
Alvaro fokus mengemudikan mobilnya melintasi jalanan yang cukup macet saat jam pulang kerja. Beberapa kali ia harus berhenti karena lampu merah. Flora duduk di sampingnya sementara Gavin di kursi belakang tengah sibuk merakit mainan.
"Maafkan saya hari ini sudah terlalu banyak merepotkan Anda, Pak. Apalagi permintaan Gavin juga ada-ada saja," ucap Flora dengan perasaan yang tidak enak hati.
"Tidak apa-apa. Lagipula aku juga tidak terlalu sibuk," kata Alvaro.
Flora menoleh ke arah lelaki itu. "Tapi, Anda bukannya mau balik ke kantor? Saya juga jadi tidak enak dengan yang lain. Mereka pasti sedang menunggu Anda."
"Kenapa kamu terlalu banyak memikirkan hal yang tidak perlu? Itu urusanku," tepis Alvaro.
"Bagaimanapun juga, Anda masih di sini karena harus mengantar saya." Flora semakin merasa tidak enak hati.
"Aku sudah mengabari mereka kalau aku tidak bisa datang. Jadi, meeting akan dipimpin oleh kepala manajer proyek. Kamu tenang saja."
Flora menjadi sedikit tenang.
"Kamu setiap hari mengantar Gavin sekolah jalan kaki?" tanya Alvaro.
"Iya, Pak. Sebenarnya kalau lewat jalan pintas lumayan dekat. Tapi, tidak bisa dilalui kendaraan."
Kontrakan yang ditempati Flora dan Gavin memang terletak di kawasan pemukiman padat tak jauh dari sekolah dan kantor. Hanya saja, jalan utama harus memutar sehingga terkesan jauh.
"Kenapa kamu memilih membesarkan anakmu sendiri? Di negara ini sulit untuk menerima keadaan sepertimu. Kamu lihat sendiri anakmu di-bully temannya tadi."
"Apa Anda mau menikahi saya?" sahut Flora.
"Apa?" Alvaro tercengang mendengar ucapan Flora. Ia melirik ke spion belakang, untung saja Gavin sedang tertidur.
"Anda sepertinya tiba-tiba peduli dengan kehidupan pribadi saya. Jadi, apa Anda mau bertanggung jawab pada kehidupan saya?" pancing Flora.
Alvaro tertawa kecil mendengar keberanian wanita di sampingnya itu bicara. "Oke, kapan kamu siap aku nikahi?" tanyanya setengah bercanda.
Flora tidak menyangka Alvaro akan merespon demikian.
"Saya sarankan Anda tidak perlu terlalu peduli dengan kehidupan kami. Nanti Anda akan repot sendiri. Apalagi Anda juga sudah punya anak dan istri. Saya justru menjadi tidak enak hati sendiri."
Ucapan Flora begitu menusuk sampai ke hati. Alvaro memang lupa kalau dirinya sudah menikah.
"Kadang saya heran dengan Anda. Dulu Anda bukannya sangat suka mem-bully saya? Memberikan candaan yang keterlaluan dan memanggil dengan julukan yang mengejek. Saat tahu anak saya di-bully, kenapa Anda tiba-tiba mau menjadi pahlawannya?" ujar Flora.
__ADS_1
Lagi-lagi ucapan Flora sangat mengena. Ia seperti tengah disindir habis-habisan. "Kamu masih dendam? Itu kan masa lalu," ujarnya.
"Oh, iya? Masa lalu? Sepertinya masih berlanjut sampai sekarang," tukas Flora. "Kalau saya tidak sakit seperti ini, pasti Anda tidak akan berhenti memberikan saya pekerjaan yang banyak," sindirnya.
"Berani sekali kamu menyindirku secara terang-terangan? Apa kamu tidak takut aku pecat?" tanya Alvaro. Ia membawa-bawa kekuasaannya untuk menakuti Flora.
"Saya sudah bilang, silakan saja kalau Anda mau memecat saya," kata Flora dengan santai.
Alvaro heran Flora sekarang tidak ada takut-takutnya dengan dia. Dulu waktu SMA, Flora selalu berusaha kabur setiap ia dekati.
Ia menyeringai. "Tidak semudah itu. Nanti kamu terlalu bahagia kalau aku pecat. Cepatlah sembuh supaya aku bisa menyiksamu lagi dengan pekerjaan di kantor," katanya tak mau kalah.
Flora memutar malas matanya.
Alvaro ingin sekali mengungkapkan alasan sebenarnya mengapa ia dulu sangat suka mengganggu Flora. Namun, wanita itu tampaknya sudah terlalu lelah apalagi mengalami kejadian tak terduga di tempat proyek.
***
Beberapa saat kemudian, Flora menyuruh Alvaro menghentikan mobilnya di depan pertigaan. Katanya untuk mencapai kontrakannya tidak bisa dilewati oleh mobil. Akhirnya mereka berjalan kaki melewati gang kecil. Alvaro menggendong Gavin yang baru bangun tidur.
"Rumahmu dimana?" tanya Alvaro bingung.
Gavin hanya senyum-senyum melihat kedekatan mereka. Dalam pikiran anak kecil itu, akan lengkap rasanya jika mereka menjadi satu keluarga. Gavin sangat menginginkan sosok seorang ayah.
"Kalian tinggal di sini?" tanya Alvaro.
Ia tertegun melihat tempat tinggal Flora. Terletak di gang sempit yang bahkan tidak bisa dilewati mobil. Rumah itu juga kelihatan kecil mungkin hanya seukuran bangunan tempat satpam yang ada di rumahnya. Baginya itu hanya gubuk.
"Iya. Ini rumah kontrakkanku," kata Flora sembari membuka pintu rumahnya. "Gavin, turun, Sayang. Kita sudah sampai," pinta Flora.
Bukannya segera turun, anak itu justru semakin menempel pada Alvaro. Gavin memeluknya dengan erat.
"Gavin," panggil Flora.
"Aku masih mau sama Papa!" ucap anak itu dengan polosnya.
Flora dan Alvaro sama-sama tercengang.
"Gavin tidak boleh seperti itu. Om nya mau pulang dulu, nanti kemalaman," pinta Flora dengan nada lembut.
__ADS_1
"Tidak mau! Katanya kan Om Ganteng mau jadi Papa Gavin satu hari. Ini belum satu hari. Gavin masih mau sama Papa!"
Flora dan Alvaro saling berpandangan.
"Baiklah kalau begitu, Papa akan antar Gavin ke dalam." Alvaro mengalah.
Flora tidak berdaya melarangnya. Ia membiarkan Alvaro membawa anaknya masuk ke dalam rumah. Gavin terlihat sangat bahagia.
"Gavin, kamu mandi dulu, ya!" pinta Flora.
Gavin masih tidak mau turun dari gendongan Alvaro. "Papa nggak pergi kan, kalau Gavin mandi?" tanyanya.
Anak itu sangat pintar. Ia tidak mau ditinggal saat ia sedang lengah.
"Kamu takut Papa pergi?" tanya Alvaro.
"Iya, hari ini kan sangat menyenangkan. Ini pertama kalinya aku punya Papa."
Ucapan Gavin membuat Alvaro tersentuh. "Baiklah, Papa akan tetap di sini sampai kamu selesai mandi," katanya.
Gavin menggeleng. "No! Papa harus bersamaku sampai kita nanti makan malam. Masakan Mama sangat enak."
"Oke, mandilah dengan tenang. Papa tidak akan kemana-mana," kata Alvaro meyakinkan.
Barulah Gavin mau turun dari gendongan Alvaro dan berlari menuju kamar.
"Anda boleh pulang sekarang, Pak. Mumpung Gavin sedang mandi," kata Flora.
"Tidak boleh!" seru Gavin. Ternyata ia masih mengintip dari balik pintu.
Flora menepuk dahinya. "Dia memang sangat keras kepala," gumamnya. Ia tidak menyangka putranya masih mengintip di sana.
Alvaro hanya tertawa kecil. "Gavin, mandilah! Papa janji tidak akan pergi," ucapnya untuk meyakinkan. Akhirnya Gavin benar-benar mau masuk ke dalam kamar mandi.
"Uh, panas sekali," kata Alvaro sambil mengibas-ngibaskan tangannya. Ia juga melepaskan jas yang dikenakannya.
"Silakan duduk dulu, Pak. Biar saya ambilkan kipas angin!" kata Flora seraya berlari masuk ke dalam.
Alvaro duduk di sofa ruang tamu. Rumah itu benar-benar terlihat kecil. Bahkan tidak dilengkapi dengan AC dan terasa sangat panas.
__ADS_1
"Kenapa mereka bisa tahan tinggal di tempat seperti ini, " gumamnya.