Papaku Seorang CEO

Papaku Seorang CEO
Bab 6: Peninjauan Proyek


__ADS_3

"Sudah berapa persen pembangunannya?" tanya Alvaro.


"Sudah 90 persen, Pak. Ini tinggal penyelesaiannya saja," jawab Pak Bowo yang menjadi penanggung jawab proyek.


Alvaro tengah meninjau lokasi pembangunan resort baru milik perusahaannya. Ia datang bersama Flora dan beberapa staf lain. Ia sedikit kecewa karena penyelesaian resort itu tidak sesuai dengan perjanjian awal.


"Kalau belum selesai, kenapa kalian biarkan ada pengunjung datang? Bukankah itu akan mengganggu proses pembangunan?"


Pak Bowo terlihat gugup. Apalagi dengan ekspresi wajah Alvaro yang tampak mengintimidasi. "Ah. Itu, Pak. Tujuannya untuk uji coba saja. Ternyata lumayan banyak peminatnya."


"Makanya kalau bekerja sesuaikan dengan rencana! Seharusnya pembangunan sudah selesai akhir bulan lalu. Tapi ini sudah hampir akir bulan lagi pekerjaan belum beres juga!" omel Alvaro.


"Iya, Pak. Kami akan usahakan secepatnya selesai. Ada beberapa kendala yang membuat pekerjaan kami terhambat."


"Itu resiko kalian sebagai tim lapangan. Apapun yang terjadi, kalian tetap yang bertanggung jawab!" tegas Alvaro.


Dia memang terkenal sebagai seorang CEO yang teguh pendirian. Apapun yang tidak sesuai akan disampaikan secara langsung. Tidak ada yang berani membantahnya.


"Kamu sudah tulis bagian mana saja yang masih belum beres?" tanya Alvaro pada Flora.


"Iya, Pak. Sudah saya catat semua. Kolam renang anak dan area bermain masih perlu banyak pembenahan. Lalu, area golf juga belum selesai dibangun. Ada lagi di sebelah sana, ares restoran, pembangunan toilet sama sekali belum ada wujudnya," kata Flora sembari membaca catatan yang dibuatnya pada tablet yang dibawa.


"Kamu dengar itu? Pokoknya tidak ada alasan, maksimal pertengahan bulan depan semuanya sudah beres!" tegas Alvaro.

__ADS_1


Pak Bowo dan anak buahnya hanya bisa mengiyakan kemauan Alvaro. Mereka harus bekerja keras demi menyelesaikan proyek resort itu sesuai deadline yang diberikan.


Mereka berpindah ke area lain yang terdapat penginapan-penginapan yang berjajar di atas laut. Bagunannya terbuat dari bambu serta rumput kering. Area di sana tampaknya sudah selesai dibangun dengan pemandangannya yang indah. View dari tempat itu langsung laut yang jernih.


"Kawasan ini harus selalu bersih dari sampah. Beritahukan pengunjung agar membuang sampah di tempat yang sudah disediakan. Kalau tidak mau mengikuti aturan, berikan denda yang besar!" kata Alvaro.


Resort itu memiliki penginapan tepat di atas laut. Keasrian dan kebersihan laut harus dijaga supaya biota laut di dalamnya tetap lestari dan bisa dinikmati keindahannya.


"Oh, iya. Apa di sini juga sudah disediakan fasilitas untuk snorkling atau diving?" tanya Alvaro.


"Sudah, Pak. Peralatannya sudah lengkap," jawab Pak Bowo.


"Mereka yang mau melakukan snorkling atau diving harus ada pendampingnya yang bisa berenang dan punya sertivikat menyelam. Jangan sembarangan petugas kamu tempatkan!"


"Aku mau cek penginapannya, apa sudah layak apa belum," kata Alvaro.


Ia masuk ke salah satu penginapan di atas laut bersama Flora dan Pak Bambang. Mereka mengecek fasilitas yang disediakan di dalam penginapan tersebut.


Saat sedang melakukan pengecekan, Flora melihat tiang kayu yang sepertinya bergeser. Sementara Alvaro masih terus sibuk berdiskusi dengan Pak Bowo.


Lambat laun tiang kayu itu semakin miring.


"Pak Alvaro, awas!" teriak Flora seraya mendorong Alvaro dengan kencang sampai terjatuh.

__ADS_1


Kepala Flora sedikit terbentur tiang kayu itu. Kakinya juga terperosok dan hampir jatuh ke laut. Penginapan yang mereka pijaki kurang kokoh dan mau roboh. Untung saja tangan Flora dipegangi oleh Alvaro.


"Kamu tidak apa-apa? Aku bantu naik!" kata Alvaro. Ia berusaha mengangkat tubuh Flira dengan kedua tangannya hingga akhirnya berhasil naik lagi ke atas lantai bambu penginapan itu.


Orang-orang terlihat panik. Penginapan yang mereka tempati kini terpisah dari daratan karena jembatan dan sebagian bangunannya ambrol.


Alvaro memberikan lirikan tajam ke arah Pak Bowo. Lelaki paruh baya ikut terlihat keluar keringat dingin karena takut. Ia pasti tidak akan lolos karena kejadian ini.


Flora mengusap dahinya. Ada bekas darah yang menempel di tangannya.


"Kamu baik-baik saja, kan? Kamu tahan sebentar, mereka pasti akan mencari cara kita kembali ke daratan," kata Alvaro. Jelas ia sangat terlihat gugup. Ia mengeluarkan sapu tangannya dan mengikatkan pada dahi Flora yang terluka.


"Pak Alvaro, lewat sini!" seru salah seorang stafnya.


Mereka memasang tangga penghubung dengan penginapan sebelahnya untuk dijadikan jalan darurat.


"Ayo, kita lewat sana. Mereka sudah membuatkan jalan," ajak Alvaro.


Flora berusaha bangkit. Namun, kakinya terasa sakit. "Maaf, Pak. Sepertinya kaki saya terkilir," keluhnya sambil meringis menahan sakit.


Alvaro melihatnya. Memang benar kaki Flora tampak bengkak. Tanpa perlu bertanya, ia langsung mengangkat tubuh Flora.


Flora terkejut. Reflek ia mengalungkan tangannya ke leher Alvaro. Rasanya seperti mimpi bahwa mereka bisa sedekat itu saat ini.

__ADS_1


__ADS_2