pasar saham. Mama nggak percaya."


Alvaro merasa Gavin tak mungkin berbohong. Apalagi dia anak yang sangat polos, pastilah apa yang disampaikan sesuai isi hatinya. Ia mengarahkan pandangan ke arah laptop. Analisa Gavin memperkuat niatnya berinvestasi di sana.


"Baiklah, kalau begitu aku akan memilih bank ini sebagai tempat investasi. Sesuai saran dari Gavin," kata Alvaro.


Gavin tersenyum senang. Ia meneruskan makan sembari mengayun-ayun kedua kakinya seperti anak kecil.


"Kalau investasi Papa berbasil, Gavin dapat bagian, nggak?" tanya anak itu.


Alvaro tertawa mendengar pertanyaan Gavin. "Tentu saja, Gavin. Kamu akan mendapat bagiannya karena telah memberikan saran," katanya.


"Tapi, jangan bilang-bilang Mama, ya!" pinta anak itu.


"Memangnya kenapa kalau bilang Mama?" Alvaro penasaran.


"Ya ... Tidak apa-apa. Aku tidak mau Mama tahu tentang ini."


"Baiklah, ini rahasia di antara kita saja," ucap Alvaro.


Ia terpaku memandangi Gavin. Semakin dilihat, anak itu memang semakin terlihat mirip dengannya. Ia sudah yakin jika itu anak kandungnya. Ingin rasanya ia memeluk dan mengajaknya pulang ke rumah, lalu melakukan banyak hal bersama untuk mengganti masa-masa yang pernah terlewat tanpa tahu bahwa akibat malam itu, ia memiliki seorang anak dari Flora.

__ADS_1


__ADS_2