
Iko membelai luka itu dengan telapak tangannya hingga membuat perempuan itu mendesis kesakitan.
“Aku bersumpah akan kupatahkan tangan laki- laki bedebah itu!” geram Iko sembari beranjak, namun Ega menahannya. Perempuan yang semula tegar menghadapi pukulan Evan, seketika melemah di hadapan Iko. Air mata perempuan itu mengalir dengan sendirinya, tanpa suara. Menyaksikan kepedihan perempuan yang dicintainya kembali muncul untuk yang kesekian kali, laki- laki itu merengkuh tubuh Ega dan membenamkan wajah lebam itu dalam pelukannya. Tangis Ega yang semula tanpa suara seketika pecah, terluap dalam dekapan sahabatnya.
“Tenanglah, aku di sini, Ga.” Tutur laki- laki itu lembut sembari mengeratkan dekapannya seolah berusaha memindahkan rasa sakit perempuan itu ke dalam dirinya.
“Tunggu disini, aku akan mengompres lukamu,” pinta Iko sembari bergegas mengambil air dingin dan selembar handuk kecil di area dapur studio itu. Beberapa saat kemudian, laki- laki itu kembali dengan sebuah baskom besi berisi air dingin dan handuk kecil. Dengan hati- hati Iko mengompres luka memar pada pipi kanan Ega yang membuat perempuan itu sesekali meringis kesakitan. Segala perhatian yang dicurahkan Iko padanya seketika membuat perempuan itu kembali menitikkan air mata. Jemari Iko dengan lembut menyeka air mata yang terus menetes tanpa henti itu.
“Aku kemari karena mengkhawatirkan keadaanmu setelah berita itu, bukan untuk memintamu merawatku seperti ini, Ko. Aku bisa melakukannya sendiri,” ucap perempuan itu dengan suara yang masih berbaur dengan isakan. Laki- laki itu menatap Ega lekat- lekat sembari tetap menyeka luka lebamnya.
“Sudah kukatakan padamu bahwa aku akan selalu melindungimu, Ga. Aku tak peduli dengan apapun yang terjadi padaku,” pungkas laki- laki itu yang seketika membuat Ega terdiam seribu bahasa. Pandangan mereka lantas terkunci dalam kesunyian, hanya sesekali isak tangis Ega yang terdengar. Laki- laki itu kembali terhipnotis oleh perempuan yang ada di hadapannya, hingga akhirnya ia mendekatkan bibirnya, mengecup perlahan luka yang tersemat di sudut bibir Ega yang memerah. Dalam keadaan itu, Ega semakin melemah tak berdaya hingga perempuan itu menerima apa yang tengah dilakukan Iko padanya. Kedua bola mata cokelat itu terpejam hingga air matanya kembali menetes. Pedih, luka yang dirasakan perempuan itu teramat pedih, dan Iko selalu hadir sebagai penawarnya. Keduanya tenggelam dalam kecupan itu selama beberapa saat, lantas menjauhkan diri satu sama lain.
“Aku mencintaimu, Ga. Sungguh aku begitu mencintaimu,” ucap laki- laki itu untuk yang kesekian kali. Sementara Ega hanya terdiam begitu menyadari bahwa apa yang baru saja terjadi adalah sebuah kesalahan, mengingat biar bagaimanapun ia masih berstatus sebagai istri Evan. Tak seharusnya ia menerima kecupan itu, namun jiwanya yang lemah membuatnya tak berdaya.
...***...
Gadis muda itu tersenyum licik mengamati ribuan komentar jahat yang ditujukan pada Iko dan Ega dalam unggahan foto yang baru saja ia sebarkan. Rupanya gadis muda itu telah mempersiapkan segalanya untuk menghindari pemberitaan tentang terbongkarnya perselingkuhan yang ia lakukan bersama suami Ega, penata rambut kepercayaan agensinya. Gadis muda itu sudah menduga bahwa dukungan akan datang padanya karena ia terlihat sebagai korban pengkhianatan yang dilakukan oleh Iko yang diketahui penggemar sebagai kekasihnya. Benar saja, ribuan komentar positif membanjiri akun sosial media miliknya, sisanya hanyalah umpatan dan kutukan jahat yang ditujukan pada Iko dan sang penata rambut.
__ADS_1
‘Mencampakkan malaikat dengan suara merdu hanya demi seorang penata rambut?’
‘Sepertinya Iko sudah dibutakan oleh perempuan tua itu!’
‘Hei, bukankah hairstylist itu sudah bersuami?
‘Apa nama akun penata rambut sialan itu? Aku ingin sekali menjambak rambutnya!
‘Bagaimana bisa perempuan itu merusak hubungan pasangan ideal yang menjadi panutan kami?’
‘Ingin sekali kusetrika tangannya dengan flat iron!’
“Bagaimana, Sayang? Kapan kita berangkat ke Aussie?” tanya gadis itu dengan nada manja. Laki- laki itu mendengus melampiaskan kekesalannya.
“Perempuan itu telah memindahnamakan semua asset yang kumiliki di La Lemonada atas namanya. Semuanya! Arrggh!” emosi Evan memuncak hingga ia membanting salah satu vas bunga berisi beberapa tangkai bunga mawar putih yang bertengger di atas kabinet apartemen itu. Gadis itu seketika terkesiap mendapati laki- laki yang ada di hadapannya tak mampu mengendalikan diri.
“Sayang apa yang kamu lakukan! Kendalikan dirimu!” tutur gadis itu setengah berteriak. Evan terduduk di atas sofa, menyibakkan rambutnya yang penuh keringat.
__ADS_1
“Aku harus bagaimana sekarang? Perempuan itu sudah mengambil semua milikku!” geramnya sembari menelangkupkan telapak tangan pada wajahnya yang merah padam. Giginya gemeletuk, napasnya terengah- engah menahan amarah. Gadis itu lantas berjalan mendekati Evan, duduk di sebelahnya seraya mengelus punggungnya perlahan.
“Lihat aku, Sayang. Kamu tidak perlu khawatir. Kali ini aku yang akan menanggung semuanya. Kita berangkat ke Aussie besok, okey?” tutur gadis itu menenangkan Evan. Seketika laki- laki itu memeluk gadis simpanannya dengan erat karena hanya dialah satu- satunya sandaran saat ini. Namun, belum lama ketenangan itu dirasakan Evan, dua insan itu mendengar suara pintu apartemen diketuk.
“Siapa yang datang? Bukankan hanya kita dan Amora yang mengetahui tempat ini?” sanggah Evan sembari menatap ke arah pintu dengan penuh tanya.
“Bagaimana jika kak Ega?” pungkas gadis itu. Keduanya terdiam selama beberapa saat hingga pintu itu terdengar diketuk selama berulang kali.
“Bersembunyilah agar tak ada yang tahu keberadaanmu di sini,” ujar laki- laki itu. Aluna lantas bergegas bersembunyi di balik dinding penyekat apartemen itu, sementara Evan berjalan membukakan pintu. Betapa terkejutnya laki- laki itu ketika mendapati siapa yang datang.
“Ada apa ini?!” tanya Evan dengan nada setengah menantang pada dua orang yang berada di depan pintu. Dua laki- laki dengan seragam kecokelatan itu tampak memberi hormat, lantas menyerahkan sebuah amplop cokelat dengan kop surat dari instansi tempat dua orang itu bekerja.
“Apa- apaan ini?!” seketika sepucuk surat berwarna cokelat itu membuat Evan terkejut.
...****************...
Halo readers kesayangan! sambil nunggu author update episode selanjutnya, boleh banget baca karya rekomendasi bagus ini! Siap- siap emosi teraduk- aduk yaaa 🥳🥳
__ADS_1