
“Ke mana?” lanjut perempuan itu memastikan.
“Lihatlah seberapa asingnya kamu padaku saat ini. Bahkan kamu tidak mengetahui ke mana aku akan pergi,” ujar laki- laki yang masih tersambung dengan saluran telepon itu.
“Iko, aku …,” perempuan itu tak melanjutkan perkataannya.
“Aku tahu, Ga. Aku tahu kamu tidak bisa sembarangan menemui laki- laki dalam keadaanmu yang sekarang ini. Itulah alasannya mengapa aku hanya bisa mengirimkan makanan itu untukmu,” pungkas laki- laki itu. Ega terdiam, menghela napas.
“Terima kasih kamu telah memahami posisiku saat ini, Ko,” ujarnya kemudian.
“Ke mana kamu akan pergi?” perempuan itu kembali bertanya.
“Agensi akan mengadakan tour ke berbagai kota selama tiga bulan ke depan. Pastikan kamu akan baik- baik saja selama aku jauh,” pungkas laki- laki itu yang seketika membuat jantung Ega seakan berhenti berdetak. Suasana kembali hening sesaat.
“Kamu menangis?” canda Iko memecah keheningan yang hanya dijawab dengan senyum kecil yang tak mampu Iko dengar dari sambungan telepon itu.
“Berhati- hatilah dan lakukan yang terbaik,” pungkas Ega memberi semangat pada sahabatnya. Keduanya lantas mengakhiri panggilan telepon itu dan kembali dengan kesibukan masing- masing pada jarak yang terpisah.
__ADS_1
...***...
Laki- laki dengan jaket hitam itu tampak berjalan beriringan dengan manajernya. Kepalanya tertutup topi berwarna biru, mulutnya ia lindungi dengan masker berwarna hitam. Hanya dengan penampilan seperti itu yang membuat dia bisa berjalan santai di area pusat perbelanjaan yang tengah ia kunjungi saat ini. Dengan bebas ia mengambil apapun yang ia perlukan untuk persiapan tour nya. Satu- demi satu keperluannya ia masukkan ke dalam troli yang tengah digelandang oleh manajernya. Tidak seperti idola atau musisi lain yang biasanya mendapatkan fasilitas lengkap dari penyelenggara acara saat tour, Iko adalah tipe musisi yang tak mau repot dengan hal itu. Ia lebih memilih berbelanja kebutuhannya sendiri sesuai dengan yang ia inginkan daripada harus berulang kali membagi informasi pada penyelenggara acara tentang apa yang ia suka dan tidak suka karena hal itu cukup mengganggu privasinya. Sesekali laki- laki itu melempar pandangan ke seluruh penjuru pusat perbelanjaan yang semakin ramai pengunjung, berharap ia bertemu dengan seseorang di sana.
“Bahkan aku masih berharap dapat bertemu denganmu di tempat seperti ini walau hanya sebentar saja sebelum keberangkatanku, Ga. Serindu itu aku padamu,” tuturnya dalam hati.
Seolah semesta mendengar suara hati itu, pandangan Iko secara tak sengaja menangkap sosok perempuan cantik berambut terurai tengah keluar dari salah satu butik di pusat perbelanjaan itu. Perempuan dengan atasan polos berwarna putih dan rok midi bermotif bunga itu tampak berjalan sendirian dengan beberapa barang belanjaan memenuhi kedua tangannya.
“Ega?!” gumam laki- laki itu sembari bergegas mengejar perempuan yang masih tampak punggungnya dalam penglihatan. Manajer yang sedari tadi masih menunggu antrian pembayaran rupanya belum menyadari bahwa artisnya telah pergi meninggalkannya begitu saja.
“Ke mana kamu, Ega? Benarkah itu kamu?” gumamnya lirih. Tanpa disadari laki- laki itu membuka penutup mulutnya begitu saja lantaran pengap yang ia rasakan. Iko kembali menyisir seluruh penjuru pusat perbelanjaan di lantai satu mencoba menemukan sosok yang ia cari.
“Lihat, itu Iko kan?!” teriak salah seorang gadis muda yang tengah berjalan beriringan bersama beberapa temannya.
“Iya itu Iko!”
“Iko! Iko!” teriak teman- temannya bersahutan hingga menyadarkan Iko bahwa ia tak lagi menggunakan penutup mulut sehingga keberadaannya dengan mudah dapat dikenali. Merasa dirinya tidak aman karena para gadis itu mulai mengejar, Iko lantas segera berlari sekencang mungkin agar tak terjadi kegaduhan. Sialnya, yang terjadi justru sebaliknya. Pengunjung lain yang mulai menyadari kehadiran Iko yang tengah berlari jutsru ikut mengejarnya hingga ia semakin melebarkan kakinya untuk berlari menyelamatkan diri. Dalam upayanya itu, tiba- tiba ia rasakan tangannya ditarik oleh seorang perempuan berbalut atasan putih dan rok midi bermotif bunga. Perempuan itu segera mengajaknya berlari menjauhi kerumunan yang tengah mengejarnya.
__ADS_1
“Lewat sini!” ucap perempuan itu memimpin langkah Iko yang pasrah karena tarikan tangannya. Entah mengapa kata- kata yang diucapkan perempuan itu terasa lambat terdengar di telinga Iko. Perempuan itu tetap memegang tangannya sembari terus berlari hingga ia berbelok pada salah satu lorong parkiran yang sepi dari kerumunan. Perempuan itu sedikit menghimpit tubuh Iko di dinding sehingga beberapa pengunjung yang mengejarnya tak menyadari keberadaan dua insan itu. Seketika aroma magnolia yang keluar dari tubuh Ega menyeruak masuk memenuhi rongga dada Iko. Aroma yang hangat dan penuh kenangan bagi laki- laki itu hingga membuatnya menatap lekat sosok yang tengah melindunginya dari kejaran penggemar.
“Bagaimana bisa kamu seceroboh ini berada di tempat umum tanpa penutup mulut? Tempat ini bisa kacau karena kedatanganmu! Mana manajermu?!” racau perempuan itu dengan napas yang terengah- engah. Perempuan itu dengan segera mengambil sebuah masker yang baru saja ia beli dan segera mengaitkannya pada kedua telinga Iko sehingga menutupi bagian mulutnya. Sementara Iko yang masih terhipnotis oleh aroma magnolia yang hangat itu, dengan segera menahan tangan Ega yang tengah memasangkan ujung pengait masker ke telinganya. Kedua pasang bola mata itu kembali beradu temu dengan jarak yang begitu dekat, lantas mengunci pandangan satu sama lain selama beberapa saat. Ega yang tersadar seketika berusaha mengalihkan pandangan itu namun Iko justru menarik tubuhnya semakin dekat hingga pandangan mata itu kini benar- benar berjarak beberapa senti saja. Tanpa peringatan apapun laki- laki itu lantas memeluk tubuh Ega dengan erat, melepaskan rindunya yang selama ini tertahan. Perempuan bermata cokelat itu terpaku tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
“Hari ini Tuhan begitu baik padaku karena mengijinkan kita bertemu, Ga,” ucap laki- laki itu dengan nada bahagia.
“Iko,”-
“Jangan berbicara apapun. Biarkan aku memelukmu sepuas hatiku sebelum aku pergi,” tutur laki- laki itu sembari semakin mengeratkan dekapannya selama beberapa saat. Setelah puas melepas rindunya, laki- laki itu kemudian kembali menatap Ega sembari membuka kembali penutup mulutnya. Perlahan ia mendekatkan bibirnya pada bibir Ega yang masih terpaku di hadapannya, namun belum sampai Iko melakukan hal itu, seketika Ega segera menurunkan ujung topi Iko dengan paksa hingga menutupi kedua pandangan laki- laki itu, lantas bergegas pergi meninggalkannya sendirian.
“Ga! Ega! Gelap Ga! Aish!!" gerutunya.
...****************...
To be continued!
Jangan lupa tinggalkan jejak komentar positif, like, dan pliiiiiiissss banget kasih bintang 5 dan tulis ulasan positif untuk kemajuan author yah readers kesayangan, jangan lupa subscribe supaya tidak ketinggalan episode selanjutnya! Semoga selal berbahagia readers kesayangan! 😘😘
__ADS_1