Pembalasan Istri CEO Dan Sang Idola

Pembalasan Istri CEO Dan Sang Idola
BAB 28: KONFERENSI PERS


__ADS_3

Ruang rapat kantor agensi itu tampak tegang. Beberapa orang telah duduk mengelilingi sebuah meja panjang berwarna putih dengan tumpukan kertas yang tampak sedikit berserakan. Terhitung enam orang duduk berhadapan, Aluna berdampingan dengan manajernya, Pak Raymond yang tak lain adalah CEO agensi The Stars, tempat yang menaungi artis- artis idola termasuk Aluna dan Iko, Pak Joseph, pimpinan manajer yang semalam melampiaskan amarahnya pada Iko melalui telepon, serta dua orang terakhir yang tak lain adalah Iko dan manajernya. Semua mata menatap tajam pada Iko, menunggu Sang Idola yang tengah menjadi perbincangan hangat hampir seluruh masyarakat tanah air beberapa hari belakangan atas foto yang beredar. Pak Raymon tampak sesekali membenarkan kacamatanya yang mulai turun, sementara Pak Joseph berpindah posisi duduk bersandar pada pegangan kursi, memicing tajam pada Iko sembari menyedekapkan kedua tangannya menutup dada.


“Katakan sebenarnya ada hubungan apa antara kamu dengan Ega, Ko?” bagaimana bisa kamu melakukan hal ceroboh seperti ini!” tanya Pak Joseph dengan nada yang sedikit meninggi lantaran kesal menunggu Iko yang tak memberi klarifikasi apapun semenjak ia datang memasuki ruangan rapat.


“Memangnya apa yang saya lakukan, Pak?” foto itu tidak bisa membuktikan apapun!” bantah Iko pada lelaki tambun yang berusaha menyudutkannya.


“Tidak membuktikan apapun? Bagaimana maskudmu? Jelas- jelas kalian berciuman di ruang tata rias!” sanggah Pak Joseph tak mau mengalah.


“Pak, saya tidak pernah melakukan hal itu! Saya hanya sedang berdiri di hadapannya dan dia hendak membenarkan rambut saya. Bagian mana yang harus saya akui kalau saya telah menciumnya?”sergahnya dengan nada kesal.


“Kalian berdua tenanglah! Jangan terbawa emosi! Kita selesaikan semuanya dengan kepala dingin,” tutur Pak Raymon yang terlihat mengamati pertikaian dua laki- laki itu sejak tadi.


“Lagipula, tidak seharusnya Bapak menyudutkan saya. Ada seseorang yang sengaja mengambil foto dengan jarak sedekat itu dan menyebarkannya. Saya yakin ada orang dari dalam agensi yang sengaja ingin menjatuhkan karir saya, Pak. Bapak seharusnya melindungi saya, bukan justru memojokkan saya seperti ini!” Iko kembali memberikan pembelaan. Mendengar hal itu,  Pak Joseph tampak semakin naik pitam.


“Kau!- tutur laki- laki itu tertahan manakala melihat Pak Raymon mengisyaratkan untuk tidak melanjutkan perkataannya.


“Apa yang dikatakan Iko saya rasa ada benarnya. Foto itu diambil di dalam ruang rias, di belakang panggung. Sudah pasti orang dalam yang melakukan ini,” Pak Raymon menengahi. Dari kedua petinggi agensi itu, Pak Raymon memang selalu lebih bijak dalam menyelesaikan masalah. Berbeda dengan Pak Joseph yang selalu mengedepankan emosi sesaatnya dan kurang mahir berpikir jernih.


“Tapi siapa, Pak?” Tanya Pak Joseph pada Pak Raymond.

__ADS_1


“Itu yang akan kita selidiki nanti. Mungkin staff, mungkin juga manajer,” pungkasnya.


“Mungkin juga salah satu artis yang sengaja menghancurkan nama baik saya,” sambung Iko sembari menatap sinis pada Aluna, “Dan ingin menghancurkan citra Ega,” tutupnya sembari tetap menatap dingin pada gadis muda yang mulai tampak panik itu. Tergambar dengan jelas bahwa gadis itu kesulitan menelan ludah begitu mendengar pernyataan dan tatapan intimidasi dari Iko.


“Ah, sudah- sudah. Yang jelas saya ingin kamu dan Aluna melakukan konferensi pers hari ini. Katakan kalau semua tuduhan itu tidak benar serta hubunganmu dan Aluna baik- baik saja. Jika perlu, katakan bahwa Ega yang berusaha masuk dalam hubungan kalian, agar nama kalian berdua tetap terjaga!” pungkas Pak Joseph mengakhiri perdebatan. Mendengar pernyataan terakhir laki- laki tua itu, rahang Iko mengerat kencang.


“Jangan libatkan Ega dalam masalah ini! Dia tak tahu apa- apa tentang semua ini!” sahut Iko geram. Pak Joseph berbalik, menatap Iko dengan penuh kecurigaan.


“Apa saya tidak salah dengar? Jangan- jangan kamu benar- benar ada hubungan khusus dengan penata rambut itu, huh? Saya akan memberhentikannya hari ini juga, jika tidak karir yang telah kalian bangun dengan susah payah, akan sirna begitu saja!” pungkas Pak Joseph sembari beranjak meninggalkan ruangan. Tangan Iko mengepal penuh kebencian mendengarkan kata- kata yang baru saja keluar dari mulut laki- laki itu.


“Baiklah sekarang kalian pergilah ke aula, sampaikan semuanya dengan hati- hati. Saya percaya kalian masih sangat mencintai pekerjaan kalian bukan? Jadi jangan mengecewakan kami hari ini,” tutup Pak Raymon yang turut meninggalkan ruang rapat itu, menyisakan Iko, Aluna, dan manajer masing- masing. Kedua manajer itu segera bergegas menuju aula untuk menemui wartawan, diikuti dengan Aluna yang tampak berjalan tergesa- gesa namun Iko menahan lengannya.


“Lepasin, Kak Iko!” sergah gadis itu sembari berusaha melepaskan cengkeraman tangan Iko. Laki- laki itu menarik lengan Aluna mendekat kemudian menatapnya tajam.


“Kak Iko curiga sama aku?” sanggah gadis yang kini berhasil terlepas dari cengkeraman tangan laki- laki itu. Sesekali ia tampak menyeringai memegangi tangannya yang terasa sakit.


“Jangan berpura- pura polos, Aluna! Aku tahu cepat atau lambat semua orang akan tau wajah aslimu!” tutup laki- laki itu sembari bergegas menuju aula untuk segera melakukan klarifikasi.


...***...

__ADS_1


Di dalam aula konferensi yang terletak di lantai dua gedung agensi The Stars, puluhan wartawan dari berbagai portal berita dan saluran televisi telah berkumpul, bersiap menunggu kehadiran sang idola untuk memberikan pernyataan. Sebagian besar telah siap dengan alat perekam, sebagian yang lain sibuk mengatur kameranya sedemikian rupa. Masing- masing tengah mempersiapkan diri begitu dua manajer Aluna  dan Iko memberi salam dan duduk di meja konferensi yang telah tertata di hadapan pers. Suasana di dalam ruangan itu tampak hening, namun seketika berubah riuh begitu Iko terlihat menampakkan diri mendekati meja konferensi itu, beserta Aluna yang mengekor di belakang. Seketika ruangan yang tenang berubah menjadi gaduh dengan suara kamera dan kilatan cahaya yang mengerjap dari lensa- lensa yang kesemuanya tertuju pada dua idola yang tengah memberi salam dan kini memposisikan diri duduk di hadapan mereka. Kegaduhan terjadi selama beberapa saat, hingga manajer Iko menghentikannya dengan mempersilakan wartawan untuk menyampaikan pertanyaan secara bergantian. Satu- per satu kuli tinta itu mengangkat tangan dan melontarkan pertanyaan yang lebih banyak ditujukan pada Iko, sosok yang menjadi sumber topik berbincangan hangat akhir- akhir ini.


“Iko, apakah benar anda ada hubungan khusus dengan penata rambut itu?” tanya seorang wartawan yang kemudian disusul dengan kegaduhan kecil dari wartawan lain. Kembali manajer Iko berusaha menenangkan kegaduhan itu dan memberi waktu pada Iko untuk menjawab pertanyaan tersebut.


“Saya hanya akan mengklarifikasi tentang foto yang beredar. Saat itu saya akan tampil dan dia melihat penampilan saya kurang rapi, sehingga memanggil saya dan merapikannya. Mungkin karena seseorang yang sengaja mengambil gambar dari sudut pandang yang  berbeda, sehingga kami terlihat sedang …, maaf, berciuman,” pungkas Iko dengan hati- hati memilih kata- kata yang ia sampaikan.


“Bagaimana pendapat Aluna tentang ini? Anda sebagai kekasih Iko dan bernaung di satu agensi yang sama, tentunya anda mengetahui semua yang terjadi di balik layar. Apakah anda ingin menyampaikan sesuatu?” kini salah satu wartawan melemparkan pertanyaan itu kepada Aluna yang sedari tadi tampak tegang. Mendengar itu, Iko segera menyela. “Ah, dalam kesempatan ini, saya ingin mengatakan sesuatu terkait hubungan kami. Sebenarnya selama ini saya dan Aluna …,” laki- laki itu menghentikan sejenak perkataannya. Dalam hati ia ingin segera mengakhiri kepalsuan itu tanpa sepengetahuan Pak Raymond an Pak Joseph, namun ada sedikit keraguan apakah ia akan mengatakan saat ini juga atau tidak.


“Mohon lanjutkan pernyataan anda, Iko,” celetuk salah seorang wartawan berkacamata yang berbalut kemeja berwarna biru.


“Sebenarnya saya …,” suara Iko seketika tenggelam karena dalam waktu yang hampir bersamaan, ponsel para pekerja kuli tinta itu berbunyi secara bersahut- sahutan. Sebagian wartawan yang awalnya hanya terpaku menunggu pernyataan Iko, seketika turut gaduh begitu mendapatkan pesan yang sama hingga membuat kekacauan kembali terjadi. Dua idola dan manajer yang tak mengerti mengapa hal itu bisa terjadi, berusaha menenangkan kegaduhan yang belum diketahui apa penyebabnya.


“Lihat! Bukankah ini Aluna?” celetuk salah seorang wartawan laki- laki di barisan paling depan.


“Wah, apa ini? Durasi hingga empat puluh lima menit? Astaga apakah kalian mendapatkan tautan beruntun ini juga?” celetuk wartawan lain yang duduk di barisan bangku ke tiga. Seketika suasana semakin gaduh, namun kali ini kegaduhan itu justru muncul dari kalangan pencari berita sendiri, dan mengabaikan dua idola yang masih terperangah, tak tahu apa yang terjadi. Raut muka para wartawan itu tampak terkejut, sebagian lagi justru tampak bahagia seperti mendapatkan berita yang lebih penting dari dua idola yang masih terpaku dalam duduknya.


“Ada apa ini?”


...***...

__ADS_1


 Halo readers kesayangan! Sambil menunggu author update episode selanjutnya, yuk baca karya rekan author yang satu ini! Pecinta horor merapat! Ceritanya dijamin seruu!🥳🥳



__ADS_2