
Perempuan bermata cokelat itu menatap sahabatnya lekat- lekat. Keduanya kini telah berada di ruang kerja Ega yang beberapa waktu lalu menangkap kegaduhan yang terjadi di luar ruangannya. Ega tampak menyedekapkan kedua lengannya di depan dada, menunggu sepatah- dua patah kata keluar dari mulut sahabatnya yang sedari tadi bungkam.
“Baiklah, baiklah, aku akan jelaskan padamu. Tapi tolong jangan marah padaku, kumohon,” pinta Nindy memelas. Mata cokelat itu memicing pada sahabatnya karena ia semakin tak mengerti dengan apa yang dikatakan Nindy.
“Uhm, sebenarnya, Lukas ingin memperkenalkan seseorang padamu,” jelasnya meragu.
“Apa?” Ega terkejut mendengar pernyataan itu.
“Tunggu- tunggu, Ga. Jangan marah. Kami tidak bermaksud apapun,” situasi kembali hening. Mereka berdua saling tatap.
“Uhm, kami hanya ingin melihatmu ceria lagi seperti dulu, Ga. Kami berharap kamu mulai membuka hati kembali setelah sekian lama kamu sendiri,” terang Nindy sedikit terbata. Ega tersenyum getir mendengar pernyataan sahabatnya.
“Dengar, aku …, aku tahu tidak mudah bagimu untuk membuka lembaran baru. Tapi apakah kamu akan menutup hatimu selamanya, Ga? Masa depanmu masih panjang.”
Ega menghela napas. Dalam hati ia sangat memahami bahwa sahabatnya sedang tak bermaksud untuk menyinggung perasaannya atau apapun. Ia tahu kedua sahabatnya adalah orang yang paling tulus yang pernah ia temui. Namun hati Ega berkata lain. Kepingan hati yang terlanjur berserak itu, sulit rasanya untuk ia satukan kembali.
“Aku tahu maksud kalian, dan aku menghargai itu. Tapi untuk saat ini,-
Perempuan bermata cokelat itu menggelengkan kepalanya. Sorot matanya hampa, kosong, dan sayu. Binar mata yang dulu ceria dan penuh kebahagiaan, benar- benar tak tersisa lagi di sana. Semua telah sirna ditelan kekecewaan atas pengkhianatan yang dilakukan oleh mantan suaminya. Nindy lantas berjalan mendekat, memeluk sahabatnya erat.
__ADS_1
“Maafkan aku, Ga. Aku dan Lukas hanya ingin melihatmu kembali seperti dulu. Kami sangat terpukul tiap kali melihatmu seperti ini.” Perempuan itu membalas pelukan sahabatnya erat.
“It’s okey, Nin. Aku mengerti. Aku bahagia dengan keadaanku sekarang. Bukankah segala sesuatunya butuh waktu?”
Nindy mengangguk sembari melepaskan pelukannya. “Kamu harus selalu bahagia, apapun yang terjadi. Berjanjilah padaku,” pintanya. Ega mengiyakan dengan anggukan kecil.
...***...
Suasana restoran bergaya barat itu tampak ramai pengunjung yang hendak makan siang. Tak terkecuali dua sahabat anggota The Five Hunters yang tersisa. Setelah kegaduhan yang mereka timbulkan di depan ruangan Ega tadi pagi yang berujung dengan interogasi Ega pada Nindy, mereka berdua memutuskan untuk makan siang di luar area kantor guna membicarakan masalah sahabatnya itu. Keduanya tampak selesai makan siang, dan kini hanya tersisa minuman dan beberapa makanan kecil yang mereka pesan untuk menemani pembicaraan mereka yang masih panjang. Lukas meneguk es americano yang ia pesan sembari sesekali mencomot makanan ringan yang tersaji di hadapannya. Sementara Nindy yang duduk di depannya, mengaduk- aduk minumanya dengan sedotan. Wajahnya tampak murung mengingat percakapannya dengan Ega tadi pagi.
“Dia belum siap membuka hatinya, Lukas. Entah sampai kapan luka batin itu akan sembuh,” gumamnya lirih. Lukas menghela napas panjang.
Perempuan itu hanya menjawab dengan gelengan kepala.
Dia bilang dia bahagia dengan keadaannya sekarang. Dia hanya butuh waktu.” Keduanya terdiam. Niat mereka untuk memperkenalkan Ega dengan seseorang gagal sudah, bahkan sebelum mereka berhasil mempertemukannya. Perempuan itu meneguk minumannya dengan malas.
“Apakah menurutmu sebenarnya dia sudah memiliki seseorang dalam hatinya?” tanya laki- laki itu sembari mencomot kembali makanan ringan di hadapannya. Nindy mencoba mengingat- ingat, seketika perempuan itu terkesiap.
“Garlic bread!” hentakan nada bicara Nindy membuat Lukas tersedak.
__ADS_1
“Apa?”
“Ega, dia sering menerima kiriman makanan beberapa waktu lalu. Aku sempat menerima salah satunya. Sekotak garlic bread yang dikirimkan melalui jasa kurir.”
“Siapa pengirimnya?”
“Entah. Aku juga tak tahu. Bahkan Ega tak memberikan jawaban apapun meski aku sudah mendesaknya waktu itu,” pungkasnya. Dua sahabat itu kini saling menatap. Tatapan yang seolah mampu melempar tanya ‘siapa?’
“Mungkinkah dia selama ini diam- diam telah menjalin hubungan dengan orang lain? Ah, tapi aku yakin Ega bukan orang seperti itu. Dia pasti memberitahukannya padaku jika itu benar,” rasa penasaran Nindy semakin besar, pun juga Lukas.
“Mungkin dia belum siap memberitahukannya pada kita. Atau-
“Atau apa?”
...****************...
Terima kasih buat para readers tercinta yang masih mengikuti alur cerita sampai episode ini, jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar, dan vote yaaaah, plis bangeeet inimah. Jangan lupa subscribe juga agar tidak ketinggalan episode selanjutnya 🥳.
Sambil menunggu update episode selanjutnya esok hari, boleh banget baca cerita rekomendasi author berikut iniiii, dijamin seru. 🥳🥳
__ADS_1