
Cukup samar namun sesekali tersorot cahaya lampu, sosok perempuan berdiri sedikit jauh, satu garis tepat di hadapan Iko berdiri saat ini. Perempuan dengan gaun haute couture berwarna tan itu sesaat tertegun begitu mendengar syair yang dilantunkan Iko, lantas membaurkan tepuk tangan bersama semua orang yang memenuhi gedung konvensi itu. Perempuan itu dengan jelas mengacungkan kedua ibu jarinya pada Iko, lantas kembali berjalan menemukan tempat duduknya. Seketika mata Iko berbinar bersamaan dengan rasa bahagia yang membuncah di dalam dadanya. Laki- laki itu lantas mengalunkan lagu dengan penuh penghayatan, namun matanya tak pernah lepas dari sosok perempuan yang kini mengambil posisi duduk pada bagian tengah, beberapa baris di belakang barisan undangan para musisi kenamaan tanah air.
Selepas Iko menyelesaikan lagu pembuka itu, laki- laki itu lantas menuju belakang panggung untuk berganti kostum. Dengan segera ia meraih ponsel pintarnya lantas mengirim pesan pendek pada perempuan yang telah datang untuknya malam ini.
Kamu cantik.
Tak berapa lama laki- laki itu mendapatkan balasan berupa ikon senyuman kecil. Ya, hanya senyuman kecil tanpa kata.
Tunggu beberapa saat lagi. Ada sesuatu yang hendak kutunjukkan padamu.
Laki- laki itu kembali mengirim pesan, namun belum sempat ia mendapat balasan, suara pembaca nominasi terdengar menggelegar memenuhi gedung konvensi.
“Penghargaan lagu terbaik tahun ini jatuh kepada …,” ucapan pembaca nominasi itu terjeda beberapa saat, membiarkan gemuruh musik menyelingi suara mereka sebelum akhirnya mengumumkan siapa pemenangnya.
“Selamat kepada Iko Bhagaskara dengan lagu berjudul Takdir Cinta!”
Seketika sorak- sorai tamu undangan kembali bergemuruh memberikan apresiasi atas lagu fenomenal yang mampu mengantarkan Iko pada puncak karir kesuksesannya tahun ini. Semua undangan berdiri, tak terkecuali Ega yang cukup terkejut karena lagu itu adalah lagu yang diciptakan Iko sejak masih duduk di bangku SMA, dan dia turut menyelesaikan bagian akhirnya. Perempuan itu tersenyum bangga begitu mendapati Iko yang kini telah berbalut setelan jas berwarna hitam dan berjalan menuju podium untuk menerima piala penghargaannya yang kesekian kali. Laki- laki itu tersenyum lebar. Pandangannya tak lepas dari Ega yang duduk jauh di hadapannya.
“Saya ucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat dalam aransemen lagu ini, dan kepada seluruh penggemar yang telah mendukung saya. Saya menciptakan lagu ini sejak saya masih duduk di bangku SMA, dan perlu kalian ketahui bahwa saya tidak menciptakannya sendiri. Bagian terakhir dari lagu ini, adalah ciptaan sahabat saya. Untuk itu saya persembahkan piala ini untuknya,” ucapan laki- laki itu terjeda oleh tepuk tangan penonton yang kembali menggema di seluruh penjuru gedung.
“Terima kasih sudah membawaku sampai di sini,” lanjut laki- laki itu. Kedua matanya tetap menatap Ega dari jauh. Perempuan itu tersenyum, entah senyuman itu terlihat atau tidak dari pandangan Iko.
Beberapa waktu berlalu hingga acara itu telah mencapai puncaknya. Kini para undangan satu- per satu meninggalkan gedung konvensi itu, beberapa artis lainnya masih sibuk berfoto, tak terkecuali Iko. Laki- laki itu bermaksud untuk segera menemui Ega, namun beberapa artis yang datang memintanya berfoto secara bergantian. Ega yang semula masih menunggu dengan sabar karena ingin mengucapkan selamat secara langsung, nampaknya mulai lelah hingga akhirnya berniat untuk beranjak pergi. Iko yang dari jauh mengamati pergerakan perempuan itu, tampak berupaya bergegas menghampirinya.
“Jangan pergi dulu, Ega,” tuturnya dalam hati yang seolah didengar Ega dari kejauhan sehingga perempuan yang kini berjarak beberapa meter di depannya itu memalingkan pandangan padanya. Iko bergegas melangkah namun seketika beberapa rekannya satu agensi berhambur untk mengajaknya berfoto.
“Bro, selamat! Ayo kita berfoto dulu!” ujar salah seorang idola yang kemudian sedikit menariknya kembali ke belakang untuk berfoto. Menghadapi kondisi yang tidak memungkinkan itu, Iko mendapati Ega tersenyum dari kejauhan. Bibir merahnya dengan jelas berucap ‘Aku pulang dulu,’ meskipun suaranya tak terdengar. Iko menggelengkan kepala padanya mencoba menahan Ega agar menunggu sebentar lagi, namun perempuan itu justru melambaikan tangan padanya dan berjalan menjauh. Iko yang masih ditahan oleh beberapa artis lain yang masih meminta foto bersama, tak mampu berbuat banyak.
...***...
__ADS_1
Perempuan itu memasuki kamarnya dengan gontai. Acara penghargaan yang baru saja ia datangi cukup membuat tubuhnya penat, meskipun ia hanya duduk tanpa melakukan apapun. Perlahan ia rebahkan tubuh indahnya yang masih berbalut gaun, matanya menatap langit- langit yang kosong. Senyum tipisnya tersungging lantaran bangga atas pencapaian yang diraih oleh sahabatnya. Baru saja ia hendak memejamkan mata, ponsel pintarnya berdering hingga membuat perempuan itu beranjak dari rebahnya.
“Kapan kamu menghentikan kebiasaanmu menghubungiku tengah malam begini, hm?” tutur perempuan itu begitu mengetahui siapa yang meneleponnya.
“Aku di depan rumahmu. Keluarlah.”
“Apa?” seketika Ega terhenyak lantas berjalan mendekati jendela kamarnya di lantai dua yang menghadap langsung ke halaman depan rumahnya. Iko sudah berdiri di sana, mengenakan jaket hitam, masker dan topi berwarna biru. Tangan kanannya menunjukkan sebuah piala pada Ega begitu ia mendapati perempuan itu membuka jendela kamarnya.
“Kamu sudah gila? Apa yang kamu lakukan di sini? pulanglah!” Pinta Ega. Dari bawah, laki- laki itu menatap Ega yang masih tertahan di balik jendela kamarnya.
“Turunlah. Aku hanya ingin menyerahkan ini padamu.”
Perempuan itu menggeleng tak habis pikir terhadap Iko yang nekat mendatangi rumahnya tengah malam seperti ini. Dengan sedikit tergesa Ega bergegas turun dan membuka pintu rumahnya, seketika mengisyaratkan Iko untuk tidak bergeser dari tempat di mana ia berdiri.
“Berhenti di situ, jangan beranjak.” Ega berjalan mendekat sembari sesekali menelisik pada beberapa sudut rumahnya, lantas menarik Iko ke titik yang ia anggap aman dari pantauan kamera pengintai.
“Ada beberapa kamera pengintai di rumah ini yang terhubung langsung dengan papaku. Jangan sampai kehadiranmu terekam olehnya,” jelas Ega pada laki- laki di hadapannya yang justru terkesima.
“Kamu …, kamu sangat cantik dengan gaun ini,” tutur laki-laki itu lirih. Seketika Ega terdiam mendengar pujian yang terlontar dari mulut sahabatnya itu.
“Katakan untuk apa sebenarnya kamu datang kemari, Ko.”
Laki- laki itu lantas tersadar dari pandangannya yang sedari tadi terhipnotis oleh kecantikan Ega yang masih berbalut gaun pemberiannya.
“Aku …, aku hanya ingin memberikan ini untukmu.”
“Untukku?”
Laki- laki itu mengangguk sembari menyodorkan sebuah piala berbentuk notasi balok bersusun tiga.
__ADS_1
“Kamu yang berhak memilikinya, Iko.”
“Tidak. Kali ini aku menyerahkannya untukmu.”
Laki-laki itu bersikukuh menyerahkan piala yang berhasil didapatkannya, sementara Ega bersikukuh menolaknya.
“Iko, dengar. Lagu itu adalah lagumu. Aku hanya menyelesaikan bagian akhirnya saja, dan aku tidak berharap apapun mengenai itu. Aku benar- benar tidak bisa menerima ini.”
“Kalau begitu terimalah cintaku, Ega.”
Perempuan itu terkesiap. Jantungnya kembali berdetak lebih cepat, sama cepatnya seperti setiap kali ia mendengar kata- kata itu selalu terulang dari mulut laki- laki yang masih terpasung di hadapannya. Sunyi. Hanya ada semilir angin yang membelai lembut gerai rambut indah perempuan itu.
“Aku …,”
...****************...
Haloo readers yang baik!😘
Seperti permintaan sebelumnya, jangan hlupa like, komentar, share dan jangan lupa juga vote setiap hari Seniiin okaay. Terima kasih 🙏🥰
PS: Sambil menunggu author up episode baruu, boleh banget baca karya di bawah ini! Dijamin seruu 🥳🥳
__ADS_1