Pembalasan Istri CEO Dan Sang Idola

Pembalasan Istri CEO Dan Sang Idola
BAB 30: THE QUEEN CARD


__ADS_3

Perempuan bermata cokelat itu tampak menikmati setiap teguk teh hijau hangat yang ia seduh beberapa saat yang lalu. Mata indahnya menelisik portal berita mengenai video asusila atas Aluna dan Evan yang menyebar cepat di jagad maya. Senyum tipisnya tersungging, lantas ia menatap lekat perempuan yang duduk di hadapannya.


“Rupanya kamu benar- benar menepati janjimu,” tutur Ega pada perempuan yang tampak canggung membenarkan posisi duduknya.


“Sekarang katakan apa yang kamu mau?” lanjut Ega. Perempuan itu tampak meraih secangkir teh yang disuguhkan Ega padanya,  meneguknya dengan hati- hati sebelum membuka suara.


“Suamiku …, dia menginginkan satu unit apartemen di Madrid,” pungkasnya.


“Madrid?” tanya Ega.. Perempuan itu mengangguk pelan.


“Bagaimana dengan papamu? Siapa yang akan merawatnya?” Ega kembali bertanya. Perempuan itu terlihat menghela napas berat begitu mendengar Ega menyebut papanya.


“Kami akan membawanya pergi bersama dan merawatnya di sana,” pungkas perempuan itu lirih. Ega tampak mengatur napasnya tenang sembari menyibakkan gelombang rambutnya perlahan.


“Baiklah jika itu yang kamu mau. Menetaplah di sana dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku dan orang- orang yang pernah berurusan dengan masalah ini. Jika kamu masih punya malu, tentu kamu akan menuruti ucapanku, ‘kan?” pungkas Ega sembari berjalan mendekati perempuan yang masih tampak canggung duduk di hadapannya.


“Aku …, aku tidak tahu harus lebih banyak berterima kasih atau meminta maaf padamu, Ga. Aku sangat menyesal karena memilih menyembunyikan kebusukan Evan darimu dan memanfaatkan situasi untuk memerasnya. Kau tahu sendiri, suamiku tidak bekerja selepasnya dari penjara dan perusahaan papaku collaps hingga beliau sakit keras, membebankan semua hutangnya padaku. Aku membutuhkan begitu banyak uang untuk bertahan hidup dalam situasi seperti ini,” jelas perempuan itu mengiba yang seketika membuat Ega mengingat saat di mana ia mendatangi rumah perempuan yang ada di hadapannya saat ini, satu hari setelah ia berhasil menangkap basah kebersamaannya dengan Evan menghadiri acara peluncuran koleksi perhiasan terbaru Tony&Co di Grand Hotel beberapa waktu lalu.


...***...

__ADS_1


“Bagaimana bisa seorang sahabat tega menusuk sahabatnya sendiri dari belakang seperti ini?” sergah Ega pada perempuan itu sembari melemparkan foto- foto kebersamaan Evan dan dirinya pada acara peluncuran koleksi perhiasan terbaru. Perempuan itu tampak mengambil satu- per satu foto yang terserak, lantas duduk bersimpuh di hadapan Ega seraya memeluk kedua kakinya.


“Aku …, aku minta maaf Ga, ini tidak seperti yang kamu lihat. Sungguh aku tidak ada hubungan apapun dengan Evan, percayalah padaku!?”perempuan itu merintih mengiba pada sahabatnya. Ega tertegun dengan amarah yang tertahan di dalam dada. Tangannya mengepal, kakinya berusaha membebaskan diri dari dekapan perempuan itu.


“Aku yang membantu membebaskan suamimu dari penjara! Aku juga yang membantu semua biaya hidupmu selama suamimu mendekam di sana! Bagaiman bisa kamu berbuat seperti ini padaku, Amora?! Apa yang kamu inginkan sebenarnya, huh?!” seketika emosi Ega meledak. Perempuan itu dengan sigap membangunkan tubuh kecil Amora, menarik rambutnya untuk mengunci pandangan mata perempuan itu.


“Ega aku bersumpah aku tidak berselingkuh dengan Evan, tolong beri aku kesempatan untuk berbicara!” rintihnya sembari berusaha melepaskan cengkeraman rambutnya dari tangan Ega, namun perempuan itu tetap menariknya dengan kuat sehingga Amora mengaduh kesakitan.


“Aku akan memberitahumu dengan siapa Evan bermain di belakangmu!” ujar Amora yang seketika membuat Ega melepaskan cengkeramannya. Ega sedikit terkejut mendapati kenyataan bahwa ternyata sahabatnya mengetahui dengan siapa Evan telah bermain hati.


“Jadi selama ini kamu tahu Evan diam- diam mengkhianatiku? Bagaimana mungkin kau tega menyembunykannya dariku, Amora! Sahabat macam apa kau ini, huh?” emosi Ega semakin meledak.


“Dan karena itu kamu membiarkan aku, sahabatmu sendiri, hidup dalam pernikahan yang penuh kepalsuan? Tidakkah cukup materi yang kuberikan untuk membantu menyelamatkan hidupmu, Amora?!” amarah Ega tak terkendali hingga membuat perempuan berperawakan kecil itu kembali bersimpuh di hadapannya.


“Maafkan aku, Ga. Aku benar- benar minta maaf. Kau tahu, suamiku kesulitan mendapatkan pekerjaan selepas ia keluar dari penjara dan aku tidak ada pilihan lain. Semuanya kulakukan untuk melunasi hutang papaku dan membiayai hidup keluargaku.” Perempuan itu mulai menangis meratapi penderitaan yang membuatnya mengambil langkah yang salah. Melihat itu, perasaan tak tega Ega kembali muncul, namun kali ini ia tak mau menjadi lemah.


“Aku sudah mengamati pergerakan laporan keuangan perusahaan belakangan ini. Dan kau tahu? Apa yang aku temukan bisa saja menjebloskanmu ke dalam tahanan hari ini juga, Amora. Aku tak tahu siapa yang akan merawat papamu jika aku melakukannya,” ancam Ega dengan nada yang tenang. Seketika raut wajah Amora kembali diselimuti ketakutan.


“Ega aku mohon jangan. Aku akan melakukan apapun asalkan jangan jebloskan aku ke dalam penjara, aku harus merawat papaku, satu- satunya orang tua yang kupunya, Ega,” pintanya memelas. Ega berjalan mendekat dengan menyunggingkan senyum sinis di salah satu sudut bibirnya.

__ADS_1


“Apa kau sedang berusaha membuat kesepakatan denganku, hm?” tegas Ega sembari mendongakkan dagu Amora dengan telunjuknya. Perempuan itu mengangguk cepat karena ketakutan. Ega lantas menarik napas dan menghembuskannya perlahan.


“Kau tahu. Entah dengan siapa laki- laki pengecut itu bermain di belakangku, aku tak peduli. Yang jelas, pengkhianatan adalah hal yang paling aku benci dalam hidupku, dan bertahan hidup sengan seorang pengkhianat adalah kemustahilan bagiku,” tuturnya sembari menatap mata Amora tajam.


“Aku ingin bukti kuat untuk aku bawa dalam sidang perpisahanku dengan laki- laki pengkhianat itu. Bawakan aku bukti hingga ia tak bisa mengelak lagi selain menerima perpisahan ini. Kau butuh uang untuk bertahan dalam hidupmu yang menyedihkan itu, bukan?” tanya Ega pada perempuan yang ada di hadapannya. Ruangan itu hening beberapa saat, sebelum akhirnya Amora memberikan keputusan.


“Aku akan melakukannya untukmu, Ega. Beri aku waktu dan aku akan melakukannya dengan baik.” Perempuan itu menyepakati penawaran yang diberikan oleh sahabatnya.


...***...


“Aku tidak menyangka kau bisa sekuat dan sepintar ini, Ga,” tutur Amora yang seketika membuyarkan lamunannya. Perempuan itu kembali meneguk sisa teh hijau di hadapannya. Tatapan teduhnya yang dulu ada kini hilang, berganti dengan tatapan dingin penuh dendam.


“Mungkin selama ini kau berpikir bahwa kau mempunyai kartu As yang bisa kau gunakan untuk mengakhiri dan memenangkan pertandingan sewaktu- waktu.” Ega berjalan mendekati Amora, kembali menatap tajam dua bola mata itu. “Namun tampaknya kau lupa Amora. I’m the Queen Card. Aku juga bisa melakukan hal yang sama,”


...****************...


To be continued!


PS: Mohon tinggalkan jejak komentar positif, like dan vote bintang 5 jika suka ya readers, karena ulasan positif pembaca sangat berarti untuk kemajuan menulis author. Jangan lupa subscribe agar tak ketinggalan episode selanjutnya yaa 🥳

__ADS_1


__ADS_2