
“Bukankah ini akan sangat sulit bagi kita?” tawar laki- laki itu, berharap Ega berubah pikiran untuk tidak merahasiakan status hubungan baru keduanya. Perempuan itu tersenyum.
“Bukankah kita sudah terbiasa seperti itu? Berpura- pura tidak saling kenal saat aku masih menjadi hairstylist mu dulu. Kamu masih ingat, ‘kan?” ujar perempuan itu.
“Tapi sekarang berbeda, Ga.”
“Tak ada yang berbeda, Iko. Berjanjilah untuk tetap asing di hadapanku ketika ada orang lain.”
Raut wajah laki- laki itu sedikit menunjukkan sesal karena permintaan Ega, namun ia benar- benar tak dapat berbuat banyak.
“Sudah terlalu malam. Pulang dan beristirahatlah,” pinta perempuan itu. Jemarinya setengah ragu membenarkan topi biru yang dikenakan Iko, namun laki- laki itu segera memeluknya kembali.
“Aku mencintaimu,” ujarnya sembari mengelus rambut lembut Ega.
Perempuan itu hanya tersenyum. Bibirnya masih belum terbiasa untuk membalas kata- kata itu. Laki- laki itu lantas berjalan mundur menjauh begitu ia melepaskan pelukannya, melambaikan tangan pada perempuan berbalut gaun tan yang masih berdiri di sudut halaman itu. Seakan desir angin berubah menjadi alunan melodi yang indah membuai relung hati, laki- laki itu pergi dengan membawa sukacita. Perempuan yang selama ini ia harapkan menerima cintanya, akhirnya mamu membuka hatinya kembali setelah terkunci sekian lama. Penantiannya selama bertahun- tahun terjawab sudah.
Perempuan itu lantas berjalan perlahan memasuki rumahnya kembali. Masih ada sedikit sisa keraguan yang bergejolak dalam dirinya. ‘Bagaimana jika aku gagal lagi pada akhirnya?’ gumamnya dalam hati sembari tetap melangkahkan kaki menuju kamar tidurnya. Mata cokelatnya menatap nanar ke arah jendela, mengingat kembali satu kecupan hangat yang telah diberikan oleh sahabat yang telah berulang kali menyatakan cinta padanya.
“Apakah aku akan baik- baik saja jika suatu saat nanti aku kehilanganmu?”
***
“Selamat pagi, Ibu CEO!” sapa seorang perempuan begitu memasuki ruang kerja perempuan yang sedari tadi sibuk dengan layar komputernya. Perempuan itu membawa tas jinjing berisi kotak berwarna putih dengan aroma gurih yang begitu khas. Langkahnya lebar menghampiri meja Ega, menyerahkan bingkisan itu tepat di atas meja namun kali ini ia tak beranjak.
“Ada apa, Nin?” Ega melempar tanya pada perempuan yang tengah menatapnya tajam, penuh intimidasi. Dengan ragu Ega menarik bingkisan itu, kembali menatap Nindy yang pandangannya semakin menyiratkan banyak pertanyaan.
__ADS_1
“Jujur saja sama aku, Ga.”
“Jujur? Apa maksudmu?”
Suasana di ruangan itu hening sejenak. Kedua mata perempuan itu kembali beradu.
“Katakan padaku siapa yang begitu sering mengirimi kamu bingkisan ini?”
Seketika Ega tampak gelagapan mendengar pertanyaan itu.
“Uhm, itu …,”
Belum sampai perempuan itu menjawabnya, kini ponsel pintarnya berdering memecah kekakuan antara keduanya. Nindy yang terlampau penasaran, memilh untuk tetap duduk di hadapan Ega tanpa bergeser sedikitpun.
“Aku …, aku mau terima telepon dulu, Nin. Bisakah kamu keluar sebentar?” pinta Ega pada sahabatnya. kali ini, Nindy bersikukuh ingin mendengar secara langsung siapa yang menghubungi sahabatnya itu. Merasa semakin gugup, Ega memutuskan untuk tidak mengangkat telepon itu.
“Nin aku mohon, sebentar saja,” pinta Ega, namun Nindy justru menyedekapkan kedua tangannya di depan dada.
“Halo, papa. Iya pa, aku sudah terima bingkisannya.” Ega menjawab panggilan itu sembari mengisyaratkan Nindy untuk segera beranjak. Perempuan itu akhirnya meninggalkan ruangan karena jawaban yang ia inginkan tak sesuai dengan harapan.
“Kamu memanggilku papa? Bukankah itu terlalu terburu- buru?” pungkas suara di seberang.
“Rekanku ada di hadapanku tadi, jadi aku harus menyamarkan panggilan telepon darimu. Dia mulai curiga padaku sejak kamu mengirimkan bingkisan hampir setiap hari.”
Laki- laki itu terkekeh.
__ADS_1
“Ega, kamu tahu?”
“Apa?”
“Kita seperti remaja puber yang takut ketahuan orang tua jika sembunyi- sembunyi seperti ini,” tutur laki- laki itu, yang seketika membuat Ega tertawa kecil. Tawa yang selama ini ingin Iko dengar merdunya.
“Aku suka tawamu,” pungkas laki- laki itu yang seketika membuat Ega menghentikannya.
“Terima kasih, Ko. Terima kasih karena kamu selalu ada untukku,” ucap Ega serius yang hanya dijawab dengan senyum kecil oleh laki- laki itu.
“Sore nanti aku akan ada jumpa fans di balai kota. Aku berharap kamu bisa datang jika pekerjaanmu sudah selesai.
“Aku tidak tahu. Sepertinya aku tidak bisa karena pekerjaanku terlalu banyak hari ini,” pungkas Ega. Seketika sambungan telepon itu terdengar hening.
“Iko? Kamu masih mendengarku?”
“Hm,” jawab laki- laki itu singkat.
“Apa kamu marah padaku?” Perempuan itu kembali melontarkan pertanyaan. Sambungan telepon itu kembali hening. Tak ada jawaban dari seberang, hanya ada suara dengusan napas yang terdengar berat mengisyaratkan kekecewaan.
...****************...
Haloo readers yang budiman! jangan lupa vote yaaaah plis banget mumpung hari Senin 🥳🥳 terima kasih untuk semua readers yg sudah baca, mohon tinggalkan jejak komentar positif, like dan berikan ulasan bintang' 5 jika suka jalan ceritanya.
__ADS_1
Oh ya, author mau merekomendasikan cerita seru juga nih, sambil nunggu author upload episode selanjutnya. Dijamin seruuu! 🥳🥳