Pembalasan Istri CEO Dan Sang Idola

Pembalasan Istri CEO Dan Sang Idola
BAB 34: KENANGAN MASA LALU


__ADS_3

Gadis remaja bermata cokelat itu setengah berlari menuju kafetaria sekolahnya. Perutnya terasa lapar setelah selesai mengikuti kelas persiapan olimpiade matematika tahunan yang biasa ia ikuti. Sesekali gadis itu melongok ke arah jam tangan yang melingkar di lengan kirinya, memastikan ia masih ada waktu untuk mengikuti kelas musik yang akan dimulai sepuluh menit lagi. Mata cokelatnya yang indah menelisik ke seluruh nampan yang berjajar rapi begitu ia sampai di kafetaria itu, namun malang yang ia dapati hanya tinggal remah- remah makanan ringan yang telah habis terjual.


“Lain kali beli dulu sebelum masuk kelas Olimpiade, Ga,” tutur pengelola kafetaria yang sudah sangat memahami karakter gadis itu setiap kali mengikuti kelas olimpiade. Ambisius, fokus, hingga  masalah makan tak terurus. Seketika Ega tampak cemberut karena tak menemukan apapun di sana, namun kemudian matanya berbinar cerah manakala mendapati satu- satunya garlic bread yang masih tersisa di dekat meja kasir. Dengan bergegas gadis itu hendak menyahut satu- satunya harapan yang mampu menenangkan berisik di dalam perutnya sebelum kelas musik dimulai, namun sialnya tangan seorang anak laki- laki juga turut meraih roti bawang itu hingga kedua tangan itu hampir berebut.


“Aku dulu!” teriak Ega berusaha menyelamatkan satu- satunya roti yang ada di atas nampan itu, namun seketika ia terkesiap begitu mendapati siapa yang juga mengharapkan garlic bread itu. Iko, teman sekelasnya yang entah mengapa ia merasa bahwa laki- laki itu tidak menyukai kehadirannya sejak ia dipindahkan di kelas unggulan. Siswa laki- laki yang memiliki bakat musik paling menonjol di sekolahnya dan sama- sama baru selesai mengikuti kelas olimpiade. Mata laki- laki itu seketika menatap tajam Ega yang tetap berusaha mempertahankan garlic bread agar menjadi miliknya, namun akhirnya gadis itu memilih untuk mengalah.


“Untukmu saja,” ujar gadis itu sembari melepaskan pertahanannya mengambil roti itu. Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, laki- laki itu lantas mengeluarkan sejumlah uang dan memberikannya kepada petugas kasir kemudian berlalu begitu saja untuk mengikuti kelas musik.


“Makan apa aku sekarang? Bagaimana bisa aku mengikuti kelas musik dengan perut kosong seperti ini?  Aish!” gumam Ega setengah menggerutu. Perempuan itu kemudian berlari dengan sisa tenaganya untuk segera mengikuti kelas musik. Terlambat. Pintu ruang musik itu telah ditutup, sehingga memaksa gadis itu membukanya. Ega paling benci dengan situasi seperti ini, situasi di mana kehadirannya menjadi pusat perhatian seluruh siswa yang sudah duduk bersiap mengikuti kelas, tak terkecuali Iko yang duduk di bangku paling belakang. Gadis itu berjalan gontai menduduki satu- satunya bangku yang tersisa tepat di samping Iko. Laki- laki itu tampak mendengus kesal begitu mendapati Ega yang duduk di sana. Gadis cantik bermata cokelat itu sama sekali tak bisa fokus mengikuti materi musik karena perutnya yang terlalu lapar. Sesekali terdengar bunyi keroncongan yang ia yakin Iko dapat mendengarkan bunyi itu dengan jelas karena jarak tempat duduk yang cukup dekat. Pipi halus Ega memerah malu karena menahan lapar.


Hingga kelas musik itu usai, Ega berjalan gontai meninggalkan ruangan itu. Satu jam yang sia- sia karena ia tak dapat menyerap apapun dari materi musik yang ia dapatkan hari ini. Gadis itu benar- benar kehabisan tenaga, hingga akhirnya ia sandarkan tubuhnya pada salah satu bangku yang terletak di lorong itu. Sepi, hanya tinggal beberapa siswa yang mengikuti kelas ekstrakulikuler lain yang memang pulang lebh sore.  Bibir gadis itu mulai mengering karena selain lapar, kini ia juga mulai kehausan. Dibukanya tas punggung berwarna abu-mabu yang sedari tadi memberatkan langkahnya, dan diraihnya sebotol air minum yang tinggal sisa. Hanya itu yang mampu memulihkan sedikit energinya untuk pulang saat ini. Saat ia tengah meneguk air itu, ia dapati seorang laki- laki menjulurkan satu bungkus roti bawang padanya yang seketika membuat gadis itu tersedak.


“Makanlah!” ujar siswa laki- laki itu. Ega terpaku sesaat karena semenjak ia bergabung di kelas unggulan,  untuk pertama kalinya laki- laki itu berbicara padanya.


“Ah tidak, untukmu saja. Aku sudah tidak lapar. Lagi pula kelas juga sudah selesai jadi aku bisa segera pulang,” jawab gadis itu sedikit gelagapan karena canggung.


“Suara berisik di perutmu itu sangat mengganggu. Makanlah atau kamu akan terkena asam lambung,” pungkas laki- laki itu sembari tetap menyodorkan roti bawang yang sebelumnya sempat mereka perebutkan. Dengan hati- hati Ega menerima bungkusan lantas mengucapkan terima kasih. Keheningan menghampiri dua remaja itu sebelum akhirnya suara perut keroncongan kembali berbunyi,  namun kali ini berasal dari perut laki- laki itu. Seketika wajah laki- laki itu memerah sehingga ia segera bergegas pergi, namun entah mengapa tangan Ega dengan cekatan menahan lengan laki- laki itu begitu saja.


“Tunggu, Iko!” ujarnya. Laki- laki itu menatap tangan lembut Ega yang masih menggenggam lengannya hingga akhirnya Ega melepaskan genggaman itu. Seketika gadis itu membuka bungkusan garlic bread yang baru saja ia terima, mengeluarkan isinya dan membaginya menjadi dua bagian.


“Bagi dua,” tutur Ega sembari menyunggingkan senyum cerianya. Laki- laki itu tak bergeming.


“Suara berisik di perutmu juga mengganggu. Makanlah!” pungkas Ega sembari mendekatkan potongan roti bawang itu ke mulut Iko. Laki- laki itu tak punya pilihan lain selain menerima pemberian gadis cantik yang ada di hadapannya.


...***...

__ADS_1


“Ga! Ega!!” panggil Nindy yang seketika membuyarkan angan Ega yang terjebak pada masa lalu manakala ia berbicara dengan Iko untuk pertama kalinya lantaran roti bawang itu.


“Hm? Apa?” jawab Ega sedikit linglung.


“Bagi sini! Aku lapar!” pinta Nindy sembari mengisyaratkan Ega untuk segera membuka kotak roti bawang yang sedari tadi masih tergeletak di hadapannya.


“Oh, ambillah!” ucap Ega sembari membuka kotak itu dan menyorodkannya pada Nindy. Perpaduan aroma gurih antara bawang putih, mentega, dan taburan oregano yang khas seketika membuat keduanya tak mampu menahan diri untuk tidak segera mencomot roti yang masih hangat tersebut.


“Ah, ini sangat enak. Aku tidak menyangka masih ada yang menjual roti ini setelah sekian lama aku tidak memakannya," ”utur Nindy sembari menikmati setiap kelembutan tekstur roti yang masuk ke dalam mulutnya. Ega hanya tersenyum tipis mendengarnya.


“Aku bawa satu lagi!” ujar Nindy sembari mengambil satu lagi roti itu kemudian bergegas kembali ke ruangannya. Ega lantas mengeluarkan ponsel pintarnya untuk menghubungi seseorang yang sangat ia yakini dialah yang mengirimkan roti itu.


“Mengapa kamu selalu mencari cara agar aku menghubungimu, hm?” ucap Ega begitu seseorang yang ia hubungi menjawab panggilannya.


“Aku hanya ingin mendengar suaramu sebelum aku berangkat,” pungkas laki- laki di seberang.


...****************...


 To be continued!


Ke mana Iko akan pergi?? Temukan jawabannya di episode selanjutnya yaaa readers kesayangan author 😘😘.


Jangan lupa like, tinggalkan jejak komentar positif, dan pliiiiiiissss banget I beg you vote yaaa biar kisah author ini bisa terangkat dan dinikmati lebih banyak pembaca. Jangan lupa juga subscribe biar ngga ketinggalan setiap episodenya, terima kasih. 🙏🥰


 

__ADS_1


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2