
"Ma, Mama ...," panggil Gavin.
Flora yang semula tengah termenung di dekat jendela menyadari panggilan putranya. Ia segera beranjak dari tempatnya untuk menemui Gavin yang masih terbaring di ranjang perawatan.
"Kenapa, Sayang? Kamu mau buang air?" tanya Flora.
Gavin menggeleng.
Flora mengerutkan dahi. "Kamu lapar? Mau makan?" tanyanya lagi.
"Tidak, Ma. Aku tidak mau apa-apa. Gavin hanya mau dekat mama," kata anak itu seraya meraih tangan Flora.
Flora mengembangkan senyum. Ia labuhkan sebuah kecupan manis di dahi putranya. "Mama akan selalu di sini menjaga Gavin."
"Ma, Papa nanti tidak kembali ke sini lagi, ya? Pasti Tante Prilly marah," ujar Gavin.
Flora terkejut mengetahui putranya ternyata masih memikirkan masalah siang tadi. Memang setelah ia menyuruh Alvaro pergi, lelaki itu belum juga kembali sampai malam.
"Papa pasti dilarang jadi Papanya Gavin. Mama sampai dipukul, kasihan Mama," tutur Gavin dengN polosnya.
Flora tetap berusaha tersenyum menunjukkan ketegarannya. Seolah ia tidak terpengaruh dengan apapun masalahnya.
"Papa pasti nanti kembali setelah urusannya selesai. Kamu jangan khawatir. Bagaimana kalau sekarang Gavin tidur dulu, siapa tahu besok pagi Papa sudah kembali," bujuk Flora.
Gavin terlihat menatap mata ibunya untuk menemukan kepastian.
***
Nyonya Suhay hanya bisa memijit keningnya saat membaca berkas-berkas yang Alvaro berikan kepadanya. Ia tidak menyangka jika selama ini Prilly telah membohonginya.
__ADS_1
Dulu, ia mengijinkan putranya menikahi Prilly sebagai bentuk tanggung jawab karena Prilly tengah hamil yang ia kira anak Alvaro. Apalagi malam itu keduanya memang sedang berusaha untuk dekat. Nyonya Suhay tidak keberatan, mengingat Prilly seorang artis yang tentu saja bisa meningkatkan prestise keluarganya.
Tidak disangka, menantu yang selama ini ia puji, ternyata membawa anak orang lain ke dalam rumahnya dan mengaku bahwa anak itu adalah cucunya.
"Aku dengar wanita itu berasal dari keluarga penuh masalah. Apa kamu yakin kalau anak itu benar-benar darah dagingmu?" tanya Nyonya Suhay dengan raut wajah yang sudah sangat kelihatan lelah.
"Aku yang melakukan tes DNA sendiri tanpa sepengetahuannya, Ma. Dia bahkan selalu mengelak setiap aku tanya karena tidak mau mengganggu pernikahanku dengan Prilly," jawab Alvaro.
Nyonya Suhay menghela napas. "Tapi, keluarganya sangat problematik. Aku rasanya tidak akan sanggup untuk mengenalkannya pada keluarga kita yang lain."
Sebelum bertemu dengan Alvaro, Nyonya Suhay sudah menyuruh anak buahnya untuk mencari tahu tentang kehidupan Flora. Wanita yang dicintai putranya berasal dari keluarga biasa-biasa saja. Wanita itu telah yatim piatu dengan seorang kakak perempuan yang sering mendapat masalah, terutama tentang perjudian, mabuk-mabukkan, dan hutang. Kepalanya sampai ingin pecah mendapatkan informasi tentang keluarga Flora.
"Ma, apa ada informasi jelek tentang Flora?" tanya Alvaro.
"Ya ... Memang tidak ada! Tapi, kelakuan kakaknya yang sempat keluar masuk penjara patut dipertanyakan seperti apa sifat dia dalam keluarga yang tidak jelas itu!" kilah Nyonya Suhay. Ia tetap kekeh menolak wanita yang putranya cintai.
Nyonya Suhay tampak menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia masih tidak bisa menerima Flora untuk masuk dalam keluarganya. Membayangkan nantinya akan banyak omongan rekan bisnis jika ia mengambil menantu dari keluarga yang tidak jelas asal-usulnya dan tidak sepadan.
"Kalau kamu tetap ngotot mau mengakui anak itu, bawa saja anakmu, kita bisa membesarkan dia tanpa ibunya. Bagaimanapun juga, ia memang anakmu," kata Nyonya Suhay.
Alvaro terdiam sejenak memikirkan ucapan ibunya. "Maaf, Ma. Kali ini aku ingin memiliki keluarga sendiri yang memang sudah aku impikan sejak dulu. Kalau Mama tidak bisa menerima Flora, biar aku yang keluar dari daftar keluarga ini supaya tidak memalukan Mama."
Cinta Alvaro kepada Flora sangat besar. Keputusannya kali ini sudah bulat. Ia telah bersiap untuk kehilangan segalanya asalkan bisa tetap bersama Flora.
"Alvaro! Kamu berani membantah Mama!" bentak Nyonya Suhay.
"Maaf, Ma. Aku akan melindungi anak dan istriku," kata Alvaro.
"Alvaro!" bentak Nyonya Suhay sekali lagi.
__ADS_1
"Kita hentikan saja perdebatan ini. Aku harus mengurusi putraku yang sedang sakit. Dia terkena anemia aplastik, Ma. Sisanya, terserah Mama mau apa," kata Alvaro.
Setelah menyelesaikan percakapannya dengan sang ibunda, Alvaro lantas berjalan pergi meninggalkan kediamannya. Ia meminta sopir pribadinya untuk mengantarkan ia kembali ke rumah sakit.
Tidak disangka di hari pernikahan yang baru saja dilaksanakan, terjadi hal yang sangat tidak diinginkan. Ia masih merasa bersalah kepada Flora.
Sesampainya di ruang perawatan Gavin, ia lihat Flora tengah tertidur di sisi ranjang dengan tangan mereka yang saling berpegangan.
Ada rasa haru bercampur bahagia menyaksikan dua orang yang sangat disayanginya. Gavin adalah putranya dan Flora adalah istrinya.
Perlahan ia berjalan mendekat, mengecup pipi Flora yang masih tertidur. Perbuatannya ternyata langsung membangunkan Flora.
Flora sangat terkejut ketika merasakan sesuatu menyentuh pipinya. Ia semakin kaget ketika menyadari Alvaro sudah berada di sana dan ternyata lelaki itu yang sudah menciumnya. Ia merasa canggung dengan perlakuan yang Alvaro berikan kepadanya.
"Boleh kan, kalau aku menciummu? Kita kan sudah menikah," ucap Alvaro.
Flora tertegun dan kikuk dengan ucapan Alvaro barusan. Ia sampai lupa jika tadi siang sudah sah menjadi istri lelaki itu.
"Anda sudah kembali, Pak? Apa urusannya sudah selesai?" tanya Flora dengan nada bicara yang kaku.
Alvaro mengerutkan dahinya. "Kenapa kamu masih bicara seperti kepada atasan? Aku kan suamimu," protesnya.
Flora terlihat bingung menjawabnya. Ia merasa salah tingkah karena belum terbiasa dengan status barunya sebagai seorang istri.
"Ini kan terlalu cepat terjadi, aku masih butuh beradaptasi," kilah Flora.
"Untuk apa adaptasi? Tinggal bicara biasa saja dan panggil aku "Mas" atau "Sayang" apa susahnya? Masa dicium saja kaget," sindir Alvaro. Ia tertawa kecil melihat ekspresi lucu yang Flora buat.
Flora sampai tercengang dengan tingkah aneh lelaki di hadapannya. Alvaro seperti bersikap biasa saja padahal dia sangat gugup setiap kali lelaki itu membahas status pernikahan mereka sekarang.
__ADS_1