
“Apa maksudmu dengan semua ini?!” bentak laki- laki itu begitu ia sampai di rumahnya dan mendapati istrinya yang tengah duduk sembari menikmati secangkir teh hijau yang masih hangat. Mendapati suaminya yang datang membawa amarah, perempuan bermata cokelat itu tersenyum simpul lantas beranjak menghampirinya.
“Tak kusangka kamu seberani itu datang kembali ke rumah ini,” ujar perempuan itu sinis.
“Kau!” bentaknya tertahan. Napas laki- laki itu terengah- engah karena amarah yang telah memuncak.
“Bagaimana bisa kau mengambil semua yang telah aku bangun dengan kerja keras seenaknya! Aku yang bekerja keras dari nol membangun perusahaan itu kau tahu!!” bentak laki- laki itu dengan nada meninggi.
“Bukan hanya kamu tapi kita berlima! Kita berlima yang jatuh bangun mendirikan perusahaan itu Evan! Kita berlima yang berjanji untuk selalu jujur dalam menjalankan usaha itu tapi lihatlah dirimu! Kepintaran membuatmu jumawa, merasa seolah hanya kamu yang paling bekerja keras dalam perusahaan itu hingga kamu merasa semuanya milikmu! Hanya milikmu!” bantah Ega dengan nada semakin meninggi.
“Aku dan papa dengan tulus membantu perusahaan yang hampir bangkrut itu untuk tetap berdiri. Tapi lihat! Ketamakan dan keegoisanmu sendiri yang mengantarkanmu pada kehancuran!”geramnya menahan amarah. Kedua bola mata laki- laki itu semakin memerah karena merasa harga dirinya telah terinjak- injak begitu mendengar nada tinggi yang keluar dari mulut perempuan yang ada di hadapannya, hingga akhirnya laki- laki itu melayangkan sebuah tamparan keras pada pipi kanan Ega.
“Berani sekali kamu berbicara dengan nada tinggi padaku! Aku masih suamimu, Ega!” bentaknya sembari mencengkeram pipi Ega di sela ibu jari dan telunjuknya yang kuat. Perempuan itu tersenyum getir menahan perih yang menjalar di sisi kanan pipinya yang memerah serta robekan kecil di sudut bibirnya karena tamparan keras itu.
__ADS_1
“Kau masih suamiku? Lantas apa yang akan kau lakukan? Kau mau menghabisiku saat ini juga, hm? Lakukan saja, Evan! Lakukan!” tantang perempuan itu yang seketika membuat Evan semakin naik darah hingga ia mendorong tubuh lemah Ega dan menghimpitnya ke arah dinding. Detak jantung perempuan itu bergetar hebat karena merasa ketakutan, namun sebisa mungkin ia terlihat tegar.
“Sekalipun napasku berakhir hari ini, hidupmu tak akan selamat dari kehancuran yang kau buat sendiri, Evan! Kamera pengintai di depan rumah sudah merekam kehadiranmu dan mungkin saat ini papa tengah menyaksikannya. Jika mayatku ditemukan di sini setelah kau pergi, maka papa sudah pasti tahu siapa pelakunya, orang terdekat yang mengakhiri hidup istrinya sendiri,” ujar perempuan itu dengan suara yang masih tercekat. “Dan tamparan keras ini, akan menjadi bukti kekerasan yang kamu lakukan agar semakin mempermudah jalanku berpisah dengan laki- laki tamak sepertimu!” pungkasnya sembari menyunggingkan senyum sinis pada laki- laki yang masih menghimpit tubuhnya.
“Sekarang semua pilihan ada di tanganmu. Karena semua pilihan yang kamu tempuh akan berujung pada kesia- siaan. You’d better run, Evan! Run!” bisiknya di telinga laki- laki itu, lantas terkekeh kecil dalam getir yang tengah ia rasakan. Evan melepaskan cengkeramannya, menyadari bahwa perempuan yang selama ini ia anggap mudah diperdaya ternyata tak selemah yang ia kira. Laki- laki itu berjalan mundur beberapa langkah lantas pergi meninggalkan Ega sendirian di rumah itu. Sementara Ega yang masih menahan perih tampak mengusap darah yang mengalir di sudut bibirnya. Derita yang ia rasakan telah membuat air matanya kering, hingga ia tak mampu menangis lagi. Kali ini hanya kebencian yang tersisa untuk laki- laki telah mengkhianatinya itu.
...***...
Ega meringis kesakitan mengompres pipi kanannya. Sesekali perempuan itu mendesis merasakan nyeri yang kini berubah menjadi lebam berwarna biru pada tulang pipinya. Belum sampai perempuan itu selesai menyeka lukanya, ponsel pintarnya bergetar. Dengan cekatan perempuan itu meraih ponsel pintar yang ia letakkan di atas meja lantas menjawab panggilan itu.
“Ya! Benar katamu! Kacau, Say! Dan semuanya semakin kacau karena kamu!” racau laki- laki gemulai itu dari seberang, yang membuat Ega seketika terkesiap.
“Aku? maksud kamu?” tanya Ega tak mengerti.
__ADS_1
“Kamu ada hubungan diam- diam sama Iko, huh? Semua ramai membicarakan berita itu! Jangan katakana kamu belum melihatnya!” seloroh Nathan dengan nada nyaringnya. Tak sampai Ega memberi penjelasan, sambungan telepon itu ditutup disusul dengan kiriman foto dari Nathan yang menunjukkan kebersamaan Ega dan Iko. Mata cokelat perempuan itu terbelalak karena ia ingat betul foto itu adalah foto yang diambil manakala Iko hendak mencium Ega di ruang tata rias beberapa waktu yang lalu. Ternyata selama ini ada yang sengaja mengambil gambar mereka secara diam- diam, dan Ega tahu betul siapa pelakunya.
“Gadis j*l*ng itu rupanya benar- benar ingin berurusan denganku,” gumam Ega sembari sesekali berdesis menahan sakit.
“Iko?! pasti semua orang kembali menyorotinya kali ini!” seketika Ega membuka berbagai portal yang mengunggah berita itu dan benar saja, segala bentuk hujatan kembali ditujukan pada sang idola. Ega bergegas mengambil jaketnya dan pergi menemui Iko. Perempuan itu merasa bersalah karena Iko harus kembali terlibat dalam permasalahan rumah tangganya.
Mobil yang dikemudikan Ega melesat jauh membelah jalanan ibukota, dan kini ia berbelok di area apartemen tempat tinggal Iko. Halaman depan apartemen itu tengah dipenuhi beberapa wartawan yang sudah pasti akan meminta klarifikasi atas berita yang beredar. Dengan cekatan Ega memutar kemudinya, dan ia tahu harus kemana untuk menemukan Iko. Mobil itu kemudian kembali melesat sedikit jauh dari keramaian pusat kota, menuju studio musik yang ia yakini Iko pasti berada di sana. Benar saja, perempuan itu mendapati mobil Iko terparkir di sana. Dengan segera Ega memasuki studio itu, dan mendapati Iko yang justru tertidur pulas seolah tak terjadi apa- apa pada dirinya. Ega berjalan perlahan menghampiri laki- laki itu, namun tampaknya langkah Ega terdengar sehingga membuat laki- laki itu terkesiap.
“Bagaimana kamu bisa tidur dalam keadaan seperti ini, Ko? Semua media membicarakan foto yang beredar itu!” tutur Ega keheranan mendapati sahabatnya yang baru saja tersadar dari tidur pulasnya. Laki- laki itu semula tersenyum, namun seketika senyum itu berubah menjadi terkejut manakala luka lebam di pipi dan robekan kecil di sudut bibir Ega yang semakin terlihat saat perempuan itu berjalan mendekat.
“Ega!? Apa yang terjadi padamu?! Siapa yang berani melakukan ini?”
...****************...
__ADS_1