
Mata Nindy memicing menelaah setiap detail laporan dari divisinya melalui layar komputer yang sejak pagi sudah menyala. Tidak seperti kepala divisi lain di perusahaan itu, Nindy adalah sosok yang dikenal paling disiplin dalam urusan pekerjaan. Perempuan berkulit bersih dengan garis dagunya yang jelas itu selalu datang lebih awal jika dibandingkan dengan kepala divisi lain, termasuk Lukas, anggota The Five Hunters. Tak heran jika semua staff yang ada dalam pengawasannya seringkali membicarakannya di belakang karena kedatangannya yang selalu lebih awal membuat bawahannya mau tidak mau turut disiplin seperti dia. Sesekali perempuan itu mendesis sembari memijit pelipisnya perlahan karena laporan dari staff yang diserahkan padanya banyak mengalami ketidaksesuaian.
“Masih pagi, Nin. Pusing banget kamu kelihatannya,” sapa Ega sembari membenarkan tanda pengenal yang mengalung di lehernya.
“Bisa gila aku, Ga. Sudah tiga kali aku minta revisi laporan ini, tapi masih keliru juga,” gerutunya.
“Sepusing itu sampai kamu juga melewatkan beberapa kesalahan yang ada di sini,” tutur perempuan bermata cokelat itu sembari meletakkan sebuah folder biru yang ia bawa dari ruangannya. Folder berisi laporan bulanan yang seharusnya tidak ada kesalahan lagi apabila sudah sampai di meja Ega, nyatanya masih ada beberapa hal yang harus dikoreksi sehingga Ega dengan terpaksa mengembalikannya.
“Ada lagi? Oh Tuhan!” dengusnya sembari mengacak rambut ikalnya yang indah. Seketika ia meneguk air mineral yang biasa ia bawa sendiri dari rumah.
“Karyawan baru itu benar- benar membuat tugasku berlipat ganda!” protesnya sembari menghela napas.
“Ah, yang tempo hari kamu kenalkan padaku itu?”
“Hm,” jawabnya sembari mengangguk kecil.
“Haruskah aku turun ke divisimu untuk mengarahkannya? Aku ada sedikit waktu senggang hari ini jika kau tak keberatan aku masuk di divisimu,” tawar Ega yang membuat Nindy seketika menggeleng.
“Ah tidak, tidak. Aku masih bisa mengatasinya. Kamu hanya akan turun tangan untuk pemberhentian kerja, Okey?” pungkas Nindy meyakinkan. Ega mengangguk sebelum akhirnya mengisyaratkan dirinya kembali ke ruangan.
“Sst!” panggil seseorang setelah Ega kembali memasuki ruangannya. Ditelisiknya darimana asal suara panggilan singkat itu dan seketika Nindy mendengus begitu mengetahui siapa yang kini bergantian datang menghampirinya.
“Jangan membuatku tambah kesal, Lukas! Lihatlah pekerjaanku yang menggila ini!” gerutu Nindy hampir depresi. Laki- laki itu tergelak.
“Masih pagi ini, cantik. Tahan emosi,” goda laki- laki itu pada sahabatnya.
“Jangan bilang kalau kau kemari hanya untuk minta sarapan.”
__ADS_1
“Aish, ayolah. Aku tidak selapar itu hari ini,” pungkas Lukas pada perempuan yang sedari tadi mengerutkan alisnya karena kesal.
“Lantas apa?” selanya. Laki- laki itu kemudian memberi syarat Nindy untuk lebih mendekat.
“Aku ada teman. Bagaimana kalau kita pertemukan dia pada Ega?” bisik laki- laki itu pada telinga Nindy.
“Apa kamu sudah gila!” Nindy sontak berteriak yang kemudian membuat Lukas membekap mulut perempuan itu agar mengecilkan suaranya.
“Kamu gila, huh?” tutur Nindy lirih. Lukas kini menggeser sebuah kursi kosong dan duduk merapat mendekati Nindy.
“Jujur aku tidak tega melihat Ega yang sekarang. Sejak perpisahannya dengan Evan, dia menjadi sosok yang tak banyak bicara dan murung. Kau tahu, aku merasa seperti kehilangan Ega yang dulu,” jelas laki- laki itu. Nindy menghela napas, menatap pintu ruangan Ega yang tertutup rapat.
“Aku juga merasakan itu. Sebagai perempuan, aku benar- benar tahu bagaimana kepedihan yang ia rasakan,” tuturnya.
“Mungkin sekarang sudah saatnya dia untuk membuka hati kembali, Nin. Dia membutuhkan dukungan kita.”
Kedua sahabat itu lantas terdiam sesaat. Mata mereka sama- sama tertuju pada pintu ruangan tertutup yang terletak sedikit jauh di hadapan mereka.
“Mau sampai kapan, Nin? Dia masih teralu muda untuk menjalani hidup sendiri. Bahkan kita berdua saja belum menikah, sedangkan dia sudah menjadi jan”-
“Kendalikan mulutmu, Lukas!” geram Nindy sembari memukul mulut Lukas dengan ujung pena berbentuk daun yang sedari tadi ada dalam genggamannya. Laki- laki itu mengaduh kesakitan. Lukas lantas mengeluarkan ponsel pintarnya, membuka galeri foto dan menunjukkan salah satunya pada Nindy. Foto dua orang laki- laki. Satu orang berusia kurang lebih sama seperti dirinya, satu orang lagi tampak sedikit lebih tua.
“Yang ini namanya Biondi. Arsitek lulusan terbaik. Anak dokter. Tampan bukan?” Nindy mengangguk mengamati foto seorang laki- laki seusianya dengan rambut terikat pada foto itu.
“Bagaimana bisa laki- laki setampan ini mencari jodoh? Bahkan dewi langit pun rela turun ke bumi untuk mengejarnya,” Nindy terkesima.
“Ibunya yang meminta padaku untuk mencarikannya jodoh, karena itulah aku memberitahukannya padamu. Aku juga tak mengerti mengapa laki- laki setampan dia tak mampu mencari pasangan sendiri,” jelasnya.
__ADS_1
“Kalau yang ini namanya Pak Willy. Mereka berdua rekan satu kantor. Duda. Dia pasti juga sudah berpengalaman dalam urusan rumah tangga,” jelas Lukas yang seketika membuat Nindy mendaratkan pukulan pada bahunya.
“Jadi bagaimana menurutmu?”
“Tentu aku akan memilih Biondi jika kau menawarkannya padaku,” seloroh Nindy yang seketika membuat Lukas mendaratkan selentingan kecil pada dahi mulus perempuan itu.
“Tak ada salahnya kita coba. Tapi kau saja yang menawarkan padanya.” Tutur Nindy sembari mengelus dahinya yang memerah.
“Kenapa aku? Bagaimana jika dia marah padaku?”
“Kau pikir dia tak akan marah padaku jika aku yang menawarkannya?”
Dua sahabat itu kemudian terlibat dalam perdebatan kecil, sebelum akhirnya pintu ruangan Ega terbuka.
“Apa yang sedang kalian ributkan?” tanya perempuan yang keluar dari ruangan itu sembari berjalan mendekat, hingga membuat Lukas dan Nindy seketika bungkam. Keduanya saling sikut mengisyaratkan agar salah satunya menjawab pertanyaan itu.
“Uhm, ti, tidak. Kami hanya membicarakan masalah laporanku yang tak kunjung selesai,” Nindy menjawab dengan terbata.
“A, aku, aku akan kembali ke ruanganku. Bye!” Lukas bergegas pergi melepaskan diri dari kegaduhan yang baru saja ia ciptakan, kini tersisa Ega yang masih menatap Nindy lekat- lekat dengan tatapan seolah meminta penjelasan. Perempuan berdagu belah itu menggaruk tengkuknya sembari meringis enggan.
“Aku menunggu jawabanmu, Nindy!” Ega kembali bertanya dengan penuh tekanan.
...****************...
To be continued!
Sambil menunggu update episode selanjutnya, ada kisah menarik di balik sosok Biondi yang sudah author kemas tersendiri dalam karya pertama author yang berjudul "Biar Aku Obati Lukamu". Silakan baca jika berminat ya readers! Jangan lupa like, tinggalkan komentar dan subscribe di semua karya author ya, pliis juga jangan lupa beri ulasan positif. Terima kasih 🙏🥰
__ADS_1