Pegat

Pegat
Bertengkar


__ADS_3

"Tapi atiku loro mbak," kilah ku


" Mbak ngerti nar, wes ndang ayo muleh rungokno opo seng mau tak omong no"


Mbak tyas menikah dengan mas ndaru sejak aku masih duduk di bangku smp itu sebabnya dia sangat dekat ku layaknya kakak kandung tidak lama motor kami memasuki halaman.


" Loh ndi klambine jare njupok jahitan" tanya mas ndaru melihat kami tidak membawa apa apa


Mas dennis tampak sudah segar dan berganti baju dan tengah bermain catur dengan mas dennis di teras.


" Mboh ki tiwas adoh adoh moro jebule tukang jahite salah kirim sms" sahut mbak tyas mengarang cerita.


" Oalah, ben tak parani po piye" timpal mas ndaru meledek mbak tyas ,mas ndaru memang gemar bercanda.


" Sak karep mu mas , wes tak mlebu sek" pungkas mbak tyas sambil mesem


Seperti nasehat mbak tyas aku berusaha biasa biasa saja.


Michelle dan ibra tidur bersama di kamar ibu kami tampak saling canggung satu dengan yang lainnya saat berada di kamar


Ada perasaan jijik yang menyelimuti hati ku melihat mas denis , ******* wanita itu terngiang ngiang hingga kini di fikiran ku.


" Sayaaang ,mas kangen sekali " mas dennis berusaha untuk memeluk ku


" Don't even try to touch me I feel so disgusted how could are you!! ujar ku sambil menghindar


" I can explain by detail why that thing happen not totally my fault!


" You don't have to"


" I'm totally understood! damn ****"!


"Sayaang please watch out your mouth i'm your husband respect me 🙏 "


" Enough! I respect you enough infront of them!


Mas dennis sudah menyangka hal ini akan terjadi makanya kami memilih bertengkar dalam bahasa inggris .


Agar ibu dan anak anak tidak mengerti apa yang sedang kami perbincangkan seandai nya mereka tiba tiba terbangun.


"Sayang please mas capek hati, tenaga dan fikiran kita istirahat dulu nanti kita selesaikan di rumah kita hmm?" pinta mas dennis dengan suara yang terdengar serak karena capek dan mengantuk.


"Dennis, dinar sarapan dulu" seru ibu dari luar kamar


" Iya bu" Mas dennis menyahut aku samar samar mendegar tapi mataku terasa berat untuk di buka badan ku terasa melayang karena kurang tidur entah pukul berapa kami tertidur semalam


"Sayaaang bangun Yok itu ibu sudah manggil" ucap Mas dennis lembut sambil menepuk lembut pipi ku mas dennis.


Benar benar tidak ada tenaga untuk merespon mas dennis meraba dahi ku karena kurang tidur otomatis suhu badan ku jadi sedikit meningkat.

__ADS_1


" Sayaaang badan mu panas kamu sakit?" tanya mas dennis meraba leher dan dahiku bergantian


" Enggak mas kurang tidur saja" ucap ku lemah


Mas dennis memegang pergelangan tangan ku sebagai penyelam professional dan pernah membantu basarnas tentunya dia tahu cara mengecek denyut nadi seseorang normal atau tidak


" Sayaaang denyut nadi mu ini lemah sekali kerumah sakit ya?"


" Aku gak papa mas karena kurang tidur aja"


Mas dennis beranjak keluar kamar karena ibu sudah menunggu di meja makan


" Dinar belum bangun den?" aku .mendengar suara ibu


" Dinar sakit bu badannya panas"


" masa iya , lah mambengi gak popo ki"


Ibu masuk kekamar menempelkan tangannya ke dahi ku.


"Ndok,meriang yo? "


" Mboten bu kirang tilem mawon"


" Oouh wes tangio sarapan sek bar sarapan turu'o meneh "


" Kurang gemati piye bojo mu nar nar" celetuk ibu seraya meninggalkan kamar ku.


Setelah ibu meninggalkan kami berdua di kamar mas dennis berjalan kearah ku yang masih berbaring di ranjang .


Mas dennis kembali meminta ku untuk duduk sambil menyodorkan teh yang di bawanya dari meja makan, dengan penuh kesabaran mas dennis mendekat kan gelas itu ke mulut ku.


Aku mengatupkan mulut ku rapat rapat .


" Sayaaang please simpen dulu amarah nya, minum dulu biar ada tenaga hmm"


" Nanti kita selesaikan ya" Mas dennis berusaha tetap lembut dan mendekat kan kembali gelas teh itu ke bibir ku aku tetap menggeleng.


" Aku hanya ingin tidur mas dan berharap tidak pernah bangun lagi, capek , sakit hati ku mas" ratap ku sambil meremas dada kiri sementara air mata mulai menggenang di pelupuk mataku.


Mas dennis menghela nafas kemudian mengusapkan telapak tangan kewajahnya sepertinya dia mencoba untuk tidak terpancing emosi nya.


Hanya ada kesunyian diantara kami mas dennis duduk di tepian ranjangan tangannya memegang kepalanya yang tertunduk kebawah.


Setelah lama saling diam membisu mas dennis menoleh kearah ku pandangannya sayu karena kurang tidur tapi juga ada raut kesedihan disana.


" Ngomong apa kamu hmm?!" ujar mas dennis mulai hilang kesabaran karena sikap ku


" Mas capek dinar tolong jangan kekanak kanakan"

__ADS_1


" Mas sudah bilang nanti kita selesaikan di rumah kenapa gak ngerti sich? ,kamu mau semua orang tahu? dan akhirnya jadi bumerang?"


" Kalau itu mau kamu OK please silahkan mas tidak bisa berbuat apa apa lagi!"


"Silahkan lakukan apa yang kamu dinar"


ujar mas dennis seraya beranjak keluar kamar


Ada rasa sedikit kasihan melihat mas dennis wajahnya terlihat sangat lelah .


Dadaku terasa sesak sekali rasanya ingin melampiaskan kekecewaan ku saat itu juga, ingin menjerit sekeras kerasnya kenapa aku harus selalu harus mengerti ,kenapa aku harus selalu mengalah?


Aku melihat mas dennis hendak meraih gagang pintu aku memanggilnya


" Maas,,," panggil ku


Mas dennis mengurungkan niatnya dan menoleh kearahku


" Ya?" Mas dennis berbalik arah dan mengahampiri ku yang kini sudah duduk di tepian ranjang.


" Hari ini kita berdua keluar dulu anak anak biar disini kita selesaikan masalah kita"


Mas dennis mengangguk dan menyetujui permintaan ku


" Ok, ya sudah kamu sarapan dulu, setelah itu mandi dan kita keluar berdua ."


" Bu kami pamit keluar dulu ada perlu anak anak tidak kami bawa"


" Yo wes are nangdi to?


" Janjian kaleh koncone mas dennis," ujar ku berbohong


Sepanjang perjalanan menuju rumah kami tidak banyak bicara asik dengan jalan fikiran masing masing dan hanyut dalam irama lagu dari band favorite kami berdua.MLTR


*why do I still cry for you*


*why do I still fear to face*


* the ghost of you*


lirik lagu yang sedang di putar seakan mewakili perasaan ku belasan tahun menikah aku masih di hantui perasaan takut .


Karena terhanyut dalam irama lagu tidak terasa sudah sampai di depan pagar rumah setelah


hampir 2 minggu di rumah ibu saat kembali rumah ini menjadi terasa sedikit asing bagi ku


Rumah ini cantik tapi terasa tidak bernyawa dingin, berbeda dengan rumah ibu meskipun jauh dari kata mewah tapi sangat nyaman penuh keahangatan dalam kesederhanaan


aku bergegas turun dan membuka pintu pagar.

__ADS_1


__ADS_2