Pembalasan Istri CEO Dan Sang Idola

Pembalasan Istri CEO Dan Sang Idola
BAB 27: SLEEP CALL


__ADS_3

Dua petugas berseragam cokelat itu lantas menjelaskan maksud kehadiran mereka untuk melakukan penangkapan terhadap Evan atas dugaan kekerasan dalam rumah tangga yang telah ia lakukan terhadap istrinya. Seperti sudah jatuh tertimpa tangga, laki- laki itu tak pernah menyangka bahwa istrinya akan sebegitu cepatnya bertindak atas dirinya. Dengan pasrah Evan mengikuti saja dua petugas itu, meninggalkan Aluna yang masih tercengang di balik dinding penyekat karena terkejut atas berita penangkapan itu. Pikirannya turut kacau karena ia tak pernah menyangka bahwa sosok Ega yang selalu sabar ternyata dapat berubah secepat itu. Gadis muda itu seketika kembali meraba pipinya mengingat kemurkaan Ega yang menampar dirinya secara bertubi- tubi tempo hari. Tubuhnya bergetar, nyali gadis itu mulai menciut. Usahanya untuk menjatuhkan citra sang penata rambut dengan menyebarkan foto itu, ternyata tak banyak membantunya. Perempuan yang telah ia rebut suaminya ternyata bukanlah perempuan lemah seperti yang ia pikir selama ini.


“Apa yang harus aku lakukan sekarang?” gumam gadis itu dengan suara bergetar.


...***...


Iko berjalan memasuki unit apartemennya dengan langkahnya yang tenang. Penanda waktu pada arloji yang melingkar di tangan kirinya menunjukkan pukul dua belas lewat sepuluh menit dini hari. Laki- laki itu sengaja pulang larut untuk menghindari kerumunan wartawan yang sejak pagi menunggunya di depan area apartemen yang ia tinggali. Sepi, apartemen itu seperti bangunan megah tak berpenghuni jika malam hari. Perlahan laki- laki itu merebahkan tubuhnya di atas sofa. Angannya kembali teringat saat ia mengecup lembut sudut bibir Ega yang terluka. Seperti melepas segala rasa yang selama ini tertahan, laki- laki itu dengan jelas dapat merasakan bahwa sebenarnya Ega  memiliki getaran rasa yang sama, namun entah mengapa rasa itu begitu sulit ia ungkapkan. Iko meraih ponsel pintarnya berniat untuk menghubungi perempuan tersebut, namun urung ia lakukan. Ia tak ingin dianggap mengambil kesempatan atas situasi yang tengah dihadapi perempuan yang dicintainya saat ini. Belum juga laki- laki itu meletakkan ponsel pintarnya, seketika ada satu panggilan masuk yang tak lain adalah dari pihak manajemen agensi yang menaungi dirinya. Laki- laki itu berdecak malas dan membiarkan ponselnya berdering. Ia sungguh tak ingin memberikan tanggapan apapun atas berita yang tengah beredar tentang dirinya, namun bising suara panggilan yang kembali terulang akhirnya memaksa laki- laki itu untuk mengangkatnya.


“Halo, Pak.” Baru satu sapaan yang keluar dari mulut Iko, laki- laki yang menghubunginya dari seberang meracau melampiaskan semua kemarahannya lantaran seharian tak bisa menghubungi sang idola.


“Saya sudah tidak tahan dengan gempuran awak media. Besok pagi, lakukan konferensi pers dan buat pernyataan untuk menghentikan semua kegaduhan ini. Katakan bahwa tidak ada apa- apa di antara kamu dan Ega, kamu mengerti?” ucap manager agensi itu dengan nada sedikit ketus. Dengan malas Iko mengiyakan agar pembicaraan yang memuakkan itu segera terselesaikan. Selepas mengakhiri panggilan itu, rupanya Iko tak mampu menahan diri untuk tidak menghubungi Ega. Dengan cekatan laki- laki itu mencari nama sahabatnya, lantas segera menghubunginya. Saluran telepon itu berdengung selama beberapa saat sebelum akhirnya suara seorang perempuan dari seberang terdengar merdu membelai lembut telinga Iko.


“Jam berapa ini?” tanya perempuan itu singkat. Saluran telepon itu hening sejenak, hanya terdengar suara napas yang lembut.


“Aku hanya ingin memastikan apakah kamu bisa tidur nyenyak atau tidak,” ungkap laki- laki itu.


“Aku sudah tidur hingga panggilan darimu membuatku terbangun,” jawab permpuan itu singkat. Dari jernih suaranya terdengar jelas bahwa perempuan itu masih terjaga. Iko lantas menyunggingkan senyum tipisnya mendapati sahabat yang amat dikenalnya itu mencoba berbohong.


“Aku akan melakukan konferensi pers esok hari untuk menyelesaikan semua kegaduhan yang beredar. Maafkan aku karena kamu turut mendapatkan hujatan kebencian dari masyarakat atas kekacauan yang terjadi,” tutur Iko pada perempuan itu. Hening, kembali tak ada suara di antara keduanya.

__ADS_1


“Beristirahatlah agar esok hari kamu bisa menyiapkan semuanya dengan baik,” ujar perempuan itu memecah keheningan.


“Apakah begitu sulit bagimu untuk memejamkan mata malam ini?” timpal laki- laki itu kemudian. Suara perempuan di seberang tak menjawab, hanya terdengar helaan napasnya tang terdengar lembut.


“Pejamkan matamu,” pinta Iko pada perempuan yang masih terhubung dengannya, dan Iko mulai mengalunkan bait syair lagu yang amat disukainya.


Bahkan bila pada akhirnya takdir tak berpihak kepadaku


Ingatlah aku sebagai kenangan terindahmu


Dan apabila suatu saat takdir membawa kita bertemu


...***...


Alunan suara Iko begitu lembut membelai telinga Ega yang tengah membenamkan dirinya dalam selimut tebal. Tanpa ia sadari air mata kembali menitik di kedua pelupuk matanya, menyesali takdir yang terlambat mempertemukan dua sahabat itu kembali setelah terpisah sekian lama. Ega menghembuskan napas perlahan berusaha untuk tetap baik- baik saja atas segala hal yang menimpa dirinya.


“Tidurlah, Ko. Aku tidak bisa jika harus mendengarmu bernyanyi sampai pagi,” canda Ega agar tak terlalu larut terbawa perasaan dalam suasana malam yang hening. Laki- laki di seberang terdengar terkekeh kecil.


“Mimpi indah, Ga. Berjanjilah kamu tak akan bersedih lagi,” ucap laki- laki itu kemudian.

__ADS_1


“Hm” pungkas Ega singkat, “Tutup teleponnya lebih dulu,” pintanya kemudian.


“Tidak, kamu yang harus menutupnya lebih dulu,” timpal Iko dari seberang. Keduanya lantas kembali terdiam, saling menunggu siapa yang akan menutup saluran itu terlebih dahulu.


“Satu” hitung Ega.


“Dua,” sambung Iko dari seberang.


“Tiga,” sahut dua insan itu secara bersamaan, namun suara napas keduanya masih terdengar jelas. Tak ada di antara keduanya yang menutup saluran telepon itu lebih dulu. Keduanya lantas kembali terkekeh kecil mendapati kebiasaan yang dulu sering mereka lakukan semasa SMA kembali terulang.


“Baiklah aku yang akan menutupnya lebih dulu,” pungkas Ega kemudian. “Semoga esok berjalan dengan baik,” tutupnya.


Laki- laki itu kembali tersenyum begitu sambungan teleponnya telah terputus.


“Mimpi yang indah, Ga,” bisiknya pada saluran telepon yang sudah terhenti itu.


...****************...


 

__ADS_1


__ADS_2