Papaku Seorang CEO

Papaku Seorang CEO
Bab 24: Bicara Hati ke Hati


__ADS_3

"Kenapa kamu menyembunyikan ini dariku, Flora?"


Alvaro begitu terlihat marah saat mengetahui penyakit yang diderita putranya. Ia tidak menyangka jika ternyata Gavin memiliki penyakit yang terdengar sangat mengerikan dari penjelasan dokter.


Beruntung Gavin cepat mendapatkan penanganan di rumah sakit dan golongan darahnya sama dengan Gavin. Anak itu kehilangan cukup banyak darah akibat benturan. Kondisinya masih kritis dan mendapat penanganan dari dokter.


Keduanya menunggu di luar ruangan karena tidak diperbolehkan masuk oleh tim medis.


Flora masih menangis sesenggukkan mengkhawatirkan putranya. Ia tidak bisa berpikir dengan baik di situasi seperti itu.


"Flora ... Jawab aku!" desak Alvaro yang masih kesal.


"Kamu pikir ini mudah? Aku juga bingung!" bantah Flora setengah berteriak. Pertanyaan Alvaro sangat mengganggunya, sementara ia ingin menenangkan diri terlebih dahulu.


"Kamu itu ibu yang seperti apa? Tega memisahkan anaknya sendiri dari ayahnya. Kalau tahu kondisi Gavin seperti ini, sejak awal biar aku ambil saja dia darimu."


"Kalau Gavin bersamaku, aku bisa memberikan perawatan dan dokter terbaik untuknya. Kelakuanmu ini malah membahayakan kondisi Gavin!"


Alvaro sangat kecewa dengan sikap Flora. Sejak awal, wanita itu terus menyembunyikan fakta jika Gavin adalah putranya. Kalau dia tidak menyelidiki sendiri masa lalunya, Flora tidak akan pernah mau jujur kepadanya.


"Kamu tidak pernah berada di posisiku, jangan menganggap bahwa kamu satu-satunya orang yang bisa mengambil keputusan dengan bijaksana!"


Sebagai seorang ibu yang telah membersamai Gavin selama enam tahun, tentu saja Flora tidak mau putranya diambil.


Alvaro ingin sekali mengungkapkan umpatan kemarahannya saking kecewa, namun ia menahan diri untuk tetap bersabar.


"Kamu kira aku tidak kesulitan selama ini? Aku juga mencari-cari siapa wanita yang malam itu tidur denganku karena aku mau bertanggung jawab! Kamu sendiri yang kabur dariku!"

__ADS_1


Flora menatap Alvaro secara tajam. "Aku melakukannya untuk menjaga perasaan anak dan istrimu! Kalau aku mau, pasti sudah aku umumkan kepada semua orang kalau Gavin adalah putramu!"


"Selama ini aku sudah melakukan banyak hal untuk kesembuhan Gavin. Aku sudah menghubungi berbagai rumah sakit sampai yayasan donor internasional untuk mendapatkan sumsum tulang yang cocok dengannya. Tapi, sampai sekarang belum ada kabarnya."


"Kamu juga tidak tahu apa saran yang dokter berikan kepadaku," imbuh Flora. Ia mengusap sisa-sisa air matanya.


"Apa? Dokter menyarankan apa? Kalau masalah biaya itu tidak masalah denganku, berapapun akan aku berikan untuk kesembuhan Gavin." Alvaro tidak sabaran untuk mendengarnya. Ia ingin yang terbaik untuk putranya.


"Dokter menyuruhku punya anak lagi!" jawab Flora dengan tegas.


Alvaro tertegun mendengar jawaban yang terdengar tidak masuk akal itu.


"Kata dokter, saudara kandung dari Gavin lebih memungkinkan untuk memiliki kecocokan sumsum tulang belakang untuk didonorkan kepada Gavin," terang Flora.


Alvaro sigap meraih tangan wanita itu hingga kedua mata mereka saling bertatapan. "Ayo kita menikah!" ucapnya dengan spontan.


"Memangnya kenapa? Kalau itu solusinya, kenapa tidak kita lakukan? Dari pada kamu menikah dengan sembarangan orang, anakmu mungkin tidak akan punya kecocokkan yang tinggi dengan Gavin. Lebih baik menikah denganku, kan? Karena Gavin memang anak kandungku. Jika orang lain yang menjadi suamimu, dia juga belum tentu bisa menyayangi Gavin seperti aku menyayanginya. Apa kamu masih mau keras kepala tentang hal ini?"


Alvaro berbicara dengan sangat serius. Ia tidak memikirkan hal lain lagi kecuali untuk kesembuhan Gavin.


"Jangan lupa, Alvaro. Kamu sudah punya istri dan anak. Mereka akan tersakiti jika mendengar ucapanmu ini," ujar Flora. Seandainya semudah itu, sudah lama ia akan memutuskannya.


Alvaro terdiam sejenak. "Aku akan menceraikan Prilly dan menikahimu," ucapnya enteng.


"Apa?" Flora tidak percaya dengan kenekadan Alvaro. "Semudah itu kamu mengambil keputusan? Kamu ini lelaki apa bukan?"


Flora saja selama ini menahan diri untuk tidak melukai siapapun. Tapi, Alvaro terlalu mudah mengikuti kemauannya sendiri tanpa peduli perasaan orang lain.

__ADS_1


"Aku menikahi Prilly hanya untuk menutupinya dari rasa malu karena sudah hamil duluan. Leon itu bukan putraku. Apa aku harus mendahulukan perasaan mereka dibandingkan dengan keselamatan putraku sendiri?" tanya Alvaro.


Kini, Flora yang mematung mendengar kenyataan itu.


Alvaro kembali meraih tangan Flora, wanita yang telah lama dicintainya. "Kamu tidak tahu betapa bahagianya saat aku tahu jika kamu adalah wanita yang aku tiduri malam itu. Bukan karena aku sengaja melakukannya, tapi aku bahagia wanita itu adalah kamu, satu-satunya wanita yang pernah aku cintai sekian lama sejak kita masih SMA." akhirnya ia mengungkapkan kejujuran perasaannya.


"Hah! Jangan bercanda!" Flora tidak ingin mempercayai ucapan Alvaro. Ia berusaha melepaskan tangan lelaki itu darinya, namun tidak bisa. Ia tidak percaya jika Alvaro punya perasaan itu terhadapnya. Saat SMA, lelaki itu bahkan suka mem-bully dirinya yang masih gendut.


"Aku sedang tidak ingin bercanda, Flora! Aku mau jujur padamu!" tegas Alvaro.


"Kelakuanmu selalu menggangguku sampai aku tidak betah sekolah. Kamu juga bilang kalau aku gendut dan jelek. Mana ada orang yang suka seseorang tapi malah mengejeknya setiap hari?" tepis Flora.


"Ada! Itu aku ... Aku orangnya. Aku memang menyukaimu sejak dulu. Makanya aku suka mengganggumu supaya mendapatkan perhatianmu," jawab Alvaro.


Flora anak yang terkenal pintar dan pendiam saat SMA. Badannya memang sedikit gemuk dengan kacamata tebal yang selalu dikenakan. Penampilannya terbilang culun dan menurut Alvaro yang tipe anak gaul, sangat sulit untuk mendekati wanita seperti Flora. Apalagi status sosial mereka berbeda.


Sejak kecil Alvaro diajari orang tuanya untuk memilih pertemanan yang setara. Begitu pula saat memilih pasangan. Jika orang tuanya tahu ia menyukai seorang gadis dari kalangan biasa, orang tuanya pasti akan menjauhkan Flora darinya.


Hanya satu cara agar Alvaro bisa selalu dekat dengan Flora tanpa membuat siapapun curiga, yaitu dengan melakukan hal-hal menyebalkan untuk mengganggu Flora. Semua orang mengira jika Alvaro suka mem-bully Flora. Pada kenyataannya, itu hanya caranya untuk bisa dekat dengan Flora tanpa ketahuan.


"Kalau kamu menikah denganku, aku pastikan akan membuatmu bahagia, karena aku sangat mencintaimu. Aku juga akan menyayangi Gavin. Flora, ayo menikahlah denganku," ucap Alvaro meyakinkan.


Flora masih belum bisa memutuskan. Rasanya aneh mendengar pengakuan cinta yang tiba-tiba dari lelaki menyebalkan itu. Bahkan sikap menyebalkan Alvaro masih berlanjut saat ia pertama kali diterima kerja di perusahaan.


"Keluarga pasien Anak Gavin, silakan bisa masuk ke ruangan. Anaknya sudah sadar."


Seorang perawat muncul dari balik pintu ruang perawatan, menghentikan pembicaraan serius keduanya. Segera mereka menghampiri perawat tersebut untuk melihat kondisi Gavin.

__ADS_1


__ADS_2