Pembalasan Istri CEO Dan Sang Idola

Pembalasan Istri CEO Dan Sang Idola
BAB 33: WELCOME TO LA LEMONADA, MRS. CEO!


__ADS_3

Ruang rapat berukuran tak kurang dari dua puluh meter persegi itu tampak penuh. Semua mata tertuju pada seorang perempuan yang duduk pada bagian paling ujung meja, tepat di sisi kiri layar putih yang masih menampakkan bias gambar dari lampu proyektor. Perempuan yang baru saja menyelesaikan presentasinya itu kemudian bergeser ke tengah tepat di depan layar, mengunci semua perhatian seluruh staff yang ada di sana.


“Mulai hari ini dan seterusnya, saya Egalita Sangpa. Mengambil alih posisi CEO yang sebelumnya diduduki oleh saudara Evandy Sjahreza …,” perempuan itu tampak mengatur napas untuk melanjutkan perkataannya, “Mantan suami saya,” pungkasnya. Seketika beberapa staff tampak saling menatap satu sama lain kemudian berganti menatap Ega. Sorot mata para staff La Lemonada yang mengikuti rapat di ruangan itu seolah menaruh iba pada Ega, mungkin karena mereka sudah mengetahui skandal video Evan dan Aluna yang tersebar di jagat maya. Perempuan itu menarik napas untuk melonggarkan sesak yang bercokol di dalam rongga dadanya, mencoba tetap tegar di hadapan para staff yang masih menatapnya.


“Saya mohon kerjasama anda semua, dan saya berharap kejadian buruk yang baru saja terjadi di kantor kita tidak terulang lagi. Karena perusahaan kita begitu menjunjung tinggi kejujuran dan kredibilitas. Bisakah kita bekerja sama dengan baik?” Ega melempar pertanyaan kepada semua staff yang duduk mengintari meja di hadapannya. Semua staff mengangguk patuh yang kemudian dibalas Ega dengan senyum tipis penuh wibawa.


“Baik saya rasa cukup untuk meeting kita hari ini, silakan kembali pada pekerjaan masing- masing,” tutup perempuan itu yang kemudian disusul oleh para staff yang mulai meninggalkan ruang rapat satu- per satu untuk menyelesaikan pekerjaan mereka. Ega tampak sibuk membereskan berkas- berkas yang ada di hadapannya, hingga tak lama kemudian Lukas dan Nindy datang menghampiri.


“Ga …,” sapa Nindy dengan hati- hati yang seketika membuat Ega mendongakkan pandangannya.


“Ya?” jawab Ega singkat sembari kembali fokus membereskan berkas- berkasnya. Nindy dan Lukas beradu pandang, saling sikut memberi isyarat untuk membuka percakapan lebih dulu.


“Kalian ini kenapa?” Ega kembali mendongak dan tersenyum tipis mendapati tingkah canggung kedua sahabatnya.


“Ga, kami minta maaf atas semuanya. Jujur kami benar- benar tidak mengetahui rahasia yang selama ini disimpan Evan dan Amora meskipun kami sering makan siang bersama.” Nindy memberanikan diri untuk membuka percakapan.


“Kami juga tidak mengetahui perkara laporan keuangan yang telah digembungkan Amora. Kamu bisa meng- audit ulang laporan kami secara personal jika kamu kurang yakin,” sambung Lukas. Nada bicaranya bergetar penuh kehati- hatian. Perempuan itu kembali tersenyum tipis.

__ADS_1


“Aku sudah tahu semuanya, dan aku sudah membuktikan kalian tidak terlibat dalam kecurangan laporan keuangan itu. Aku sangat menghargai kredibilitas kalian pada perusahaan ini. Terima kasih untuk itu,” pungkasnya sembari menatap bergantian kedua sahabat yang masih berdiri canggung di hadapannya.


“Mengenai rahasia yang selama ini disembunyikan Amora dan Evan, aku rasa kalian telah melakukan hal yang benar dengan tidak mencampur adukkan urusan personal dan perusahaan, meskipun kalian tahu status The Five Hunters seperti apa,” jelasnya. Nindy lantas memberanikan diri mendekati Ega dan memeluknya begitu saja.


“Maafkan aku, Ga. Aku benar- benar minta maaf karena tidak peka atas masalah yang menimpamu selama ini. Aku memang sahabat yang tidak berguna!” ucap Nindy mengutuk diri sendiri. Disusul kemudian Lukas yang turut berjalan mendekat dan ikut meminta maaf. Ketiga sahabat itu berpelukan yang seketika membuat Ega dan Nindy menangis. Lukas sebisa mungkin menenangkan kedua sahabatnya dengan mengelus punggung dua perempuan itu secara bergantian.


“Kedepannya tolong libatkan kami jika kamu sedang mengalami masalah. Kami akan selalu ada untukmu, Ga." Pungkas Lukas meyakinkan sahabatnya diikuti oleh anggukan kepala Nindy yang masih terisak dalam tangisnya.


“Terima kasih karena kalian masih bersamaku,” tutur Ega. The Five Hunters kini hanya tersisa tiga orang saja, yang akan berjuang sampai titik darah penghabisan untuk memajukan usaha yang mereka rintis bersama.


“Welcome to La Lemonada, Mrs.CEO!” tutur Lukas dan Nindy hampir bersamaan.


Ega tampak sibuk menata ulang ruang kerja Evan yang kini dikuasai olehnya, memindahkan semua barang milik Evan yang masih tertinggal di sana. Dengan cekatan ia memasukkan barang- barang tak terpakai milik Evan, dan semua hal yang berkaitan dengan laki- laki itu. Di atas meja kerja mantan suaminya itu, tampak satu bingkai kecil berisi foto pernikahan Ega dan Evan. Perempuan itu tersenyum getir lantas meraih bingkai foto yang bertengger di atas meja itu.


“Bisa- bisanya dia memajang foto pernikahan di meja kerjanya sementara pikiran kotornya berkelana dengan wanita lain,” pungkasnya sembari segera melemparkan bingkai foto itu ke dalam kardus yang berisi semua barang Evan. Ega lantas menghubungi bagian cleaning service untuk meminta bantuan membuang barang- barang tersebut. Tak berapa lama, petugas kebersihan datang dan dengan segera Ega memintanya untuk mengangkat tumpukan kardus itu.


“Tolong buang semuanya ke tempat sampah. Jangan sampai ada yang tersisa,” pinta Ega dengan nada tegas namun tetap sopan. Petugas kebersihan itu mengangguk patuh lantas bergegas mengangkat kardus- kardus tersebut dan membawanya keluar. Bersamaan dengan itu, Nindy memasuki ruangan dengan membawa satu kantong plastik berisi box berwarna putih.

__ADS_1


“Kau memesan ini?” tutur Nindy sembari menunjukkan bungkusan yang ada di tangannya. Merasa tak pernah memesan sesuatu yang dibawa Nindy, perempuan itu menggelengkan kepala.


“Aku tidak memesan apapun. Siapa yang mengantarkannya kemari?” Tanya Ega penasaran. Nindy mengangkat bahunya karena tak mengerti.


“Kurir makanan menitipkannya padaku saat aku hendak memindahkan mobil. Dia bilang ini pesanan atas namamu. Aromanya sangat enak, sepertinya aku jadi lapar,” pungkas Nindy sembari meletakkan kotak itu. Seketika aroma khas menyeruak masuk ke rongga hidung Ega manakala Nindy meletakan bungkusan itu tepat di hadapannya. Aroma yang sangat ia kenal tanpa perlu membuka kotak itu terlebih dahulu. Aroma khas yang seketika membuka semua kenangan Ega pada masa lalu.


“Garlic Bread?”


...****************...


To be continued!


PS: Mohon tinggalkan jejak komentar positif, like dan plissss banget minta vote bintang 5 jika suka dengan ceritanya ya readers! Karena ulasan positif sangat berarti bagi author untuk belajar lebih baik lagi. Jangan lupa subscribe agar tak ketinggalan episode selanjutnya yaa! 😘


Sambil nunggu update episode terbaru dari author, bisa banget baca karya keren di bawah ini yaaak. Terima kasih 🙏🥰


__ADS_1



 


__ADS_2