
“Say, pagi ini show batal semua. You are free!” ujar suara di seberang yang tengah terhubung dengan ponsel Ega.
“Kenapa mendadak Nat?” tanya Ega masih belum mengerti. Mata cokelatnya yang masih setengah mengantuk berusaha menemukan sosok suami yang biasanya masih tertidur di sampingnya, namun laki- laki itu tak ada di tempat.
“Kamu belum lihat berita viral pagi ini? Iko berantem sama orang tak dikenal semalam,” tutur Nathan menjelaskan.
“Iko?! Berkelahi?” Ega terkejut karena tak percaya mendapati kenyataan bahwa Iko, sahabatnya yang selalu berusaha menghindari pertikaian, justru bertindak sebaliknya. Perempuan itu lantas menutup panggilan dari Nathan dan membuka tautan video pertikaian yang diunggah oleh beberapa laman gossip. Diamatinya video pertikaian dengan durasi sekitar dua menit itu, dan seketika membuka lebar mata Ega yang masih setengah mengantuk.
“Evan?!” perempuan itu bergegas mencari suaminya di luar kamar, namun Evan tak ada di rumah. Nampaknya sang suami tak pulang semalaman.
“Aku harus menemui Iko,” gumamnya lirih. Hari ini dia harus menanyakan pada Iko tentang apa yang telah terjadi semalam. Diraihnya ponsel pintar dan perempuan itu mulai menghubungi Iko, namun tak ada jawaban sama sekali. Ega lantas membuka semua laman sosial media milik Iko, dan kini hampir semua kolom komentarnya berisi hujatan karena video yang menyebar tersebut. ‘Iko pasti punya alasan mengapa dia melakukan semua ini,’ batin Ega. Perempuan itu kembali menghubungi Iko, dan tetap tak ada jawaban. ‘Dia pasti ada di sana,’ gumam Ega yang begitu memahami karakter sahabatnya ketika sedang ditimpa masalah. Ia tahu kemana ia harus pergi untuk menemukan laki- laki itu.
...***...
Ega berjalan tergesa memasuki sebuah studio musik yang terletak sedikit jauh dari pusat kota. Studio musik itu adalah tempat di mana Iko sering berdiam diri di sana ketika mencari inspirasi untuk menciptakan lagu semasa dia masih SMA. Dengan tergesa Ega membuka pintu salah satu ruang studio musik itu, dan benar saja. Perempuan itu mendapati Iko yang tengah terduduk sembari memainkan senar gitar cokelat yang selalu menemaninya bermusik. Gitar yang merupakan hadiah ulang tahun dari Ega, perempuan yang kini mendatanginya. Iko terhenyak karena sedikit terkejut menyadari kedatangan Ega.
“Ega,” tutur Iko sembari memandangi perempuan itu. Ega bergegas menghampiri laki- laki itu.
“Kenapa, Iko? Kenapa kamu berkelahi dengan Evan? Sudah kukatakan jangan terlalu jauh mencampuri urusan rumah tanggaku, kenapa kamu tak mengerti?”
“Ega sadarlah! Suamimu benar- benar menghkianatimu dan aku melihatnya!”
“Aku tahu! Aku tahu semuanya! Aku tahu suamiku telah bermain gila di belakangku, aku tahu itu!” sergah Ega dengan nada meninggi. Iko tertegun menatap mata Ega yang mulai berkaca- kaca.
__ADS_1
“Lantas kenapa, Ga? Kenapa kamu diam saja diperlakukan seperti ini?” tanya Iko sembari menatap mata Ega lekat- lekat. Perempuan itu terduduk sembari membenamkan wajahnya pada kedua telapak tangan, berusaha menahan air mata yang tak terbendung. Tangisnya pecah. Iko yang tak sampai hati melihat sahabat yang dicintainya menangis, seketika duduk mendekati perempuan itu.
“Apa kamu juga sudah tahu dengan siapa suamimu berselingkuh?” tanya Iko dengan hati- hati. Perempuan itu mengangguk dengan isak tangisnya yang semakin terdengar.
“Dia Amora. Sahabatku semasa kuliah. Dia juga salah satu founder di perusahaan kami,” tutur Ega lirih. Mendengar hal itu, Iko menyentuh kedua pipi Ega, berusaha menangkap pandangan kedua bola mata cokelat yang masih berlinang air mata. Laki- laki itu menggelengkan kepala begitu Ega menatap wajahnya.
“Bukan dia. Bukan dia yang kulihat tadi malam,Ga!” tegas Iko. Ega terhenyak, seketika ia mengusap air mata yang membasahi pipinya.
“Maksud kamu?” taya Ega tak mengerti. Iko yang tak sampai hati mengatakan siapa Little Princess yang sebenarnya, lantas mengeluarkan ponsel pintarnya dan menunjukkan laman dengan nama Little Princess itu. Laman yang pernah Ega buka, namun tak ia hiraukan apa maknanya.
“Aku sudah menyelidiki laman ini sejak lama, dan angka- angka ini yang berhasil mengantarkanku bertemu Evan tadi malam,” pungkas Iko. Ega menatap kedua mata laki- laki itu dengan tatapan tak mengerti. Dengan hati- hati Iko menjelaskan bagaimana dan apa hubungan laman tersebut dengan Evan dan beberapa foto yang pernah ia tunjukkan sebelumnya pada Ega, dan perempuan itu kini mulai mengerti.
“Katakan padaku siapa Little Princess itu sebenarnya, Ko!” pinta Ega dengan tegas, namun Iko tak memiliki cukup kemampuan untuk mengatakannya pada sahabatnya itu.
Datanglah padaku, Tuan.
Biarkan aku yang mengobati lukamu
Datanglah padaku, wahai kekasih.
Akan kusembuhkan sakitmu malam ini.
20-8-5 2-21-3-11-9-14-7-8-1-13 501
__ADS_1
Ega dan Iko menatap unggahan tersebut secara bersamaan. Kali ini, perempuan itu tak akan tinggal diam. Ia sendiri yang akan mengungkap permainan busuk suaminya selama ini dan mengungkap siapa Little Princess yang selama ini menerima rangkaian mawar putih berbentuk hati dari suaminya.
Perempuan itu bergegas pergi tanpa mengeluarkan sepatah katapun pada Iko.
“Ega!” Iko berusaha menahan sahabatnya agar tidak pergi, namun sia- sia.
...***...
Malam yang amat Ega nantikan akhirnya tiba. Perempuan itu kini berada di depan halaman gedung apartemen yang ia pecahkan sendiri dari barisan angka yang ia lihat pada akhir sajak yang terunggah dalam akun Little Princess tadi pagi.
20-8-5 2-21-3-11-9-14-7-8-1-13 501
T-H-E B-U-C-K-I-N-G-H-A-M. Nama salah satu apartemen termahal di ibukota dengan segala fasilitasnya yang mewah. Langkah tegap Ega menyusuri komplek apartemen high- end dengan paduan gaya klasik Romawi dan Yunani itu, berusaha menemukan unit yang ia yakini sebagai tempat di mana Little Princess bersembunyi. Tangan kanannya menjinjing rangkaian mawar putih berbentuk hati. Jantung perempuan itu berdegup kencang seiring langkahnya yang semakin dekat dengan unit bernomor 501. Ditelusurinya koridor mewah yang menghubungkan antar unit apartemen itu, hingga akhirnya ia dapati satu unit dengan nomor 501 pada bagian paling ujung. Ega menarik napas kuat- kuat untuk menyiapkan hatinya yang telah hancur berkeping- keping. Ditutupnya lubang intip yang terletak tepat di bawah nomor unit apartemen tersebut dengan rangkaian mawar putih yang ia bawa, lantas ia mengetuk pintunya beberapa kali, hingga terdengar bunyi pintu itu terbuka.
“Sayang ini masih terlalu sore …,” kata- kata dari balik pintu itu terputus begitu menyadari siapa sosok yang tengah berdiri di hadapannya. Kedua bola mata perempuan itu bertemu, dan bagaikan disambar petir di tengah hari, aliran darah Ega seakan berhenti begitu mengetahui siapa Little Princess yang selama ini telah bermain hati dengan suaminya. Bola mata cokelat itu memerah, air matanya hampir jatuh lantaran ia tak pernah menyangka siapa yang ada di hadapannya saat ini. Hal yang sama juga dialami oleh Little Princess, perempuan itu. Matanya terbelalak tak menyangka bahwa sosok yang mengetuk pintu bukanlah sosok yang ia harapkan.
“Kak Ega?”
“Aluna!!?”
...***...
__ADS_1