Pembalasan Istri CEO Dan Sang Idola

Pembalasan Istri CEO Dan Sang Idola
BAB 44: FIRST DINNER


__ADS_3

Laki- laki itu menyunggingkan senyum mengingat kembali kedatangan Ega yang secara tiba- tiba menyamar sebagai seorang penggemar pada acara jumpa fans sore tadi. Kebahagiaan membuncah dalam dadanya begitu mendapati Ega memakai gelang manik pemberiannya, gelang yang sangat cantik melingkar di pergelangan tangannya yang indah. Laki- laki itu lantas segera meraih ponsel pintarnya untuk menghubungi sahabat yang kini menjadi kekasihnya. Entah mengapa tiba- tiba ia begitu merindukan perempuan yang baru saja menemuinya sore tadi.


“Ayo kita bertemu,” ajak laki- laki itu begitu sambungan teleponnya mendapatkan jawaban.


“Bukankah tadi sore aku sudah datang menemuimu?” jawab suara di seberang.


“Itu terlalu singkat dan justru membuatku merindukanmu,” timpalnya. Sesaat sambungan telepon itu hening.


“Kujemput sekarang. Bersiaplah,” pinta laki- laki itu sembari menutup saluran teleponnya, kemudian ia beranjak untuk bersiap.


Beberapa saat berlalu, laki- laki itu telah rapi dengan setelan kemeja berwarna putih dan celana khaki. Aroma ceddarwood yang hangat menyeruak dari tubuh kekar laki- laki itu. Bergegas ia memasuki mobil dan hendak menjemput perempuan yang dicintainya sejak lama.


...***...


Di depan rumah berpagar putih itu, Ega telah bersiap dengan balutan dress midi berwarna khaki yang anggun. Seolah memiliki ikatan batin yang begitu kuat, dua sejoli itu memakai pakaian dengan warna yang senada. Laki- laki itu tersenyum begitu mendapati Ega yang telah menunggunya sedari tadi, namun perempuan itu justru terkejut begitu melihat penampilan Iko.


“Bagaimana bisa kamu berpenampilan seperti ini? Tanpa jaket? Dan, topi? Mana topimu, Iko?” Ega mencerca Iko dengan banyak pertanyaan. Laki- laki itu tak menjawab. Dengan segera laki- laki itu turun dari mobil dan bergegas membukakan pintu untuk Ega kemudian menutupnya kembali setelah perempuan itu mengucapkan terima kasih.


“Kamu belum menjawab pertanyaanku, Ko,” Ega mengulangi pertanyaannya sembari mengalungkan sabuk pengaman pada tubuhnya.

__ADS_1


“Jangan khawatir. Ikut saja,”


“Tapi-,” kata- kata perempuan itu terjeda.


“Ga, percayalah padaku. Semua akan baik- baik saja, okey?” laki- laki  itu meyakinkan perempuan yang duduk di samping kursi kemudinya, kemudian melesatkan mobil yang dikendarainya membelah padatnya jalan ibu kota. Mobil hitam itu melaju jauh ke arah utara, cukup jauh dari keramaian kota hingga memakan waktu beberapa jam perjalanan sebelum akhirnya sampai pada sebuah restoran dengan konsep open air yang cukup syahdu. Restoran yang tak terlalu ramai dengan suasana yang cukup privat. Entah kebetulan atau memang Iko telah menyewa restoran itu, sehingga di tempat itu benar- benar hanya ada mereka berdua dan beberapa pelayan yang menyambut keduanya dengan ramah. Iko lantas menjulurkan telapak tangannya pada perempuan itu.


“Ikuti aku, Cantik,” pinta laki- laki itu yang seketika tangannya terjulur disambut hangat oleh Ega. Dua sejoli itu lantas berjalan beriringan pada sebuah meja dengan dua kursi yang ditata secara berhadapan. Furnitur dengan dominasi warna putih itu di atasnya telah dilengkapi dengan lilin berwarna merah berbentuk hati dan dua gelas minuman pembuka yang terlihat menyegarkan. Segera Iko memundurkan salah satu kursinya dan mempersilakan Ega untuk duduk.


“Candle light dinner, hm?” terka Ega sembari menyunggingkan senyumnya pada Iko. Laki- laki itu hanya menjawab dengan senyuman lantas turut duduk di hadapan Ega. Hanya meja yang menjadi penghalang antara keduanya.


“Aku tahu ini terlalu klise. Restoran privat, lilin kecil, makan malam, dan musik romantis. Kamu tahu, aku tidak berpengalaman akan hal ini. Tapi aku harap kamu menyukainya, Ega,” pungkas laki- laki itu. Ega lantas terkekeh mendapati raut wajah Iko yang tampak salah tingkah.


“Apakah aku terlihat lucu?” tanya laki- laki itu tak mengerti. Kini tawa perempuan itu tergelak.


“Uhm, jujur aku juga merasa sedikit aneh dengan suasana ini. Tapi tak apa, kita makan saja. Okey?” tawar Iko yang tak kalah canggung atas ide makan malam yang ia ciptakan sendiri. Beberapa saat berlalu, para pelayan datang dengan membawa menu makan malam yang telah Iko pesan. Dua sejoli itu lantas menikmati semua hidangan yang ada, sembari sesekali berbincang santai mengenai jumpa fans yang baru saja digelar sore tadi. Seakan perubahan status antara keduanya tak terlalu berarti malam itu, kecanggungan dengan cepat berganti dengan canda tawa hangat seolah mengulang kembali momen indah persahabatan yang terjalin pada saat masih duduk di bangku SMA.


...***...


“Terima kasih sudah menemaniku makan malam hari ini, Ga,” ucap laki- laki itu selepas makan malam privatnya selesai dan kembali mengantar Ega pulang. Perempuan itu mengangguk sembari menyunggingkan senyum manisnya.

__ADS_1


“Sama- sama, Ko,” timpal perempuan itu singkat. Hening, kecanggungan kembali menghampiri keduanya.


“Iko…,”


“Hm?” Laki-laki itu menjawab pelan. Dua bola mata yang saling jatuh cinta itu kembali bertemu.


“Aku bahagia hari ini. Terima kasih untuk itu,” pungkasnya. Laki- laki itu lantas berjalan mendekat, mengikis jarak dengan Ega hingga tinggal beberapa jengkal saja.


“Bolehkah aku …,” ucapan laki- laki itu terputus. Entah mengapa laki- laki itu merasa gugup secara tiba- tiba. Ega terdiam, seolah mengerti apa yang tengah diinginkan oleh laki- laki yang perlahan membelai lembut tengkuknya dan menariknya mendekat. Seketika pergerakan semesta seolah terhenti sejenak, membiarkan sejoli itu terbuai dalam asmara.


“Aku mencintaimu,” ulang laki- laki itu.


...****************...


Halo readers kesayangan! Seperti biasa, jangan lupa tinggalkan jejak komentar positif, like, dan subscribe yaaak.


Sambil menunggu update episode selanjutnya, author ada rekomendasi cerita yang tak kalah seru nih, selamat membaca! 🥳


__ADS_1


 


 


__ADS_2