Pegat

Pegat
Bertengkar part# 2


__ADS_3

Sementara mas dennis memarkirkan mobil kedalam garasi , aku melihat lihat bunga semua bunga bunga koleksi ku, tampak terawat mbak prapti memegang amanah yang aku berikan teras juga tampak bersih


Kami masuk kedalam , setelah sejenak melepas kan lelah kami mulai pembicaraan .


Mas dennis menepati janjinya menjelaskan apa yang seberanya terjadi tempo hari saat masih bertugas di manado.


" Ehhhrm sayang tolong jelaskan pada Mas kenapa kamu mematikan handphone dan handphone michelle juga"


" Jangan libat kan anak anak dalam permasalahan kita" ucap Mas dennis


" Tahu tidak mas panik luar biasa, tidak bisa menghubungi kalian berhari hari egois!! sungut mas dennis kesal


"Really? Mas panik tidak bisa hubungi kami?" tanya ku dengan nada sinis


"Sepenting itu kah arti kami di hidup mas? lanjut Ku


Sementara mas dennis hanya diam membisu


entah apa yang ada di benak nya kini.


Aku yakin ini bukan unsur ketidak sengajaan temannya


Apa Iya mas dennis berteman dengan orang yang model seperti itu , bercanda tidak tahu etika? semua orang di kantornyabtahu siapa San apa posisi mas dennis apa Iya ada yang berani selancang itu.


Bagi ku alasan mas dennis terlalu mengada ada.


" Sayaang please trust me!"


" Cukup alasan mas sangat sulit di terima nalar manusia normal !" ujar ku sengit


" Jangan jejali aku dengan hal hal yang berbau nonsense!!


"Oh ya mas ada satu hal lagi selama mas disana aku juga mendapat teror"


Ku tunjukan isi chat dari nomor yang meneror ku    beberapa minggu yang lalu.


Mas dennis  membaca  isi pesan itu dan mengerutkan kening nya


"Ini siapa sayang?"


" Mana  aku tahu?,  aku  terima  pesan itu  sebelum  aku menelfon mas , aku menelfon mas karena mas miscall duluan


Kusodorkan kembali ponsel ku untuk menunjukan  call history  di ponsel yang sengaja tidak aku hapus.


Mas dennis mencoba menelfon nomor yang meneror ku berdering tapi tidak diangkat .

__ADS_1


PRAAAAAANK!!


mas dennis mengarahkan tinjunya ke cermin meja rias ku cermin itu hancur berantakan pecahannya berserakan memenuhi lantai dan sebagian di atas meja rias ku.


Tidak sampai disitu mas dennis mengumpulkan serpihan kaca yang berserakan itu dan meremas nya tak urung akibat tindakan nya darah mengucur dari sela sela telapak tangannya.


Aku tercekat melihat pemandangan di depan ku untuk beberapa saat aku hanya terdiam memaku aku sangat takut dengan darah.


"ARGHHHHHHH... SHIIIIT!!! mas dennis memekik histeris.


" Maaaaas apa yang mas lakukan?!" teriak ku panik sambil menangis dan mencoba melepaskan genggaman tangan mas dennis yang menggengam serpihan kaca cermin.


" Sakit ini tidak seberapa dinar di banding tidak di percayai oleh orang yang hidup bersama mas selama belasan tahun"


" Mas kita ini manusia dewasa bicara baik baik mas kalau memang tidak ada yang di sembunyikan" ujar ku sambil terus berupaya membuka genggaman tangan mas dennis.


" Tolong lepas jangan konyol," akhirnya perjuangan ku tidak sia sia mas dennis melepas kan genggaman tangannya


Aku membersihkan pecahan cermin yang ada di telapak mas dennis


" Mas kerumah kerumah sakit ya, aku takut ada yang masuk kedalam"


Tidak berapa lama mas dennis sudah mendapat penanganan lukanya pun sudah di perban, dalam perjalanan pulang aku lebih banyak diam masih tidak mengerti dengan tindakan mas dennis,kenapa senekat itu padahal awalnya kami bicara baik baik.


Apakah ini cara mas dennis mengalihkan perhatian ku dari masalah yang ada diantara kami?


" Dinar kalau kamu di posisi mas, kamu pun akan hilang kontrol"


" Entah lah mas yang jelas masalah kita belum selesai!" ujar ku seraya mengarahkan mobil menuju rumah ibu.


Betul saja dugaan ku semua heboh melihat tangan mas dennis di perban karena kami berangkat dalam keadaan baik baik saja. semua cemas dan bertanya gerangan apa yang terjadi.


" Assalamualaikum " seru ku di teras karena menjelang maghrib sehingga rumah tampak sunyi.


" Waalaikum Salam " sahut michelle membuka kan pintu untuk kami michelle terkejut melihat tangan papanya di balit perban


" Papaaaa kenapa mama?" tanya michelle setengah menangis


" Papa gak kenapa kenapa sayang" sahut mas dennis sambil merangkul michelle


" paa paa dalah dalah yangti" ibra berlari menuju kamar ibu memberi tahukan keadaan mas dennis.


Ibu tergopoh gopoh keluar kamar masih menggunakan mukena sambil menuntun ibra


" Ya Allah kenapa itu tangan mu dennis?" tanya ibu tampak cemas

__ADS_1


" Gak apa apa bu tadi aquarium di rumah teman pecah" ujar ku berbohong


" Ooouhh iyo to dennis?" tanya ibu pada mas dennis


" Iya bu"


mendengar suara di ruang tamu yang agak tidak biasa mas ndaru dan mbak tyas pun ikut nimbrung mereka pun bertanya hal yang sama.


Setelah menyelesaikan makan malam aku mengajak anak anak untuk pulang kerumah kami tapi ibra dan michelle menolak .


" Ibra michllle, ayok sayang kita pulang " ajak ku pada mereka


" Kenapa harus pulang sich ma kan masih lama sekolahnya" rengek michelle


" Mama sama papa pulang kami disini aja"


aku menoleh kearah mas ibra berharap membujuk mereka pulang


" Ayo sayang lain kali kan bisa kerumah yangti lagi kita pulang dulu ya"


Senjata michelle adalah nangis agar kami tidak memaksanya pulang entah kenapa padahal dirumah dia tidak pernah melakukan hal itu tapi di depan ibu dia sangat manja.


" Yo wes to ndok, biarin mereka disini dulu lagian kan baru minggu depan masuk sekolah, kalau kalian mau pulang ya ndak apa apa"


" Betul kalian mau disini? jangan ngerepotin yangti atau budhe loch ya"


" Ibra mau disini atau ikut mama pulang?"


" Ibla cini juga maam maa sma kak isel"


karena anak anak belum mau berpisah dengan yangti dan sepupunya akhirnya kami pun pulang berdua saja.


"Daaah daaah daaah " ujar ibra mengiringi kepergian kami di teras dengan lambaian tangan mungilnya.


Pagi harinya mabk prapti heran dengan kaca riasku yang pecah tapi tidak berani bertanya.


" Hati hati mbak nanti kena kaki" ujar ku pada mbak prapti yang tengah membersihkan kamar ku.


Mas dennis belum kembali kekantor hari ini, dia tampak tengah berbicara dengan seseorang di teras .


" Jadi siapa mas perempuan itu?" aku kembali menanyakan perihal wanita yang mendesah ,saat aku menghubungi nomor nya beberapa hari yang lalu.


Saat Kami berada di dalam kamar malam harinya,setelah melalui perdebatan yang cukup alot dan sengit.


Akhirnya mas dennis mengakui semuanya bahwa dia telah berbohong dia mengakui telah tidur dengan teman kantornya karena sama sama dalam keadaan mabuk setelah menghadiri pesta yang diadakan kantor .

__ADS_1


" Pergi kamu mas, pergiiiiiiiii aku jijik lihat mas!! ujar ku setelah mendengar penjelasan mas dennis.


__ADS_2