
"Mama ... Kita hari ini mau ketemu Papa, ya?" tanya Gavin dengan raut wajah girangnya.
"Iya, Sayang. Nanti di kantor pokoknya Gavin nggak boleh keluar-keluar dari ruang kerja mama, oke? Kalau ketahuan nanti bisa diusir," ucap Flora.
Gavin mengangguk setuju.
Flora mengajak Gavin datang ke kantor pagi-pagi sekali sebelum banyak orang datang. Ia menunggu saat satpam lengah untuk membawa anaknya ikut masuk ke dalam. Dengan memakai lift khusus yang diberikan akses oleh Alvaro, akhirnya ia bisa mengajak Gavin naik ke lantai atas tempatnya bekerja.
Ruang kerja Flora menyatu dengan ruang kerja Alvaro, hanya ada sekat dinding dan pintu kaca. Tidak akan ada karyawan lain yang datang ke sana, kecuali ada perlu penting. Flora merasa akan aman membawa anaknya ke tempat kerja.
Flora terpaksa membawa Gavin bersamanya. Sekolah Gavin libur dan ia tidak ada kenalan untuk menitipkan anaknya. Apalagi setelah kejadian waktu itu saat Gavin diculik oleh Samantha, ia menjadi kurang percaya dengan orang lain. Bahkan ia berniat untuk memindahkan sekolah anaknya karena pernah dikecewakan akibat pihak sekolah sembarangan menyerahkan anaknya pada orang tak dikenal, yaitu kakaknya.
"Sayang, pokoknya kamu tidak boleh nakal. Tetap berada di ruangan ini, jangan berkeliaran kemana-mana!" sekali lagi Flora mengingatkan putranya.
Ia meminta Gavin untuk duduk di sudut ruangannya dekat dinding. Ia keluarkan bekal makanan yang belum sempat disantap karena buru-buru berangkat. Ia juga memberikan kantong berisi mainan dan tablet untuk menemani putranya selama ia bekerja.
"Papa mana ya, Ma?" tanya Gavin sembari mulai menyendokkan bekal buatan ibunya ke dalam mulut.
"Dia belum berangkat. Berhenti memanggilnya Papa selama kita di sini," kata Flora. Ia sudah duduk di depan layar monitornya dan mengecek bahan presentasi hari ini yang belum ia selesaikan.
"Kenapa memangnya, Ma? Papa juga tidak keberata aku panggil Papa. Lagi pula Papa orang baik, tidak akan marah sama Gavin," jawab anak itu dengan enteng.
"Mama kan sudah bilang kalau Pak Alvaro itu sudah punya anak. Nanti anaknya marah kalau dengar kamu memanggil ayahnya dengan sebutan papa."
Gavin manyum mendengar nasihat dari ibunya. Ia merasa bahwa Alvaro memang ayahnya. Ia akan tetap memanggilnya papa.
Gavin melanjutkan sarapannya. Sesekali tangannya memainkan mainan yang sengaja dibawakan oleh ibunya. Ia menghibur dirinya sendiri yang tidak punya teman. Sementara, ibunya terlihat tengah sibuk bekerja.
"Aduh, keburu nggak ya, kalau aku kejar. Mana sebentar lagi pasti orang itu akan datang!" gumam Flora dengan wajah cemasnya sembari terus mempertahankan ketikannya.
__ADS_1
"Mama ...," panggil Gavin.
"Aduh, Gavin, makan dulu sarapanmu. Jangan ganggu mama, ya! Mama sedang sibuk!" pinta Flora. Ia mengabaikan anaknya yang tengah berdiri di sampingnya.
"Aku tidak mau mengganggu Mama, kok. Aku kan cuma mau menyuapi Mama," kata Gavin dengan polosnya.
Mendengar perkataan lembut itu, hati Flora seketika luruh. Ia menatap anaknya dengan penuh cinta. Ia mengira anaknya ingin mengganggu, padahal Gavin sepeduli itu padanya.
"Mama juga tadi buru-buru jadi tidak sempat sarapan, kan? Mama lanjutkan saja kerjanya sambil Gavin suapi," ucap anak itu.
Flora mengulaskan senyum. Ia mengangguk setuju. Saat sendok makan Gavin arahkan kepadanya, ia langsung melahapnya dengan bahagia. Gavin juga terlihat senang. Flora meneruskan pekerjaan sambil Gavin yang sesekali menyuapinya.
"Sayang ...."
Terdengar suara dari arah pintu yang mengagetkan. Gavin reflek bersembunyi di samping Flora.
Prilly mematung di tempatnya saat melihat keberadaan Flora di ruang kerja suaminya. Ia tidak menyangka akan bertemu kembali dengan wanita itu di sana. Apalagi sebelumnya mereka pernah bertengkar.
"Apa kamu tidak bisa lihat? Aku sedang bekerja," jawab Flora dengan nada bicara tenang, menunjukkan bahwa ia tidak takut dengan wanita itu.
Prilly kesal dengan keberanian Flora. "Kamu benar-benar wanita tidak tahu diri, ya! Apa sekarang kamu sedang berusaha merayu suamiku?"
Flora menyunggingkan senyuman sinis. "Maaf, sepertinya yang tidak tahu diri itu kamu sendiri. Aku di sini melamar kerja sesuai prosedur dan akhirnya bisa menempati posisi ini. Aku tidak pernah melamar untuk jadi istri Pak CEO. Tapi, kalau Beliau membuka lowongan, mungkin aku akan mencoba mendaftar," ujarnya.
Ia sangat benci dengan Prilly. Sejak dulu wanita itu hanya ingin menang sendiri dan suka playing fictim. Apalagi lagunya juga pernah ia curi. Sekarang, ia tak mau menjadi wanita yang lemah lagi.
"Kurang ajar kamu! Berani sekali kamu di depanku? Awas saja nanti kamu akan aku pecat!" ancam Prilly.
"Silakan kalau mau memecatku hanya karena masalah pribadi. Artinya perusahaan ini memang diragukan kredibilitasnya karena seenaknya sendiri memecat karyawan," tantang Flora. Ia tahu persis tidak mudah untuk memberhentikan karyawan, apalagi ia sudah didapuk sebagai seorang karyawan tetap.
__ADS_1
Prilly mengepalkan tangannya menahan kekesalan. "Ternyata sekarang kamu semakin licik. Jangan-jangan kamu membawa anak haram itu untuk mengaku kalau sebenarnya Alvaro adalah anaknya."
Flora hanya bisa menyunggingkan senyum terhadap ucapan Prilly. "Apa kamu sedang membicarakan dirimu sendiri?" tanyanya.
"Kurang ajar!" Pekik Prilly.
Ia berjalan mendekat ke arah Flora. Menarik kasar tangannya sampai harus bangkit dari tempat duduk. Kemudian, Prilly mendorong kuat tubuh Flora hingga jatuh ke lantai.
"Mama ...." seru Gavin seraya berlari mendekat ke arah Flora.
"Kenapa kamu jahat sama mama Gavin? Itu tidak boleh!" omel Gavin.
"Hahaha ... ibu dan anak sama saja! Akan lebih baik lagi kalau kalian berdua lenyap dari dunia ini. Dasar anak haram!" sindir Prilly.
Flora tidak terima. Ia langsung punya kekuatan untuk berdiri dan mencengkeram kerah leher Prilly. "Berhenti mengucapkan kata seperti itu atau aku robek mulutmu!"
"Kenapa? Memang itu kenyataannya, kan? Anak itu memang anak haram!" ucap Prilly dengan lantangnya.
Keduanya saling menerkam dan menjambak rambut satu sama lain. Kemarahan dan kekesalan menyatu, membuat mereka bersaing menunjukkan yang terbaik.
"Apa-apaan ini?"
Alvaro yang baru masuk ke ruangannya dikejurkan oleh istri dan sekertarisnya yang sedang bertengkar. Seketika keduanya menyudahi pertengkaran.
"Em, Sayang, akhirnya kamu datang. Sekertarismu ini kasar sekali padaku, padahal aku hanya menanyakan tentangmu," ucap Prilly dengan nada memanja. Ia menggandeng lengan Alvaro dan menyandarkan kepalanya.
"Bohong!" kilah Flora. "Tadi dia bilang putraku itu anak haram!"
Flora mengatakan apa adanya. Ia juga ingin menyindir perbuatan Alvaro di masa lalu. Berkat kejadian malam itu, Flora mengalami masa-masa yang sulit sampai anaknya ikut jadi korban karena selalu dikatakan sebagai anak haram.
__ADS_1
Alvaro yang mendengarnya langsung menatap Prilly dengan kesal. Wajahnya terlihat garang.
"Sayang, tidak seperti itu, kok! Dia terlalu berlebihan," kilah Prilly.