
"Lepas kan! " ujar mas dennis berusaha melepaskan pegangan tangan ku, karena mas dennis mengibas kan tangannya sekuat tenaga sedangkan aku tidak berpegangan pada apa pun membuat aku kehilangan keseimbangan dan terpelanting
"arrrghhh mas!"
mendengar teriakan ku mas dennis terperanjat dan segera menghampiri ku yang terbaring lantai meringis kesakitan
" sayang kamu gak apa apa kan?" ujar mas dennis berusaha membantu ku berdiri " "punggung ku sakit mas" rintih ku
Melihat keadaanku mas dennis tambah emosi dia berlari menaiki tangga menuju kamar Michelle.
" Michelle buka pintu nya , Michelle! jangan kurang ajar kamu" teriak mas dennis seperti kesetanan
" Mas tolong berhenti mas! teriak ku dari lantai bawah
Michelle tidak kunjung membuka pintu kamarnya membuat mas dennis menyerah
Mas dennis menuruni tangga dan menghampiri ku
" Kamu benar tidak apa apa sayang?" ujar nya khawatir
" Tidak apa apa Mas"
Karena masalah terus berlarut ibu dan mas turun tangan mencarikan solusi permasalahan diantara kami
" Dinar ajak suami mu kerumah ibu arep ngomong sama kalian berdua" ujar ibu saat kami berbicara melalui telfon
" Nggih bu "
Sore itu aku menunggu Mas Dennis pulang kantor untuk mengajaknya kerumah ibu jari itu juga agar tidak berlarut larut masalah yang ada tidak lama dari kejauhan aku mendengar deru mobil mas dennis memasuki halaman
" Paaa paaa " Ibra berlari lari menghampiri Mas Dennis yang tengah turun dari mobil
" Hai jagoan papa kenapa sayang mau jalan jalan keliling kompleks?" ibra tampak mengelengkan kepala mas dennis merangkul ibra dan memasuki rumah
Setelah mas dennis berganti pakaian dan tengah menonton tivi aku menghampiri nya
" Mas ibu meminta kita kerumahnya secepat mungkin" ujar ku mas dennis tidak segera menanggapinya dia fokus pada acara televisi yang di tontonnya
"Mas?" panggil ku lagi
" Errrh iya kenapa?" tanyanya
" Dari tadi saya ngomong mas acuh tak acuh" ujar ku masygul
__ADS_1
" Maaf sayang mas tadi fokus dengerin berita , ibu kenapa?"
" Ibu manggil kita mas "
Akhirnya kami berdua berangkat kerumah ibu menjelang isya
" Assalamualaikum" seru kamu dari luar pagar
" Waalaikum salam" mas Ndaru berjalan membukakan pintu untuk kami
" Den , loh Anak anak tidak diajak?" ujar mas Ndaru
" Ndak mas ,mereka sama Mbak prapti dirumah sahut ku
" Oouhh, yo wes ayo ndang mlebu"
Kami berjalan di belakang mas ndaru masuk kedalam rumah
" Bu niki sampun dugi" seru mas ndaru pada ibu yang masih berada di dalam kamar .
Kami berkumpul di ruang tamu seperti biasanya
Setelah berbasa basi sedikit mas Ndaru dan mbak Tyas masuk kedalam kamar mereka tidak mau ikut nimbrung apa yang menjadi pembicaraan antara kami dan ibu.
" Ya sudah lanjutkan kami mau masuk dulu" Ujar mas Ndaru pamit meninggalkan ruang tamu diringi mbak Tyas
"Dennis benar yang ibu dengar itu? Kamu menduakan anak ibu?" ujar ibu lembut namun terkesan tajam karena ibi jarang sekali mencampuri utusan rumah tangga kami.
Mas dennis tidak berani menatap wajah ibu dia menunduk sambil menyusun kata kata untuk menjawab pertanyaan ibu
Setelah terdiam cukup lama mas Dennis akhirnya membuka suara
" Benar ibu tapi hubungan kami sudah berakhir" ujar mas Dennis lirih tidak ada perubahan mimik wajah atau emosi dari ibu biasa saja cenderung datar
Ibu menghela nafas panjang entah apa yang berkecamuk di benak ibu saat ini
" Apa yang yang menjadi kekurangan anak ibu? Sampaikan supaya dinar bisa introspeksi diri" ujar ibu memecah keheningan diantara kami
Lagi lagi mas Dennis terdiam cukup lama tidak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu dari ibu mertuanya.
" Ndak usah sungkan biarpun dia anak ibu kslau salah tetap ibu salah kan, "
"Demikian juga dengan kamu biarpun status mu menantu tapi kalau kamu benar ya ibu bela" ujar ibu ibu bijak
__ADS_1
Tiba tiba mas Dennis sesenggukan menghampiri dan bersujud di kaki ibu membuat aku dan ibu kaget
" Ampuni saya bu semua salah saya sebagai laki laku saya tidak bisa menjaga kesetiaan"
Ibu meraih bahu mas Dennis
" Ngger cah bagus, jangan bersujud di kaki ibu , ndak patut kalau kamu menyesal dengan perbuatan mu minta ampun lah sama allah"
mas Dennis tambah sesenggukan mendapat perlakuan lembut dari ibu dia merangkul ibu dan menangis di pelukan kannya
" Maafkan saya bu, maafkan saya telah menyakiti anak ibu"
Ibu memberikan wejangan sampai larut kami di beri nasehat harus bagaimana sebagai suami istri yang seharusnya akhirnya tangis kami pecah mewarnai ruang tamu rumah ibu hati terasa lega setelah saling memaafkan dan maas dennis berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya.
...**************** ...
Demi menghormati usaha ibu yang sudah berusaha mendamaikan kami akhirnya aku memaafkan mas Dennis awalnya memang terasa kaku tapi akhirnya tebiasa seperti dulu lagi
Tapi hubungn michelle dengana mas dennia belum juga pulih dia masih menghindari untuk berkomunikasi dengan papanya
" Michelle ayo dong berdamai dengan papa sayang mama saja bisa masa kakak enggak?" ujar ku pada putri sulung ku saat kami sedang sarapan
" Entah lah ma kakak merasa asing dengan papa sekarang " elaknya sambil meneglap mulutnya yang belopptan susu dia segera bangkit dari kursinya begitu melihat mas Dennis keluar dari kamar dan hendak menuju meja makan untuk sarapan bersama kami
Melihat hal itu pun mas Dennis kembali meradang
" Duduk! pekik mas dennis memerintah Michelle kembali duduk di kursinya namun dia acuh tak acuh dengan seruan papanya tetap melanjut kan langkahnya masuk kedalam kamar.
" Anak itu betul betul keterlaluan" gerutu mas Dennis
Aku menengankan mas dennis dengan mengelus elus bahunya
" Sabar mas, maklum dia kan masih dalam masa transisi dari anak anak ke remaja emosinya masih sangat labil" ujar ku
Sepertinya mood mas Dennis untuk sarapan melihat sikap putri sulung nya
"Mas berangkat dulu sayang," ujarnya sambil meneguk kopi yang sudah mulai dingin.
Setelah mas dennis pergi aku duduk terpekur di teras merenungi perjalan hidup ku yang terasa begitu cepat berubah, tidak terasa anak sulung ku sudah mulai tumbuh menjadi remaja yang butuh perhatian extra sedangkan ibra mulai memasuki sekolah dasar.
...****************...
Mas Dennis laki laki itu kini rambutnya mulai di tumbuhi uban di beberapa bagian. Inilah perjalan hidup yang tidak ada satupun yang tahu kemana arahnya
__ADS_1
Kita hanya wayang yang harus siap memerankan peran yang sudah di tentukan untuk kita peran kan
tinggal bagaimana cara kita memerankan agar peran kita terlihat luwes meskipun peran itu tidak kita sukai.