Pembalasan Istri CEO Dan Sang Idola

Pembalasan Istri CEO Dan Sang Idola
BAB 43: GELANG MANIK


__ADS_3

“It’s okey, aku ngerti. Kamu pasti sibuk,” jawab laki- laki itu kemudian.


“Apakah kamu sudah membuka isi bingkisan yang baru saja kukirimkan?”


“Uhm, belum. Garlic bread, kan?”


“Hm. Makanlah selagi hangat. Jangan lupa jaga kesehatanmu,”


“Terima kasih,” perempuan itu menjawab singkat lantas sambungan telepon itu terputus. Dua bola mata cokelat itu  melongok apa yang ada di dalam bingkisan yang masih bertengger di atas meja, namun kali ini mata itu menangkap sesuatu yang lain di atas kotak roti itu. Sebuah kotak kecil berwarna hitam.  Dikeluarkannya kotak itu lantas dibukanya perlahan. Di sebalik tutup kotak kecil itu, terdapat sebuah gelang manik berwarna pastel dengan satu mata emas berbentuk kelinci kecil yang elegan. Ega kemudian memantas gelang itu di pergelangan tangan kanannya. “Cantik,” gumamnya. Merasa ada yang mengawasinya sejak tadi, Ega lantas melemparkan pandang ke arah luar pintu kaca ruangannya dan di sana ia kembali mendapati Nindy, tampak berusaha mencari informasi tentang dirinya.


“Dasar!” gumamnya lirih sembari berjalan mendekati pintu kaca itu.


“Sampai kapan kamu akan terus mengawasiku, hm?” ujar Ega begitu pintu kaca terbuka dan ia dapati Nindy masih di sana.


“Oh, ehm …,”


Nindy kembali salah tingkah karena tertangkap basah.

__ADS_1


“Ikut aku minum kopi di kafetaria. Aku sedikit mengantuk,” ajak Ega yang kemudian segera diikuti Nindy di belakang.


...***...


“Jadi apa yang ingin kamu tahu dariku? Jujur, lama- lama aku tidak tahan menghadapi tingkahmu dan Lukas,” kesal Ega sembari meneguk secangkir kopi hazelnut yang ia pesan.


“Ga. Kamu pasti sudah tahu apa yang kami ingin tahu. Sekarang jujurlah padaku,” cicit Nindy penuh rasa penasaran sembari turut menyeruput kopi yang ada di hadapannya. Seketika lidahnya sedikit terjulur menolak getir pahit rasa kopi yang baru saja ia cicipi.


“Seperti yang kamu lihat belakangan ini. Seseorang telah mendekatiku dan kami …,” Ega membiarkan perkataannya menggantung di udara. Senyum tipisnya tersungging begitu mengingat siapa yang tengah ia bicarakan. Kedua bola mata Nindy membelalak pertanda mampu menangkap apa yang dimaksud oleh sahabat yang duduk di hadapannya itu.


“Jadi? Kamu sudah punya pasangan?” seloroh Nindy setengah berteriak.


“Ah, selamat! Aku turut senang mendengarnya!” ucap Nindy kegirangan sembari meraih kedua telapak tangan Ega dan menggenggamnya erat.


“Sekarang jangan pernah lagi mengenalkan laki- laki padaku, mengerti?” pungkas Ega setengah bercanda yang disambut kekeh kecil dari mulut Nindy.


“Siapa orangnya? Siapa laki- laki yang mampu meluluhkan hatimu, Ga?” perempuan itu tak ada habisnya bertanya.

__ADS_1


“Mengenai hal itu, cukup jadi privasiku. Aku minta kamu jangan mencari tahu. Okey?”


“Hm, baiklah. Aku tidak akan mengganggu lagi. Yang jelas, aku turut bahagia melihat senyumanmu kembali seperti dulu, Ga.”


“Terima kasih ya, Nin.” Ucap perempuan itu yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Nindy.


...***...


Laki- laki itu bersiap untuk melakukan jumpa fans sore ini. Acara yang dihelat oleh salah satu rumah produksi film mengundang Iko untuk jumpa fans karena lagu ciptaannya yang mendapatkan penghargaan tempo hari, menjadi salah satu soundtrack untuk sebuah film. Dengan didampingi beberapa pemeran utama dalam film yang akan tayang beberapa hari lagi, Iko duduk berjajar di hadapan sebuah meja yang ditata sedemikian rupa menghadap para penggemar. Semua kursi yang tertata sudah tampak dipenuhi penggemar yang sebagian besar dari kalangan para wanita. Begitu semuanya siap, sang pembawa acara membuka jumpa fans itu dengan berbagai sesi tanya jawab terhadap seluruh artis film, juga pada Iko selaku pengisi lagu. Selesai dengan sesi tanya jawab itu, sang pembawa acara lantas mempersilakan para penggemar untuk segera mengantre mendapatkan tanda tangan eksklusif dari para artis. Satu demi satu penggemar itu berlalu, dan Iko tampak sibuk membubuhkan tanda tangan pada apapun yang disodorkan oleh para penggemar kepadanya. Sebagian penggemar membawa buku kecil, kaos, bahkan pelindung ponsel untuk dibubuhi tanda tangan Iko. Laki- laki itu mulai sedikit kelelahan, namun ia harus tetap menyelesaikan sesi tanda tangan itu. Dalam kecepatannya membubuhkan tanda tangan, tiba-tiba terjulur di hadapannya sepasang tangan putih bersih tengah menyodorkan sebuah album di hadapan matanya yang sedari tadi menunduk. Seketika laki- laki itu terkesiap begitu mendapati pergelangan tangan kanan yang tengah menyodorkan album padanya, mengenakan sebuah gelang manik berwarna pastel dengan mata emas berbentuk kelinci kecil di tengahnya. Sontak laki- laki itu menengadahkan kepalanya begitu menyadari siapa yang ada di hadapannya saat ini.


“Boleh aku meminta tanda tanganmu?”


...****************...


Terima kasih untuk pembaca yang masih mengikuti alurnya sampai bab ini. Jangan lupa tinggalkan jejak komentar positif, like dan subscribe agar tak ketinggalan bab selanjutnya yaaah! jangan lupa juga untuk vote mumpung hari Senin 🥳🥳.


Sambil nunggu author update besok, mampir yuk di cerita rekan author di bawah ini. 🥳🥳

__ADS_1



__ADS_2