Pegat

Pegat
Permintaan ibra


__ADS_3

Aku hanya akan masuk kamar jika mas dennis sudah tidur selama mas dennis masih terjaga aku memlih untuk tidak masuk kamar


Rasa sakit akibat ucapan mas dennis masih terasa saat dia membandingkan aku dengan wanita karir yang katanya juga bisa mengurus anak nya.


Padahal dia yang memintaku resign dan tidak pernah mengizin kan ku untuk berkarir lagi setelah menjadi istrinya tapi mengapa kini Mas dennis membandingkan ku secara frontal seperti itu?


disisi lain aku tahu tindakan ku tidak di benarkan walau bagaimanapun , mas dennis adalah suami ku aku tidak boleh mendiamkannya berlarut larut.


Saat sholat tahajjud aku menangis sesenggukan hati ku sakit sekali atas perlakuan mas dennis tapi aku juga merasa berdosa karena mendiamknanya lebih dari 3 hari air mata ku bertambah deras saat aku membaca hadist tentang hal itu


Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: “Tidak halal bagi seorang muslim untuk memboikot saudaranya lebih dari 3 hari. Siapa yang memboikot saudaranya lebih dari 3 hari, kemudian dia meninggal maka dia masuk neraka,”. (HR Abu Daud 4914)


Tapi aku merasa berat untuk memulai percakapan diantara kami, mas dennis rupanya mendengar isak tangis ku di pertengahan malam itu dia


Mas dennis turun dari ranjang dan menunggu ku selesai berdoa


"Sayaaang kenapa kok nangis?" ujarnya sambil duduk di sampingku


aku masih diam.


"Ngomong dong sayang yang berdosa nanti kamu loch"


Aku melepas kan mukena yang ku kenakan hendak beranjak ke luar kamar tapi mas dennis dengan sigap mencekal tangan ku


di rengkuhnya aku kedalam pelukannya


"Sayang kita gak bisa terus begini kita ini suami istri bukan musuh".


Aku mencoba melepas kan diri dari pelukan mas dennis kini kami duduk berdampingan di tepian ranjang ,saling diam dan sibuk dengan jalan fikiran masing masing .


Sampai akhirnya mas dennis berupaya memecahkan kebisuan diantara kami mas dennia merubah posisi duduknya dan kini menghadap kearah ku .


" Sayang mas tahu kata kata mas kelewatan , karena mas panik lihat michelle dalam kondisi begitu hati mas sakit "


" Mas mas fikir hatiku ku sebagi ibu nya tidak sakit? sakit mas tapi aku bisa apa?" sahutku.


" Yaudah sayang mas minta maaf maafin mas ya?"


" Mas dari dulu mas selalu mengulang salah yang sama mas" ujar ku ketus


" Sayang come on stop this war"


'"Ok" ujar ku aku juga merasa tidak mungkin terus menerus saling mendiamkan terlebih lagi kami adalah sepasang suami istri.


" Michelle ayok sayang sarapan" ujarku sambil mengetuk kamar michelle


" Ibra sini sayang sama papa ujar mas dennis memanggil ibra

__ADS_1


Ibra berlari dan menggelendot di paha ku ketakutan melihat mas dennis


"Ibra kalau gini gimana mama jalannya sayang ujar ku sambil melepaskan tangan ibra dari pahaku


" Ibla tatut maa maa ujar nya dengan logat cadelnya yang menggemaskan


Aku berlutut di depan ibra sambil mengelus kepalanya


"Sayang ibra takut apa ?


" Tatut cama paa paa" ujarnya polos aku menghela nafas dan memberi pengertian bahwa tidak perlu takit dengan papanya.


" Nanti paa paa puk puk" ujarnya sambil memperagakan dengan memukul lengan sisi kirinya


"Ibra papa tidak akan pukul ibra kan papa sayang ibra" aku merasa sedih akibat teriakan mas dennis tempo hari menyisakan trauma di hati ibra yang masih berusia 3 tahun kurang.


Mas dennis rupanya memperhatikan percakapan kami dan dia merasa sangat bersalah mukanya terlihat sedih ibra tetap menolak untuk dekat dengannya.


" Lihat kan mas apa akibatnya, lihat anak mu sendiri sekarang pun ngeri dekat dengan kamu mas!" cecar ku


Mas dennis tidak mengucapkan sepatah kata pun dia menuju kamar tidak jadi sarapan


Setelah mereka selesai sarapan aku meminta michelle menemani adiknya bermain


" Kak isel, temani adik main sebentar ya sayang"


Aku segera menyusul mas dennis ke dalam kamar mas dennis tampak sedang duduk di kursi kerjanya tapi layar komputer tidak di nyalakan.


Aku menghampirinya dan memegang pundaknya dengan perlahan mas dennis menoleh kearahku aku terkejut melihat matanya memerah sudah lama sekali aku tidak melihat mas dennis menangis selain saat aku melahirkan dan saat aku jatuh dulu.


" Maaas?" panggil ku pelan mas dennis menoleh kearah ku dengan senyum yangbdi paksakan


" Kenapa mas?" lanjut ku lagi


" Gak apa apa sayang mas hanya sedih lihat ibra tadi menolak mas dan anggap mas jahat"


" Nach sekarang mas tahu kan , anak anak itu akan menyimpan dalam memorinya apa yang dia lihat"


Mas dennis mengangguk aku merasa kasihan melihat nya walau bagaimanapun ibra adalah anak yang sangat di tunggu kehadirannya tapi kini dia menolak nya


" Ibra masih terlalu kecil mas nanti aku coba beri pengertian lagi"


" Makasih sayang"


Sejak kehadiran ibra di tengah tengah kami aku jarangsekali menyambangi rumah ibu karena ibra tidak suka di ajak bepergian, berbeda dengan michelle yang sangat dekat dengan yangti nya Ibra akan menangis jika berada di luar rumah terlalu lama.


Aku minta izin pada mas dennis untuk mengunjungi ibu bersama anak anak nanti siang

__ADS_1


rencananya


"Mas aku sama anak anak main kerumah ibu ya "


ujar ku saat menemani mas dennis sarapan


" Kenapa gak nunggu mas libur aja sayang"


" Soalnya michelle ingin sekai bertemu dengan sepupunya " sahutku memberi alasan


" Oh Iya sudah kalau begitu


" Oh ya sayang Mas sudah putuskan buat ambil kendaraan satu lagi jadi kamu bisa bawa anak anak jalansaat mas tidak sempat"


" Serius mas?" ujar ku senang


" Iya nanti mas libur kita hunting ya sayang?"


Aku merasa bahagia sekali dengan apa yang baru saja mas dennis katakan , walau sebenarnya aku sama sekali tidak keberatan jika harus menggunakan taxi online saat mas dennis tidak bisa mengantar ku kesana kemari termasuk mengunjungi ibu.


Aku mengantarkan mas dennis sampai ke mobil dan membuka kan pagar gerbang untuknya


" Hati hatinya mas " ujar ku sambil mencium tangannya


"Daa daah paa paaa" seru michelle sementara ibra masih takut melihat mas dennis


Seperti yang mas dennia janjikan hari sabtu pagi selesai sarapan kami semua bersiap siap untuk menuju dealer untuk melihat lihat mobil ke dua yang sesuai dengan budget yang kami miliki


" Sini sayang sama papa "ujar mas dennis mencoba untuk menghilangkan trauma di hati ibra


Setelah aku terus menerus memberi pengertian pada ibra akhirnya dia pun punya keberanian u tuk mendekat pada papa nya.


Tapi pertanyaan ibra sempat membuat kami terperangah


" paa paa gak puk puk?" celotehnya sambil memperagakan dengan memukul lengan kirinya sendiri


Mas dennis menciumi pipi ibra Sambil matanya berkaca kaca


" Enggk dong sayang" dia mengusap kepala ibra dengan kasih


"jaji gk malah cama maa ma" lanjut ibra sambil menyodorkan Jari kelingkingnya ke


" papa janji sayang " mereka saling mengaitkan Jari kelingking nya


Muuuuachhhh muaaach! ibra mengecup pipi mas dennis sambil memegang wajah mas dennis dengan ke dua tangannya yang mungil.


" jaji ya paa paa" celotehnya lagi mas dennis mengangguk sambil menggosok gosokan hidung nya pada hidung ibra.

__ADS_1


__ADS_2