
“Baik Pak, salah satu karyawan saya akan segera menyerahkan SPT tahunan perusahaan kami secepatnya. Mohon maaf atas keterlambatan ini.” Perempuan cantik bermata cokelat itu lantas menutup sambungan telepon yang terhubung selama kurang lebih tiga puluh menit dengannya. Hari- harinya semakin disibukkan dengan perbaikan pengelolaan perusahaan yang sempat kacau karena ulah mantan suami dan sahabatnya. Meskipun pada dasarnya perempuan itu kurang menyukai bidang pekerjaan yang memaksanya untuk selalu duduk di depan layar seperti sekarang ini, namun pengetahuan bisnis yang ia peroleh selama mengenyam pendidikan tinggi dan keterlibatannya dalam pendirian La Lemonada cukup membuatnya mampu menguraikan kekusutan perusahaan satu demi satu. Jemari indah perempuan itu tampak memijit telapak tangannya perlahan karena merasa pegal. Tak berapa lama setelah itu, suara pintu ruangannya diketuk.
“Masuk,” pinta Ega sebelum akhirnya sosok perempuan memasuki ruangan itu dengan membawa sebuah tas berwarna merah dengan ukuran yang cukup besar.
“Permisi, Bu. Ada yang mengirimkan ini untuk anda melalui jasa kurir,” ucap perempuan itu sembari menyerahkan tas yang di dalamnya masih berisi sebuah kotak.
“Siapa yang mengirimkannya?”
“Mohon maaf Ibu, petugas kurir tidak memberitahukannya kepada saya.”
“Baiklah. Terima kasih,” ucap Ega yang kemudian membuat perempuan itu mohon diri meninggalkan ruangannya. Rasa penasaran mulai muncul dalam diri perempuan itu hingga akhirnya ia memutuskan untuk menarik keluar sebuah kotak yang tersembunyi di balik tas tersebut. Kotak berwarna merah marun dengan logo sebuah butik ternama di ibukota. Dari logo itu, ia tahu betul apa yang tersembunyi di dalamnya. Sebuah gaun. Perlahan ia membuka penutup kotak itu dan benar saja, sebuah gaun haute couture verwarna tan dengan desain yang elegan dan detail cukup cantik pada bagian dada. Di atas gaun itu, terdapat sebuah kartu undangan berukuran dua puluh kali enam belas sentimeter berwarna hitam dengan tinta emas di atasnya. Undangan ekslusif untuk menghadiri malam penghargaan salah satu acara musik paling bergengsi di tanah air. Mendapati undangan itu, Ega tahu siapa yang telah mengirimkannya. Seketika tangannya meraih ponsel pintar yang tergeletak di atas meja, namun lagi- lagi seseorang yang hendak ia hubungi justru menghubunginya terlebih dahulu. Seperti sudah memiliki ikatan batin yang cukup kuat antara keduanya.
“Aku tahu kamu akan menghubungiku,” ujar suara seorang laki- laki di seberang.
“Untuk apa ini, Iko?”
“Esok adalah malam penghargaan. Datanglah.”
“Tidak bisa, Iko. Untuk apa aku menghadirinya?”
“Untukku.”
Sambungan telepon itu hening selama beberapa saat.
“Iko aku,-
__ADS_1
“Aku memaksamu. Kamu harus datang besok dan kenakan gaun yang ada di hadapanmu sekarang.”
“Mana bisa seperti ini, Iko?”
“Acara ini sangat berarti untukku, Ga. Kamu tahu sendiri kalau mama dan papaku tak mungkin dengan mudahnya bertolak dari London hanya untuk menghadiri acara seperti itu, kan?”
Sambungan telepon itu terdengar berisik karena hembusan napas dari keduanya, sebelum akhirnya kembali dibungkam keheningan.
“Muncullah dalam penglihatanku. Aku menunggumu.”
Sambungan telepon itu terputus sebelum perempuan itu memberikan jawaban. Perlahan ia menghela napas, meletakkan kembali gaun dan undangan itu pada tempatnya kemudian menutup rapat kotak itu. Sekarang ia benar- benar tak tahu harus berbuat apa. Di satu sisi, ia tahu bahwa ia pasti akan kesepian jika harus datang pada acara itu mengingat Iko sudah pasti berada pada barisan undangan para artis idola. Di sisi lain, perempuan itu memahami Iko yang kesepian karena kedua orang tuanya terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka di London yang jelas tak mungkin untuk ditinggalkan. Perempuan itu belum mampu mengambil keputusan hingga akhirnya ia melangkah ke luar ruangan untuk mencari udara segar, namun kemudian ia begitu terkejut mendapati dua sahabatnya, Nindy dan Lukas tengah menempelkan daun telinganya di balik pintu.
“Apa yang kalian lakukan?”
Seketika dua sahabat itu berusaha mengalihkan perhatian. Satu berpura- pura membersihkan tanaman sintetis yang terletak di sisi kiri pintu, satu lagi berpura- pura membersihkan kaca dengan telapak tangannya. Ega berdecak malas sembari menggelengkan kepala mendapat tingkah konyol kedua sahabatnya itu, lantas bergegas menuju kafetaria.
“Kira- kira apa isi dari bingkisan itu? Siapa yang baru saja ia ajak bicara di telepon?” cicit Lukas penasaran. Perempuan itu mengangkat bahu karena tak mengerti, lantas turut mengintip dari balik pintu.
“Masih di sini?” suara perempuan yang belum lama meninggalkan ruangannya kembali terdengar hingga membuat terkesiap dua sahabat yang tengah menelisik bingkisan itu. Keduanya membalikkan badan hampir bersamaan, dan mereka dapati Ega telah kembali dengan menenteng satu cup berisi kopi panas.
Perempuan itu menatap kedua sahabatnya dengan tatapan penuh intimidasi secara bergantian. Seketika keduanya meringis canggung, seperti anak kecil yang ketahuan mengambil gula- gula.
“Ehm, itu. Anu,” Nindy tak mampu melanjutkan perkataannya.
“Ah, aku lupa harus menyelesaikan laporanku!” seloroh Lukas sembari bergegas pergi.
__ADS_1
“Oh, aku juga belum selesai! Astaga, bagaimana aku bisa lupa!” Nindy turut berseloroh, meninggalkan Ega yang masih terpaku di depan pintu. Ega menghela napas panjang mendapati tingkah aneh sahabatnya lantas kembali ke dalam ruangan itu.
...***...
Malam penghargaan acara musik paling bergengsi di tanah air akhirnya tiba. Pusat konvensi terbesar di Jakarta yang menjadi tempat diselenggarakannya perhelatan penghargaan musik itu sudah ramai dipadati tamu undangan yang hampir kesemuanya berasal dari kalangan musisi ternama di tanah air. Iko yang turut masuk dalam nominasi dan menjadi salah satu pembuka acara pada perhelatan bergengsi tersebut, telah siap dengan gitar dan mikrofon di hadapannya. Pandangan matanya ia lemparkan ke semua sudut pusat konvensi itu, berusaha menemukan sosok yang ia harapkan datang hari ini. Pikirannya terbelah dua, antara persiapan dirinya yang akan tampil beberapa saat lagi dan kehadiran perempuan yang sangat ia tunggu-tunggu. Penantian itu seolah berujung putus asa manakala sang pembawa acaara telah memanggil namanya sekali lagi sebagai tanda bahwa laki- laki itu telah siap memberikan penampilan terbaiknya. Iko menarik napas dalam, menormalkan semua kegundahan hati yang ia rasakan karena wanita yang ia harapkan belum juga datang.
“Tuhan, bawa dia untukku. Aku mohon,” tuturnya dalam hati sembari memejamkan mata, bersiap menarik suara mengalunkan bagian reff dari syair yang ia pilih sebagai pembuka dari keseluruhan lagunya.
Bahkan bila pada akhirnya takdir tak berpihak kepadaku
Ingatlah aku sebagai kenangan terindahmu
Dan apabila suatu saat takdir membawa kita bertemu
Kau harus tahu, ku masih mencintaimu
Dua bola mata itu terbuka perlahan bersamaan dengan petikan gitar yang mengiringi bagian akhir dari syair yang ia lantunkan, dan bersamaan dengan itu juga, kedua mata itu membesar begitu menangkap sesuatu yang muncul tepat satu garis di hadapannya, sedikit jauh dari panggung tempat laki-laki itu berdiri.
...****************...
Halo readers kesayangan! Jangan lupa tinggalkan jejak komentar positif, like, dan plis bangeeet vote karya author supaya bisa dinikmati semakin banyak pembaca yaaa! Ulasan kalian sangat sangat berarti untuk author tetap melanjutkan ceritanya.
PS: Sambil menunggu update episode selanjutnya, author ada rekomendasi cerita yang tak kalah menarik nih! 🥳🥳
__ADS_1