Pembalasan Istri CEO Dan Sang Idola

Pembalasan Istri CEO Dan Sang Idola
BAB 45: TEROR


__ADS_3

“Prang!!”


Perempuan itu seketika terhenyak dari tidurnya begitu mendengar suara kaca pintu rumahnya pecah seperti dilempar benda keras. Hari masih begitu gelap. Ega menyalakan lampu kamar tidurnya dan bergegas turun untuk memastikan apa yang telah terjadi. Sekilas mata cokelatnya melirik jam dinding, dan waktu menunjukkan pukul tiga dini hari. Derap langkahnya memecah kesunyian rumah mewah yang ia tinggali seorang diri selepas perceraiannya dengan Evan. Telapak tangannya dengan cekatan menyalakan saklar lampu begitu ia sampai di ruang tamu, dan betapa terkejutnya perempuan itu manakala mendapati kaca jendela rumahnya yang telah hancur berkeping- keping. Kakinya berjinjit menghindari pecahan kaca yang berserak untuk mencari tahu benda apa yang telah dilemparkan sehingga memecahkan kaca itu. Matanya menelisik ke seluruh lantai, hingga ia mendapati sebuah botol plastik kecil yang terikat pada sebuah batu dengan ukuran sebesar bola tenis. Kedua alisnya mengerut sembari mengambil botol itu dengan hati- hati. Dilepaskannya ikatan botol yang terlilit pada batu itu. Dari luar tampak jelas di dalam botol itu terdapat sebuah kertas kecil. Dengan segera Ega membuka botol itu dan mengeluarkan isinya, hingga seketika matanya membelalak mendapati sebaris ancaman pada secarik kertas itu.


‘JAUHI IKO ATAU KUBUAT KAMU MENDERITA!’


Tulisan singkat bernada ancaman itu seketika membuat jantung Ega berdegup kencang. ‘Siapa yang melakukan ini dan bagaimana dia tahu hubunganku dengan Iko?’ pikirnya sembari melemparkan pandangan ke arah luar rumahnya. Sunyi. Tak ada seorang pun di sana, bahkan jalan depan rumahnya pun tak ada kendaraan yang berlalu lalang karena hari masih petang. Pagar rumahnya pun terkunci rapat, namun Ega yakin seseorang telah melemparkan batu tersebut dari luar pagar. Dengan segera Ega kembali mematikan lampu ruang tamu itu dan bergegas menuju kamarnya. Tanganya sedikit gemetar karena gugup, lantas ia segera meraih ponsel pintarnya untuk menghubungi Iko. Belum sampai panggilan itu terhubung, Ega bergegas mematikannya. Ia tak ingin memberitahukan hal itu pada Iko karena perempuan itu memahami bahwa Iko pasti akan khawatir. Perempuan itu berjalan mendekat ke luar jendela kamarnya untuk memastikan kembali apakah ada seseorang di luar pagar rumahnya. Sunyi, gelap. Tak ada apapun kecuali keheningan.


...***...


Pagi menjelang setelah kejadian terror batu dan pesan ancaman yang dilemparkan ke rumah Ega dini hari tadi. Perempuan itu terpaksa harus membereskan semua kepingan kaca yang berserakan sebelum berangkat ke kantor dan memanggil orang untuk mengganti kaca jendelanya yang pecah. Sesekali perempuan itu menggigit bibirnya karena kepanikan yang masih membayanginya mengenai teror yang baru saja ia terima.


“Sudah selesai, Bu,” ujar seorang laki- laki berusia sekitar lima puluh tahunan yang baru saja menyelesaikan pemasangan kaca jendela yang baru. Ega mengangguk mengucapkan terima kasih lantas segera memberinya upah jasa.


Dalam perjalanan menuju kantor,pikiran perempuan itu pun masih terpusat pada ancaman yang ia peroleh.


‘Mengapa dia memintaku untuk menjauhi Iko bahkan mengancam akan membuat hidupku menderita? Siapa dia sebenarnya?’

__ADS_1


...***...


“Ga! Apa yang sedang kamu pikirkan?” seloroh Nindy membuyarkan lamunan Ega yang sedari tadi tampak tak fokus dengan pekerjaannya.


“Eh, oh, apa Nin?”


“Ega, what’s wrong? Dari tadi kulihat kamu seperti memikirkan sesuatu. Ada masalah?”


“Nggak ada, Nin. Maaf aku belum sempat sarapan jadi aku sama sekali tak bisa fokus,” jelasnya sembari kembali menandatangani beberapa dokumen yang disodorkan Nindy padanya.


“Maaf Bu ada yang mengantarkan ini atas nama Bu Ega,” tutur karyawan itu dengan sopan. Ega lantas memintanya untuk meletakkan di atas meja, kemudian mempersilakan karyawan itu untuk kembali ke ruangannya selepas Ega mengucapkan terima kasih. Dengan cekatan perempuan bermata cokelat itu lantas mengambil ponsel pintarnya untuk menghubungi Iko.


“Sudah kukatakan kamu tak perlu mengirimkanku makanan setiap hari, Ko.” Ucap Ega begitu sambungan teleponnya terhubung.


“Maksud kamu?” jawab suara berat dari seberang.


“Kamu tidak mengirim apapun hari ini padaku?”

__ADS_1


“Aku? Ini masih terlalu pagi, aku bahkan baru bangun tidur. Tapi jangan khawatir, aku akan mengirimkan makanan untukmu jika kamu mau.”


Seketika jantung Ega berdegup kencang. ‘Bukan Iko? Lantas siapa yang mengirimkan itu dan apa isinya?’ pikiran Ega kembali tak tenang karena mulai mengaitkan bingkisan itu dengan teror yang diterimanya dini hari tadi.


“Ah, tidak usah Ko. Ternyata Nindy yang memesankannya untukku.” Ega terpaksa berbohong karena tak ingin membuat Iko bertanya- tanya. Perempuan itu lantas segera menutup teleponnya kemudian berjalan perlahan mendekati bingkisan itu. Di dalamnya terdapat sebuah kotak berukuran sedang. Sekilas tak ada yang mencurigakan dari bingkisan itu, namun entah mengapa perasaan Ega tak enak begitu mengeluarkan kotak tersebut dan membuka tutupnya. Benar saja, perempuan itu kembli terkejut atas apa yang ada di dalamnya. Mata cokelatnya membelalak sedikit ketakutan begitu ia dapati lagi sebuah pesan pendek berisi ancaman yang ditulis pada selembar kertas kecil. Pesan itu ditulis dengan sesuatu berwarna merah, entah darah atau apa yang jelas hal itu cukup mengganggu mental Ega dalam waktu singkat.


“STAY AWAY FROM HIM! HE IS MINE!”


...****************...


Halo readers kesayangan! terima kasih masih mengikuti sampai episode ini, jangan lupa tinggalkan jejak komentar positif, like, dan beri ulasan bintang 5 jika suka karya author ya. Jangan lupa juga subscribe agar tak ketinggalan episode selanjutnya!


Oh ya, sambil menunggu author update, bisa banget kepoin cerita seru dari teman author di bawah ini! 🥳



 

__ADS_1


__ADS_2