Pembalasan Istri CEO Dan Sang Idola

Pembalasan Istri CEO Dan Sang Idola
BAB 23: AKU AKAN MELINDUNGIMU


__ADS_3

Iko memapah tubuh Ega yang masih menggigil kedinginan dengan hati- hati. Tangan laki- laki itu dengan cekatan memasukkan kata sandi untuk membuka pintu apartemen miliknya, lantas ia mempersilakan Ega untuk turut masuk. Tubuh dua sahabat itu masih basah kuyup hingga tetesan air turut membasahi lantai apartemen Iko.


“Tunggu disini, aku akan mengambilkan handuk untukmu,” ucap Iko sembari bergegas meninggalkan Ega berdiri di sana. Selang beberapa saat, laki- laki itu kembali dengan handuk di tangannya lantas menelangkupkannya pada tubuh Ega yang masih bergetar.


“Bersihkan dirimu, aku sudah menyiapkan semuanya,” tutur laki- laki itu sembari mengisyaratkan Ega untuk segera membersihkan dirinya. Perempuan itu melangkah ke kamar mandi hampir tanpa tenaga. Tatapan matanya kosong, isak tangisnya masih sedikit tersisa.


Beberapa saat setelah itu, Ega keluar dari kamar mandi dengan berbalut kaus lengan panjang berukuran cukup besar, yang tak lain adalah milik Iko. Perempuan itu berjalan gontai sembari menggosok perlahan  rambutnya yang basah dengan handuk. Iko yang sedari tadi menunggu Ega sembari merebahkan tubuhnya di atas sofa, seketika terkesima mendapati Ega dalam keadaan seperti itu. Cantik, namun raut kesedihan itu menelan semuanya.  Menyaksikan hal itu, sang idola yang sedari tadi sudah menyiapkan secangkir teh untuk Ega segera mempersilakan perempuan itu untuk duduk.


“Minumlah agar tubuhmu terasa lebih hangat,” tawar Iko sembari menyodorkan secangir teh pada perempuan itu. Ega masih saja tak mengeluarkan sepatah katapun. Seperti sudah tak ada harapan hidup lagi tersisa di raut wajahnya. Perempuan itu semampunya berusaha meneguk teh hangat pemberian Iko, namun minuman itu seolah terhenti di kerongkongan. Air matanya kembali berderai, kini hampir tanpa suara. Iko meraih cangkir itu perlahan dan meletakkannya di atas meja, dan dengan segera mengusap air mata yang mengalir membasahi pipi Ega dengan jemari panjangnya.

__ADS_1


“Mengapa harus Aluna, Ko?” rintihnya terputus. “Mengapa harus aku dan kamu yang dikhianati?” lanjutnya. Laki- laki itu menepuk punggung Ega perlahan sembari menarik napas panjang, lantas menghembuskannya.


“Aku dan Aluna …, sebenarnya tidak ada hubungan apapun di antara kami,” tutur Iko yang seketika membuat Ega tercengang. Dua insan itu saling pandang selama beberapa saat.


“Agensi yang meminta aku dan dia untuk berpura- pura seolah kami berhubungan demi mendongkrak popularitas,” lanjutnya. “Kemesraan kami di depan kamera, kebersamaan kami yang seolah menjadi panutan bagi semua yang melihatnya, hanyalah palsu semata. Aku tak pernah mencintainya sedikitpun, begitupun dia,” pungkasnya sembari menggelengkan kepala, seolah tak percaya bagaimana ia begitu saja menuruti saja permintaan agensi untuk berpura- pura.


“Aku bahkan tak habis pikir mengenai bagaimana dan kapan dia bisa mengenal suamimu,” pungkas laki- laki itu. Ega terdiam mendapati kenyataan bahwa ternyata selama ini hubungan antara Aluna dan sahabatnya hanyalah rekayasa. Seketika semua memori Ega tentang Aluna kembali terbuka. Tentang bagaimana gadis muda itu ingin berpenampilan seperti dirinya, tentang bagaimana gadis itu ingin menyamai apapun yang ada dalam dirinya. Semuanya itu ternyata bukanlah untuk menarik perhatian Iko, melainkan untuk merebut hati Evan, suaminya. Ega kembali menelangkupkan telapak tangannya menutupi wajah, berusaha tegar menerima semua meskipun pahit. Perlahan ia menengadahkan wajahnya ke langit dan membuang napas.


“Beristirahatlah di kamarku, aku akan tidur di sini,”pungkas Iko sembari membelai rambut Ega yang masih basah.

__ADS_1


“Aku tidur di sini saja,” pungkas Ega lirih. Laki- laki itu lantas mengangguk seraya mempersilakan Ega untuk berbaring di sofa. Perempuan itu meringkukkan tubuhnya yang teramat lelah, berusaha memejamkan mata dan berharap apa yang ia alami malam ini hanyalah mimpi yang akan segera lenyap esok hari.


...***...


Laki- laki itu memandangi Ega yang kini tertidur di atas sofa. Tubunya yang tampak lelah dan wajahnya yang pucat membuat siapapun yang memandangnya merasa tak tega. Iko berjalan mendekat pada Ega yang terlihat kedinginan. Sesekali tubuh letih perempuan itu bergerak membenarkan posisi tidurnya yang tampak kurang nyaman.


“Ega ku yang malang, mengapa kamu harus mengalami kepedihan seperti ini,” gumam Iko lirih. Laki- laki itu lantas mengangkat tubuh Ega dengan hati- hati dan memindahkannya ke dalam kamar. Dibaringkannya tubuh lemah itu di atas kasur dan ditutupinya dengan selimut tebal. Iko kembali memandangi wajah pucat itu, mengelus rambutnya perlahan, dan membelai pipinya lembut. Wajah cantik yang dulu selalu tampak ceria dan bahagia, kini sirna entah ke mana. Hanya duka yang tersisa di sana, tergambar jelas meskipun perempuan itu menutup mata. Perlahan laki- laki itu melekatkan bibirnya pada kening Ega, mencurahkan rasa cinta yang selama ini dipendamnya. ‘Seandainya takdir mempertemukan kita kembali lebih dulu sebelum kamu menikah, sudah tentu kamu tak akan mengalami takdir sepedih ini. Maafkan aku yang terlalu terlambat mengungkapkan rasa ini padamu, Ga.’ Tuturnya dalam hati sembari melepaskan kecupan hangat itu dari kening perempuan yang masih terlelap di hadapannya.


"Hari ini dan seterusnya, aku berjanji akan selalu melindungi mu," gumam laki- laki itu lirih.

__ADS_1


...****************...


 


__ADS_2