
Alvaro menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah besar bercat putih bak istana. Ia meminta Flora dan Gavin turun.
Flora tertegun memandangi bangunan indah itu. Seumur hidup, baru kali ini ia melihat rumah semewah itu tepat di depan matanya.
"Papa, ini dimana?" tanya Gavin.
"Ini rumah Papa. Nanti kamu akan tinggal di sini," kata Alvaro.
Flora tercengang dengan keputusan lelaki itu. "Apa? Yang benar saja, masa kamu mau menitipkan Gavin di sini? Di dalam pasti ada istri dan anakmu, kan?" gerutunya.
Ia tidak habis pikir Alvaro bisa memutuskan hal itu dengan seenaknya sendiri. Menitipkan Gavin di sana, sama saja seperti memasukkan domba ke sarang serigala.
Flora mendekat ke arah Gavin dan berbisik, "Sayang, di sini kamu tidak boleh memanggil Om Alvaro sembarangan. Kamu tahu kan, Om Alvaro punya anak, nanti dia marah," ucapnya mengingatkan.
Gavin mangguk-mangguk.
"Di dalam juga ada banyak pelayan yang bisa mengasuh Gavin dengan baik. Kamu tenang saja," kata Alvaro menenangkan.
Ia berjongkok hingga tingginya sama dengan Gavin. "Di dalam rumah ada banyak mainan. Papa yakin kamu akan suka tinggal di sini," ucapnya pada Gavin.
"Yeay!" Gavin bersorak gembira.
Alvaro mengangkat anak itu ke dalam gendongannya. Ia membawanya melangkah masuk ke dalam rumah. Sementara, Flora hanya bisa menghela napas dan mengikuti mereka.
Saat mereka memasuki rumah besar itu, beberapa pelayan datang menyambut kehadiran mereka. Flora dan Gavin dibuat takjub oleh kemewahan di dalam sana, rumah itu benar-benar seperti istana.
"Papa ...." seru Leonard dengan girangnya. Anak itu berlari menuruni tangga saat mengetahui ayahnya pulang.
Alvaro menurunkan Gavin dari gendongannya, lalu menyambut putranya dengan pelukan. Ia menempelkan telapak tangannya pada dahi Leon untuk mengecek suhu tubuhnya. Ia mengerutkan dahi.
"Katanya kamu demam?" tanya Alvaro heran. Anak itu terlihat sehat-sehat saja.
"Tidak, Pa. Leon baik-baik saja," ucap anak itu dengan polosnya.
__ADS_1
Alvaro sudah bisa menebak, pasti hanya akal-akalan Prilly saja untuk memancingnya agar pulang.
"Leo memang semalam badannya panas, Sayang. Tapi sekarang sudah sembuh karena aku bilang kamu akan pulang," sahut Prilly yang muncul dari arah halaman samping.
Wajah Prilly yang awalnya penuh senyum seketika berubah muram saat melihat kehadiran Flora di rumahnya.
"Papa, mereka siapa?" tanya Leon penasaran. Ia menatap anak laki-laki yang seumuran dengannya.
"Oh, iya. Papa sampai lupa. Hari ini Papa pulang membawa seorang teman untuk Leon. Namanya Gavin, dia anaknya Tante Flora itu." Alvaro mengenalkan Leonard kepada Gavin, ia menurunkan Leonard agar bisa menyapa Gavin.
"Halo, namaku Gavin," kata Gavin seraya mengulurkan tangannya.
"Aku Leonard," jawab Leon seraya berjabat tangan dengan Gavin.
"Leon, ajak Gavin main dulu, ya! Kamu mau, kan?" bujuk Alvaro.
Leonard menggangguk. "Ayo, ikut aku," ajaknya. Ia menggandeng tangan Gavin dengan tulus dan mengajaknya menuju area bermain yang ada di rumah itu.
Sementara, Alvaro meminta Flora ikut dengannya untuk duduk di ruang tengah. Prilly merasa tidak terima Alvaro membawa wanita lain ke rumah, apalagi menyuruh putranya untuk bermain dengan anak dari wanita yang dibencinya.
Alvaro melirik dan menatap tidak suka. "Memangnya kenapa? Sejak kapan aku harus meminta ijinmu untuk melakukan sesuatu?"
Prilly menjadi mati kutu. "Ah, maksudku bukan begitu. Aku hanya bertanya saja," katanya setengah takut. Ia tidak ingin hubungannya yang tidak harmonis diketahui oleh orang lain.
"Besok aku akan ada pekerjaan di luar kota selama dua hari. Nanti malam aku dan Flora akan berangkat. Selama aku pergi, Gavin akan tinggal di sini," kata Gavin.
Prilly melotot. "Apa? Maksudmu aku harus mengasuh anak itu?"
Ia sangat terkejut mendengar keputusan Alvaro. Seenaknya saja dia membawa anak dari wanita lain lalu menitipkannya di sana. Padahal waktu saja tidak pernah Alvaro berikan untuk keluarganya.
"Untuk apa aku menyuruhmu untuk mengasuh Gavin? Ada banyak pelayan di rumah ini yang bisa menjaganya," tepis Alvaro.
"Tapi ... Tapi ... Masa hanya untuk anak dari karyawan saja sampai harus tinggal di sini?" protes Prilly. Ia tidak mau anak Flora mendapatkan perlakuan istimewa dari Alvaro. Bahkan putranya saja tidak pernah lelaki itu perhatikan. Melihat Alvaro begitu peduli dengan Gavin sungguh membuatnya kesal.
__ADS_1
"Pekerjaanku akan kacau kalau Flora tidak ikut menangani. Dia juga belum menemukan pengasuh untuk anaknya. Tapi kalau kamu memang tidak suka, aku bisa membawanya ke apartemen dan memberikan beberapa pelayan dari sini untuknya!" tegas Alvaro. Ia merasa kesal mendengar Prilly terkesan ingin mengaturnya.
Prilly tersenyum kikuk. "Jangan! Biar anak itu di sini saja, tidak apa-apa."
Prilly terpaksa mengalah. Ia tidak rela anak Flora mendapatkan fasilitas yang lebih baik dari putranya. Bahkan ia dan anaknya belum pernah diajak ke apartemen milik Alvaro yang terkenal sangat mewah dan mahal di pusat kota. Selama ini Alvaro tinggal di sana untuk menghindari dirinya.
"Kamu itu aneh. Padahal Leon pasti sangat suka kalau mendapatkan teman bermain," sindir Alvaro.
Prilly tak bisa lagi berkata-kata. Ucapan tuan rumah sudah seperti titah raja yang tidak bisa dibantah.
"Iya, terserah saja kalau begitu. Aku mau kembali ke kamar dulu!"
Prilly buru-buru pamit menuju kamarnya. Ia sudah menahan kekesalan selama melihat Flora. Ia heran kenapa suaminya sangat perhatian dengan wanita itu.
"Aku sudah bilang pasti akan ada yang tidak suka kalau Gavin di sini," kata Flora. Ia jelas bisa membaca ekspresi tidak suka yang Prilly perlihatkan. Ia cemas meninggalkan Gavin di rumah itu.
"Tidak usah khawatir, ada banyak pelayan yang akan menjaganya selama di sini," jawab Alvaro.
Ia melambaikan tangan memanggil salah seorang pelayan senior di rumahnya.
"Bibi, tolong jaga anak yang aku bawa tadi. Namanya Gavin. Dia akan tinggal di sini selama dua hari. Perhatikan dia, jangan sampai terluka. Kalau sedang bermain dengan Leon, awasi, jamvan sampai mereka bertengkar," pinta Alvaro.
"Baik, Pak. Akan saya lakukan."
"Gavin sangat suka spaghetti. Dia juga suka steak dan rendang. Kamu bisa membuatkan menu itu untuknya selama di sini," imbuh Alvaro.
"Baik, Pak."
"Kamu boleh pergi. Katakan kepada pelayan yang lain apa yang aku sampaikan tadi. Jangan membuat aku kecewa."
Pelayan tersebut mengangguk, lalu pamit undur diri kembali ke tempatnya bekerja.
"Bagaimana? Kamu sudah merasa lega sekarang?" tanya Alvaro.
__ADS_1
Flora tidak ingin berkomentar. Alvaro tipe orang yang melakukan sesuatu sesuka hatinya. Ia mengalihkan perhatian ke arah putranya yang sedang bermain kejar-kejaran dengan riang bersama Leon. Ia rasa cukup tenang karena anak Prilly kelihatan baik, setidaknya tidak mirip dengan ibunya.