
"Gavin ... Gavin ...."
Flora berseru meneriakkan nama Gavin. Wajahnya terlihat panik, ia mencari-cari keberadaan putranya di antara kerumunan orang.
Sebelumnya, ia mengajak Gavin ke salon untuk menunggunya potong rambut. Anak itu masih bisa duduk tenang. Beberapa saat kemudian, Gavin meminta ijin untuk keluar sebentar karena katanya melihat pedagang mainan. Ia ingin membeli mainan.
Flira meminta putranya agar sabar menunggu sampai ia selesai, namun Gavin tak sabar. Akhirnya ia memberikan sejumlah uang dan membiarkan Gavin keluar sendiri.
Gavin anak yang pintar, terkadang juga suka pergi ke warung atau toko dekat rumah untuk membeli jajan sendiri. Karena itu, Flora jika putranya mampu menjaga kepercayaannya.
Namun, sampai ia selesai potong rambut dan creambath, anak itu belum juga kembali. Terpaksa ia mencari-cari sendiri keberadaan Gavin di tempat yang terkenal ramai saat akhir pekan itu.
"Duh, anak itu kemana, sih ... Apa dia tersesat? Itu kan tidak mungkin. Dia pasti sudah bertanya pada orang atau pergi ke kantor polisi. Dia juga tidak mungkin sembarangan ikut orang asing kalau tidak kenal," gumamnya sambil terus mencari.
Saat melewati sebuah kafe, ia menghentikan langkah. Flora memundurkan langkahnya dan menatap ke arah jendela kaca. Ia lihat ada Alvaro tengah duduk di sana. Siapa sangka, Gavin juga ada di sebelah bosnya itu.
Tak menunggu lama, ia lantas masuk ke dalam kafe dan menghampiri mereka.
"Gavin!" seru Flora dengan ekspresi marah bercampur cemas.
Kehadiran Flora di sana mengundang perhatian beberapa pengunjung yang ada di sana, terutama yang sejak tadi menjadi penggemar dadakan Alvaro.
"Kamu sudah membuat Mama cemas, Sayang! Dari tadi Mama cari-cari kamu!" kata Flora.
"Eh, dia siapa, ya? Masa istrinya?"
__ADS_1
"Aku rasa iya. Itu kan anaknya ...."
"Duh, irinya ... Dia punya suami ganteng banget dan anaknya juga lucu, imut."
Flora heran sendiri mendengar ucapan beberapa orang yang seperti sedang mengomentari dirinya.
"Eh, Mama ... Sudah selesai, ya?" Gavin mengulaskan senyuman manisnya.
Flora mendekat dan mengelus kepala putranya. "Tadi bilangnya cuma mau beli mainan ... Mama kan jadi khawatir takutnya kamu hilang," ucapnya.
"Ini aku tadi sudah beli mainan, Ma. Papa yang bayarin!" kata Gavin seraya menunjukkan mainan yang didapatkannya.
Flora merasa tidak enak hati sudah membuat putranya merepotkan lelaki itu. Apalagi ada laptop di atas meja, ia yakin Alvaro tengah bekerja memanfaatkan akhir pekannya.
"Itu tidak perlu!" tepis Flora.
Mendengar niat lelaki itu, ia malah jadi takut. Ia merasa Alvaro ingin merebut Gavin darinya. Ia tak akan membiarkan hal itu terjadi.
Alvaro melipat kedua tangannya di dada. "Duduklah dulu dan pesan sesuatu yang kamu mau," katanya.
"Tidak, terima kasih. Kami mau langsung pulang saja," tolak Flora.
"Ma, makananku belum habis," protes Gavin yang masih senang menikmati spaghettinya.
Alvaro melayangkan tatapan tajamnya mengintimidasi Flora. "Duduk!" perintahnya.
__ADS_1
Flora menurut. Ia merasa bisa membaca bahasa isyarat Alvaro yang seakan mengatakan ia akan kesulitan di kantor kalau membantahnya. Ia lantas duduk di kursi sebelah Alvaro.
Alvaro memanggil seorang pelayan dan menyebutkan pesanannya untuk Flora. Sementara, Gavin melanjutkan makannya dengan riang apalagi ditemani oleh ibunya, juga lelaki yang mau ia panggil papa.
"Kamu jangan serakah tentang Gavin. Bagaimanapun juga aku turut andil dia bisa lahir ke dunia ini. Aku juga mewariskan ketampananku untuknya. Kamu pasti bahagia selali kan, bisa memiliki anak yang lucu dan tampan seperti Gavin?" kata Alvaro dengan nada lirih.
Flora yang mendengarnya serasa ingin muntah. Jiwa narsis lelaki itu benar-benar tidak bisa hilang. Mau di kantor atau di luar kantor, Alvaro selalu menjengkelkan.
"Hanya karena satu malam, bukan berarti kamu berhak atas putraku. Selama ini aku yang mengandungnya sendirian, melahirkannya sendirian, dan membesarkannya sendirian. Tidak ada kamu juga aku tetap bisa merawatnya dengan baik!" balas Flora. Ia bahkan sampai lupa menggunakan bahasa formalnya yang biasa digunakan untuk bercakap-cakap dengan Alvaro.
Kedua orang itu saling adu kata-kata sementara Gavin sibuk makan dan memainkan mainannya.
"Tapi kalau bukan karena aku, kamu nggak akan bisa melahirkan anak seperti Gavin. Dia tumbuh dari bibitku," ledek Alvaro. Ia sengaja menjulurkan sedikit lidahnya untuk meledek dan membuat Flora kesal. Kesabaran wanita itu memang setipis tisu.
"Apa hebatnya kalau hanya menitipkan bibit? Siapapun bisa melakukan hal yang sama seperti itu!" ujar Flora dengan kesal.
"Jadi, bagaimana? Kamu sendiri yang dulu kabur, kan? Padahal aku tetap mau bertanggung jawab. Bahkan kalau sekarang kamu mau aku menikahimu, akan aku lakukan! Aku orang yang sangat peduli dengan apa yang sudah aku lakukan," ucap Alvaro dengan serius. Ia bahkan sudah sangat ingin mengatakan kepada Gavin kalau dia benar-benar ayahnya. Namun, Flora sendiri yang menghalangi keinginannya.
"Sudah aku bilang, jangan memandang masalah dengan gampang. Perbuatanmu bisa membuat aku dan Gavin susah. Apalagi kalau sekarang ada mata-mata, nanti dikira aku pelakor. Tapi mungkin kamu memang maunya seperti itu. Kamu kan memang sangat suka menyusahkan aku!" gerutu Flora.
"Hah! Itu terus yang jadi alasan. Apa tidak bisa kita sama-sama menghadapinya? Kenapa kamu sangat takut?" tanya Alvaro.
Sejujurnya ia sangat ingin bersama dengan Flora dan Gavin. Flora wanita yang ia suka sejak lama. Mengetahuinya memiliki anak darinya, sungguh sangat membuatnya bahagia. Namun, Flora masih saja membencinya karena di masa lalu ia pernah menjadi orang yang sangat menyebalkan. Padahal kelakuan menyebalkannya dulu hanya untuk mencari perhatian Flora.
"Sudahlah, tidak perlu diperdebatkan lagi. Kita sama-sama sudah sepakat untuk tidak saling mencampuri urusan masing-masing. Kamu lebih baik fokus pada keluargamu saat ini."
__ADS_1