
“Ega tunggu, Ga!” teriak Iko mengekor di belakang Ega yang tetap melenggang menuju mobilnya di tempat parkir pusat perbelanjaan itu tanpa menghiraukan panggilan Iko sama sekali. Tak putus asa, laki- laki itu berlari sedikit lebih cepat untuk sampai pada Ega yang hendak memasuki mobilnya.
“Hei tunggu!” ujar laki- laki itu sembari menahan pintu mobil yang dibuka oleh perempuan itu.
“Aku susah payah mengejarmu hingga gadis- gadis itu mengejarku, sekarang kamu mau pergi meninggalkanku begitu saja?!” protes Iko tak terima. Perempuan itu menghela napas pelan lantas memandangi laki- laki yang masih menahan pintu mobilnya.
“Aku mau pulang, Iko. Minggir,” pinta perempuan itu, yang justru membuat Iko segera menyerobot masuk ke dalam mobil dan menduduki kursi kemudi.
“Iko keluar aku mau pulang!” tegas perempuan itu.
“Aku akan tetap disini sampai kamu mau menemaniku.” Laki- laki itu tetap teguh dengan pendiriannya menduduki kursi kemudi. Perempuan itu berdecak sembari menggeleng keheranan menghadapi Iko yang mulai keras kepala.
“Ayo masuk,” paksa Iko yang pada akhirnya membuat Ega tak punya pilihan lain selain duduk di samping kursi kemudi itu.
“Mau kemana?” tanya Ega pada laki- laki itu. Iko tak mengeluarkan sepatah katapun dan bergegas menjalankan mobil Ega keluar dari area parkir pusat perbelanjaan itu, melaju membelah jalan ibukota. Dalam perjalanan yang Ega tak tahu akan dibawa ke mana dirinya, perempuan itu memandang Iko lekat- lekat.
__ADS_1
“Kenapa kamu begitu keras kepala, Ko?” tanya perempuan itu pada laki- laki yang masih fokus pada padatnya lalu lintas jalan raya. Laki- laki itu tetap melajukan mobilnya, cukup jauh dari pusat kota hingga pada akhirnya ia menepikan mobil yang dikendarainya pada satu sisi jalan lintas propinsi yang cukup sepi. Pada belokan jalan yang letaknya dapat dikatakan di area dataran tinggi itu, dengan jelas Iko dan Ega mampu melihat gedung- gedung pusat kota yang berkilauan dari jauh. Sebuah pemandangan yang kontras karena berjajar dengan barisan gedung tinggi itu, pemukiman kumuh juga tampak jelas dari sana. Laki- laki itu lantas turun dari kursi kemudinya, berjalan menepi untuk menikmati siluet kota itu dari ketinggian. Sementara Ega yang sedari tadi hanya pasrah, mengikuti langkah Iko dari belakang. Iko lantas terduduk di bawah sebuah pohon pinus yang tumbuh berjajar di sepanjang tepian jalan dataran tinggi itu, dan Ega turut duduk di sampingnya.
“Temani aku di sini, sebentar saja. Aku benar- benar merasa penat karena terlalu keras berlatih untuk persiapan tour besok,” laki- laki itu melemparkan pandangannya ke seluruh penjuru kota Jakarta yang tampak rendah. Kedua tangannya mendekap lutut, sesekali menyibakkan comma hair nya yang mulai panjang pada bagian depan.
“Rambutmu sudah mulai panjang. Kamu harus memangkas sedikit bagian depannya,” ujar perempuan itu sembari memperhatikan model rambut Iko yang terkesan sedikit berantakan.
“Sudah ku katakan hanya kamu yang bisa menata rambutku. Aku tidak suka dengan hairstylist baruku yang sekarang,” pungkasnya. Perempuan itu berdecak kesal mendengar Iko kembali beralasan.
“Kembalilah ke agensi, Ga. Apa kamu tidak kasihan padaku?” pinta laki- laki itu memelas.
“Laki- laki itu sudah berhasil membuat perusahaan kami berada di ambang kehancuran. Aku harus memperbaiki semuanya sebelum menjadi lebih buruk,” pungkasnya.
“Kamu pasti lelah, bukan?” tanya Iko dengan nada serius. Perempuan bermata cokelat itu tak menjawab.
“Mungkin ini memang sudah jalan takdirku,” pungkas Ega yang kemudian membuat Iko mengacak rambut indah milik perempuan itu perlahan.
__ADS_1
“Bagaimana rasanya berada di puncak karir sebagai idola?” tanya perempuan itu kemudian, yang seketika disambut tawa hambar Iko. Laki- laki itu menghela napas, mencoba menguraikan apa yang tak mampu ia ungkapkan.
“Terkadang melelahkan ketika kamu dipaksa untuk bersembunyi di balik topengmu setiap waktu,” pungkas laki- laki itu. Seketika Ega mengangguk paham, karena memang Iko di depan layar harus berubah menjadi sosok laki- laki yang sangat manis dan lembut, jauh berbeda dengan sifat aslinya yang begitu dingin.
"Tapi bukankah itu yang kamu impikan sejak dulu? Menjadi idola yang bersinar, dikagumi penggemar, dan digilai banyak wanita. Semua yang kamu impikan kini ada di tanganmu, Ko," tutur Ega sembari menatap wajah Iko sekilas. Laki- laki itu menggelengkan kepalanya perlahan.
"Tidak semuanya. Ada satu hal yang entah mengapa Tuhan tak juga memberikannya padaku sejak dulu hingga saat ini," tutur laki- laki itu.
"Apa?" Tanya Ega tak mengerti. Laki-laki itu bergeming di tempatnya. Matanya menatap lekat mata cokelat milik perempuan cantik yang kini telah kehilangan cerianya, dan membiarkan hening menguasai keduanya.
...****************...
To be continued!
Terima kasih buat para readers tercinta yang masih mengikuti alur cerita sampai episode kali ini, jangan lupa tinggalkan jejak komentar positif, like dan plissss banget kasih ulasan bintang 5 jika suka ceritanya yaaaah, jangan lupa juga subscribe biar ngga ketinggalan episode selanjutnya! Terima kasih 🙏🥰
__ADS_1