
" Aku tidak takut mati mas, pada dasarnya semua akan mati pada waktunya, ada mama papa michelle juga ibu ku mas yang jadi pertimbangan ku " sahutku
" Kalau kita mati michelle akan jadi yatim piatu dan ibu ku? aku belum membalas jasanya mama papa mu yang sudah seperti orang tua ke dua bagi ku , bagaimana dengan mereka mas"?! ujar ku sambil menyeka mata ku yang berkaca kaca.
" Mas harus bisa berempathy bukan sekedar bersimpati, seandainya mas ada di posisi aku gimana perasaaan mas?"
" Apa mas masih positive thingking saat ada laki laki lain yang mengirim chat mesra ke nomor ku???
" Kita ini berumah tangga mas bukan main rumah rumahan everything should be considered!"
Mas dennis yang tadinya menopangkan tangannya di belakang kepala merubah posinya dan kini berhadapan dengan ku
" sudah?! sekarang giliran mas yang ngomong dinar!!"
"To be honest mas itu muaaaaaak! dengan sifat kamu yang selalu over thinking, segala sesuatunya kamu lihat dari sudut pandang kamu!"
" kamu manusia dewasa dinar bukan anak anak!, kamu adalah wanita cerdas tapi lihat cara berfikir kamu miris!!!"
"Everything should be considered that's true!! kalau kamu manusia dewasa seharus nya kamu pertimbangkan bagaimana perasaan mas, mas merasa tertuduh atas kesalahan yang tidak mas lakukan!
" Seharusnya kamu tanya mas baik baik bukan main main tuduh yang tidak tidak!, " ujar nya
" fine aku yang salah mas , semua kesalahan ku case close" pekik ku
Tanpa berkata sepatah kata pun mas dennis mengarahkan mobil keluar jalan tol
" Kita mau kemana mas?" Tanya ku heran karena jelas ini bukan jalan menuju ke Kota kami tapi masuk kedalam Kota yang yang tidak jauh dari pelabuhan kartini.
" Kita tidak mungkin melanjutkan perjalanan dalam keadaan seperti ini, kita cari hotel di sekitar sini" ujar nya .
Dalam hati aku membenarkan perkataan mas dennis sangat berbahaya kalau tetap melanjutkan perjalanan saat sesang tidak baik baik saja.
Perjalanan yang akan memakan waktu selama 12 jam itu terasa bagaikan neraka nantinya jika kami paksakan tanpa menyelesaikan masalah terlebih dahulu .
Sementara itu di benak ku di penuhi dengan berbagai pertanyaan.
Benarkah aku butuh psikolog seperti yang mas dennis katakan? apakah mental ku terganggu?
seburuk itukah perilaku ku di mata mas dennis?
" Weton mu dan weton nya sama sekali tidak cocok ndok" terngiang ngiang kembali perkataan ibu belasan tahun yang silam saat aku hendak menikah dengan mas dennis aku menganggap ibu kolot saat itu.
Apakah ini karma karena tidak mendengar nasehat ibu dulu?
__ADS_1
Tanpa terasa air mataku mengalir
aku seolah olah menjadi pribadi yang berbeda setelah menikah dengan mas dennis.
" Sudah sampai yuk turun" ujar mas dennis seraya mematikan mesin mobil.
Karena asyik dengan fikiran ku aku tidak begitu mendengar apa yang mas dennis katakan hingga dia mengulang untuk ke dua kalinya.
"Sayang sudah sampai yuk turun" ujar mas dennis. aku mengangguk dan hendak turun tapi mas dennis menahan ku
Mas dennis mengambil tissue dan mengusap air mata ku tanpa berkata sepatah kata pun tapi dari sorot matanya seperti ada penyesalan.
Kami bergegas memasuki hotel dengan diantar room boy kami beririrangan menuju kamar kami setelah membuka kan kamar dan menaruh barang kami sang room boy pun pamit undur diri
" Ini kamar nya bapak ibu, silahkan selamat beristirahat.
" Mas ini buat mas " ujar mas menyelipkan lembaran biru di tangan mas room boy
sepeninggal room boy aku merebahkan diri di kasur penat sekali rasanya.
tidak lama mas dennis menyusul merebahkan diri disamping ku.
" Sayang masih marah sama mas hmm? ujar mas sambil membelai rambut ku
" Duduk kita selesaikan masalah kita" ujar mas dennis
" Apalagi yang mau di selesaikan mas? kan semua sudah selesai itu, murni kesalahan ku yang gak dewasa"
" Dinar please don't fishing , kita bicarakan baik baik bisa?
aku menganggukan kepala ku
" Tidak ada yang terjadi antara mas dan adeline murni profesional kerja"
" Tapi kenapa mas kalau profesional adeline ngirim chat seperti itu kalau tidak ada yang special diantara kalian?
Mas dennis mengerutkan dahinya mendengar perkataan ku
" Memang nya apa yang adeline kirim?"
" Miss you so much" ujar ku
Mas dennis tampak gusar dia mengusap kan telapak tangan ke wajah nya
__ADS_1
"Oouh *****!! itu mas gak tahu apa maksud dia " nanti mas telfon dan kamu dengarkan.
ma dennis mengambil ponselnya dan menscrool nomor nomr yang terdaftar di kontaknya dia tidak dapat menemukan nomor adeline karena aku sudah menghapus dan memblok nya.
" Sayang kamu hapus nomor adeline?"
"Iya mas"
Mas dennis tampak menghubungi staff nya dan untuk meminta nomor adeline setwlah mendapat kan nomor adeline dia menggunakan loudspeaker agar aku bisa mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
" Ehhhmmm adeline tolong jelaskan pada istri saya, kenapa kamu kirim pesan seperti itu ke nomor saya"
" Gara gara pesan kamu saya di tuduh yang tidak tidak oleh istri saya"
" pesan yang mana ya pak?"
" pesan yang kemarin sore coba kamu chek"
agak lama kami menunggu sampai adeline menemukan chat history nya.
" Maafkan pak saya pak atas kecerobohan saya .
adeline menjelas kan panjang lebar kenapa insiden itu bisa sampai terjadi.setelah adeline menjelaskan panjang lebar mas dennis menutup telfonnya.
" gimana sayang sekarang percaya hmm"
" Maaf kan aku mas benar kata mas ,aku terlalu kekanak kanakan" ujar ku sambil menunduk aku merasa malu sekaligus bersalah.
" it's fine sayang at least kamu sadar kesalahan kamu.. selanjut nya kalau ada apa apa kita bicarakan bsik baik ya sayang hmm?"
" Iya mas " Mas dennis melingkarkan tangan nya di bahuku dan merebahkan kepala ku di bahunya. kami diam untuk beberapa saat asyik dengan pikiran masing masing.
" Mas capek ya sama sifat ku?" tanya ku
Mas dennis menghela nafas panjang terasa berat sepertinya dia tidak segera menjawab pertanyaan ku tapi mengecup dan mengelus kening ku"
" Maafkan mas ya sayang Kalu ada kata kata mas yang menyakiti perasaan mu" sahutnya
"Sejujurnya kamu itu segalanya buat mas, cantik cerdas, dan hati mu baik sekali tapi ada kalanya kamu itu juga egois "
Aku menyingkirkan kan tangan mas dennis dari bahuku aku merubah posisi duduk ku dan berhadapan dengan mas dennis.
Aku melihat wajahnya terlihat lelah sekali ku pandangi wajahnya lekat lekat tanpa berkata kata ada rasa sesal yang sangat besar di lubuk hati ku yang terdalam kenapa aku tidak mempercayainya.
__ADS_1