Pegat

Pegat
Namanya juga anak anak


__ADS_3

"Blemmmm bleeee bleem kak isel ayo main cini" ajak ibra pada kakaknya


" Kakak lagi nonton dek" sahut michelle memberi pengertian pada adik nya


tiba tiba ibra bangkit dari duduknya dan mengampiri michelle yang tengah duduk di sofa tidak jauh dari nya


Praaak!! tiba tiba ibra menghantamkan mainan pesawat terbang yang bagian sayapnya cukup tajam ke muka michelle dengan keras sehingga bagian sayap nya mengenai bagian atas alis michelle.


Darah segar mengucur dari alis sebelah kirinya


"Awwwwwww maaa maaa" pekik michelle sambil berlari kearah ku yang sedang berada di dapur


"Kenapa kak ujar ku yang sedang menghadap kearah kompor


" Sakit maah" spontan aku membalikan badan betapa nya aku terkejut melihat kondisinya


" Kenapa kakak?" ujar ku panik sambil mencoba membuka tangannya yang memegangi alisnya sebelas kiri


" Ibra pukul kakak maa" ujarnya aku segera membersihkan luka di dahi michelle ternyata ada luka yang menganga disana aku memutuskan membawa michelle ke klinik untuk di tangani lukanya


"Mbak jaga ibra dulu ibu mau bawa michelle berobat mbak" seru ku pada mbak prapti


" Baik bu" ujar mbak prapti sambil menghampiri Ibra


michelle mendapat dua jahitan di atas alisnya sekembalinya dari klinik aku menghampiri ibra yang tengah main bersama mbak prapti


" Ibra mana tangan nya tadi " ujar ku memintanya menunjukan tangan yang di gunakan untuk menghantam kan mainan nya pada muka michelle


" I..ni maa maa " ujar nya polos mengangsurkan kedua telapak tangan nya aku memukulnya pelan


" Kenapa ibra pukul kakak isel?"


" Kak isel gaak naau main maa jadi ibla pukul pakai I.. ni " jelasnya sambil mengambil mainan yang tadi di pakainya untuk memukul michelle


Aku menjelaskan pada ibra bahwa akibat perbuatannya kini kakaknya luka.


" Dalaah dalaaah ya ma,?" ujar nya polos


aku mengangguk dan memanggil michelle


" Kakak sini sayang" ujar ku meminta michelle mendekat


" kakak berdarah karena ibra ayo minta maaf" perintah ku


" kak isel ibla minta maaf ya cakit ya" ujar ibra dengan kepolosanya sambil meniup luka di dahi michelle


" ma ..af ya kak isel" ulang nya sekali lagi kali ini dia mencium kakaknya


" Jangan Kaya gitu lagi ya dek" ujar michelle memeluk adiknya yang disambut anggukan ibra


Saat kami sedang duduk duduk bersama di depan tivi terdengar mobil mas dennis memasuki halaman .


" Assalamualaikum " seru mas dennis


" Waalaikum Salam " jawab kami serempak wajah mas dennis langsung berubah saat melihat perban di pelipis kiri michelle

__ADS_1


"Michelle kenapa sayang?" ujarnya sambil berjalan kearah michelle


" Sini michelle papa lihat lukanya, sakit ya sayang?"


Mas dennis ngamuk saat lihat kondisi michelle


Aku sudah menjelas kan bahwa luka itu hanya luka kecil dan sudah di jahit


"Kamu gimana sich ngurus anak aja gak becus!!"


" mbaak tolong jaga ibra mbak" ujar ku pada mbk prapti


" Ayo sini mas ibra sama mbak" ujar mbak prapti menggendong ibra masuk kedalam kamar michelle


"Maksud mas apa? bilang aku gak becus menjaga anak anak?"


" Memang!! kamu gak becus!! " semprot mas dennis tidak mau kalah


Mas dennis melonggarkan dasinya yang di kenakannya dengan kasar


" Kalau kamu becus tentunya gak bakal seperti ini!"


" Banyak istri istri yang juga menjadi wanita karir tapi bisa menjaga anak anaknya!"


" Mas kira mas sudah becus, sebagai kepala rumah tangga dengan memaki maki ku di depan anak anak?"


" Mas tahu dampak nya bagi mereka?" serang ku


Aku menghela nafas kali ini tidak ada yang airmata yang menggenang di pelupuk mata ku


saat bertengkar dengan mas dennis mungkin karena aku terus berproses aku yang dulu langsung berlinang air mata hanya karena bentakan kecil kini lebih bisa mengontrol air mata ku.


Tok tok tok!


"Masuk" sahut michelle dari dalam kamar


didalam kamar aku terenyuh melihat mereka michelle dan dan ibra memandingi ku dengan muka ketakutan


" maa maa papa malah cama mama?" ujar ibra yang langsung mengambur kearah ku


" Enggak sayang papa enggak marah" sahut ku sambil mengelus kepala ibra


" mama jangan tatut nanti ibla besal ibla toyong mama kalau ada yang nakal" airmataku menetes saat mendengar celoteh anak lelaki ku


" aku memeluk kedua anak ku dan tidak sanggup lagi menahan airmataku


" sabar buu" ucap mbak prapti sambil menyodorkan tissue


" Mbak tolong selesaikan masakan tadi ya mbak" mbak prapti menganguk bergegas menuju kedapur


" Ibra michelle kalian harus jadi anak anak yang pinter ya sayang" ujar ku sambil mendekap mereka dalam pelukan ku


" mama jangan nangis mama buat kakak sedih" ujar michelle ikut nangis .


Tok tok tok!

__ADS_1


Terdengar ketukan dari arah pintu


Mereka merapat kearah ku seperti ketakutan


Kreeeek!


Mas dennis mendorong pintu kamar michelle


" Ibra sini jagoan, papa kangen sama jagoan papa" ujar mas dennis sambil memgembang kan tangannya biasanya ibra akan langsung berlari kearah nya


ibra menggeleng gelengkan kepalanya dan memeluk ku semakin erat


" Nggak papa ibla cini aja cama maa maa"


melihat reaksi ibra mas dennis jadi masam raut mukanya


" Ibra sana sayang sama papa" ujar ku sambil menunjuk kearah mas dennis


" Nggak ..maa maa ibla cini cama mama" tolak ibra


Mas dennis menutup pintu kamar michelle kembali


setelah mas dennis menutup kembali pintu kamar michelle aku bicara pada ibra


" kenapa ibra seperti itu sama papa, gak boleh sayang" ujar ku membelai kepala ibra


" paa paa jahat ibla nggak cuka"


Aku menyiapkan baju dan sarapan mas dennis seperti biasa tapi saling tidak bertegur sapa aku menyuruh michelle untuk memberi tahu papanya kalau sarapan sudah siap.


"Paa sarapannya sudah siap" seru michelle sambil mengetuk pintu kamar kami


"Iyaaa sayang " sahut mas dennis dari dalam kamar


" Mama sama adik mana sayang?"


"Mama lagi siram bunga ,adik belum bangun" sahut michelle"


Sepertinya mereka telah menyelesaikan sarapannya dan keluar


" Maa maa , michelle pergi dulu ya " ujar michelle menghamoiri ku kemudian mencium tangan ku


" Hati hati ya sayang"


Aku segera masuk kedalam tidak ku pedulikan Mas dennis yang menatap kearah ku


Sudah hampir 1 minggu aku enggan untuk menegur mas dennis meskipun aku tetap menyiapkan kebutuhanya.


Mas dennis sepertinya tidak tahan karena aku terus mengacuh kannya dia menghampiri kami saat aku dan ibra sedang menonton kartun kesayangannya di ruang tengah.


"Saayaaang mau terus marahan sama mas?" ujar mas dennis sambil menghempaskan tubuh nya disamping ku


" caaayaang maaa maaa" ujar ibra menirukan ucapan mas dennis


Tak ayal aku tersenyum mendengar celotehan ibra

__ADS_1


" Yuk ibra kita jalan sore" ujar ku sambil menggandeng tangan ibra beranjak meninggalkan mas dennis disana


" Daa daah paa paa" ujar ibra


__ADS_2