Pembalasan Pangeran Hutan

Pembalasan Pangeran Hutan
Bab 21. Melanjutkan Perjalanan


__ADS_3

Didalam Hutan Gelap, Wilayah Suku Kuda Nil


Hippotam berkata, "aku bisa melihat Helion dalam dirimu, anak muda. Kau benar-benar anak Helion. Aku pernah berhutang nyawa pada ayahmu. ajukan 1 permintaanmu dan akan kukabulkan."


Nial kemudian mengajukan permintaannya, "bebaskan Khar dan Warphan. Lalu kami akan pergi melanjutkan perjalanan kami, paman."


Hippotam, "baiklah, karena kau yang memintanya, walau berat hati akan kukabulkan. Disisi yang satu, aku berhutang nyawa pada ayahmu, Nial. Disisi yang lain kau meminta agar aku membebaskan Khar dan Warphan. Hutang nyawa dibayar dengan nyawa. kita sudah selesai. Aku akan melepaskan Khar dan Warphan. besok kalian akan melanjutkan perjalanan. Kalian silahkan menunggu ditenda makan bersama 2 temanmu dari Suku Banteng. Warphan dan Khar akan menyusul kesana. Himus, antar mereka ketenda perjamuan!"


Himus, "baik, ayah. Ayo, Nial. Ajak 2 temanmu itu."


lalu mereka berempat keluar dan menuju tenda perjamuan.


Setelah mereka berempat pergi,


Pota langsung menunjukkan ketidakpuasannya atas keputusan sang ayah, "kenapa ayah membebaskan Warphan? Dan kalau memang ayah berteman dekat dengan Suku Singa, bukankah ini saat yang tepat untuk membantu mereka, ayah? Apakah kita harus berdiam diri saja?"


Hippotam kemudian menjawab, "janji itu harus ditepati, Pota. Dulu Helion tidak meminta apapun pada ayah ketika menyelamatkan ayah. Lalu, kita tidak bisa langsung bergerak menyerang Suku Harimau dan sekutunya begitu saja, anakku. Perang itu mengorbankan banyak hal. kehidupan Suku kita lebih berarti dibanding apa yang kita dapat dari hasil perang. Tapi itu bukan berarti kita hanya berdiam sepenuhnya. Kita akan bergerak pada saat yang tepat. Kau mengerti maksud ayah kan?"


Pota lalu berkata, "aku tahu maksud, ayah. Jangan cepat terpancing amarah dan gegabah dalam melakukan hal seperti itu. Kita harus bisa membaca situasi agar dapat mengambil langkah tepat, agar tak merugikan kita. Benar kan, ayah?"


Hippotam, "benar, Pota. Temui penjaga yang mengawasi Warphan, lalu bebaskan dan ajak dia ketenda perjamuan."


Pota, " baik, ayah." lalu pergi meninggalkan tenda.


Sementara itu, didalam tenda perjamuan


Nial bertanya pada Himus, "berapa lama lagi dari sini untuk menuju ke Wilayah Suku Beruang?"


Himus, " setahu ku, itu memakan waktu kurang lebih 3 hari lagi. Suku Beruang sekarang selalu hidup berpindah-pindah.


Bullan, "kenapa bisa?"


Himus, "wilayah mereka sering di usik oleh Suku Harimau. Mereka lebih ingin mengalah dan hidup berpindah-pindah untuk menghindari peperangan yang tak perlu bagi mereka."


Nial tersulut oleh emosi karena mendengar kabar tersebut, "Suku Harimau brengsek."


Powerbull, "kita harus tetap tenang, Nial. Kau harapan kami untuk melawan Tigerly dan anak-anaknya. Kami berharap padamu untuk bisa mengalahkan Suku Harimau."


Nial kemudian meledek Powerbull, "jadi kalian hanua jadi saksi? Lalu aku yang akan melawan mereka sendiri?"

__ADS_1


Bullan, "hahahaha. Tidak seperti itu, bodoh. Kami yang akan melawan antek-anteknya Tigerly. Kau fokus dengan Suku Harimau saja. Sisanya serahkan pada kami."


Kemudian Khar, Warphan, dan Pota masuk kedalam tenda perjamuan dan bergabung bersama mereka.


Nial, "syukurlah kau tidak kenapa-kenapa, adikku?"


sembari memeluk adiknya, Khar.


Khar, "aku tidak apa-apa, kak. Hanya penyiksaan kecil dan mereka sudah meminta maaf pada kami. Warphan yang agak lumayan parah."


Bullan, "kau pantas menerima itu, Warphan. anggap saja sebagai kenangan dari Suku Kuda Nil." lalu mencibir ke arah Warphan.


Warphan, "enak saja kau. Coba kau yang mengalami hal seperti yang ku alami, aku pastikan aku akan menertawaimu." dengan kesal berkata pada Bullan.


Himus kemudian berkata, "sekali lagi, untuk semua kesalahpahaman ini, aku mewakili Suku Kuda Nil, meminta maaf pada kalian semua. Silahkan nikmati hidangan yang ada disini sepuasnya."


Pota, "aku juga meminta maaf pada kalian semua, khususnya Khar dan Warphan. Semoga aku bisa menebusnya dimasa yang akan datang."


Powerbull, "sudahlah. Itu tak perlu dibahas lagi. Yang penting kita semua berkumpul disini. Mari kita makan sepuasnya." lalu mengambil ikan bakar ukuran besar dan mulai memakannya.


Pota, "ayo. Kita makan sepuasnya."


Keesokan harinya,


Nial, Bullan, Powerbull, Khar, dan Warphan berbicara dengan serentak pada Hippotam, "kami berterima kasih atas kemurahan hati paman dengan menerima kehadiran kami disini sebagai tamu. Semoga kami bisa membalas kebaikan paman dan para saudara yang ada disini."


Hippotam, "baiklah, anak muda. Aku harap kalian bisa berhati-hati diperjalanan." lalu melihat kearah Himus sembari berkata, "mana adikmu, Pota? Dan apakah kau sudah menyiapkan yang kukatakan untik mereka?"


Himus menjawab, "sudah, ayah."


kemudian melihat Nial dan temannya,


"aku sudah menyiapkan bekal yang banyak untuk kalian diperjalanan. Semoga kalian bisa secepatnya bertemu dengan Suku Beruang." lalu melihat kembali pada Hippotam, "soal Pota, mungkin dia sudah berlari ke batas Hutan Gelap, ayah. Ayah tahu sendiri tingkah Pota itu seperti apa."


Hippotam dengan kesal berkata, "dasar anak itu, selalu membuat ulah."


kemudian berkata kepada Nial dan temannya, "ya sudah, jaga diri kalian baik-baik diperjalanan ya."


Nial yang menjawab, "baik, paman. Kami berangkat. Himus, sampaikan salam untuk Pota. Jaga diri kalian juga."

__ADS_1


Himus, "pasti. Hati-hati."


Lalu mereka keluar dari wilayah Suku Kuda Nil dan melanjutkan perjalanan mereka menuju Wilayah Suku Beruang. Mereka hanya beristirahat ketika hendak makan, untuk menghindari banyak waktu yang terbuang, dan untuk menghindari bahaya dari binatang-binatang buas di Hutan Gelap.


kemudian, ketika mereka hampir keluar dari Hutan Gelap,


Nial, "waspada teman. Ada yang mengikuti kita." memberi tahu pada Bullan, Powerbull, Khar dan Warphan.


tiba-tiba saja muncul Pota dari balik pepohonan besar, lalu berjalan mendekati mereka berlima.


Pota, "halo para cecunguk." menyindir Nial dan temannya.


Nial lalu bertanya pada Pota, "apa yang kau lakukan disini, bocah kecil?" tidakkah kau menangis ketakutan ditengah hutan ini sendirian." balas mengejek Pota.


sementara Bullan bertanya dalam hati, kenapa Pota bisa mengikuti mereka.


Pota, "enak saja kau mengataiku anak kecil. Hahahaha. Aku ingin bergabung dengan kalian untuk bertualang dan menghabisi Suku Harimau."


Powerbull kemudian berkata,"ini bukan berjalan dikebun anggur untuk bersenang-senang. Kami akan melakukan perjalanan berbahaya. Kau harusnya mengerti, Pota."


Pota lalu menjawab, "aku mengerti kok. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Lagian aku tak pernah tahu seperti apa kehidupan diluar Hutan Gelap. Aku ingin melihat semuanya. Tenang saja. Aku tak akan merepotkan kalian."


Khar, "apa ayah dan kakakmu tahu kalau kau bergabung bersama kami? Atau kau kabur dari Wilayah Suku mu?"


Pota lalu menjawab dengan ketus, "enak saja. Mereka mengizinkanku pergi. Makanya aku berada disini bersama kalian. Sudahlah. Ayo kita mulai petualangan kita. Hahahahaha."


Bullan, "sudahlah. Ayo berangkat. Kita harus cepat tiba di wilayah Suku Beruang."


lalu berjalan pelan, kemudian berbisik pada Nial dibelakang yang lain,


"Nial, aku merasa perjalanan kita kali ini akan sangat berat."


Nial mengerti maksud perkataan Bullan, "aku harap kau bisa menjadi pengasuh yang baik, Bullan. Hahahahaha. Ayo lanjut."


kemudian mereka melanjutkan perjalanannya lagi menuju Wilayah Suku Beruang. Sementara itu, di Wilayah Suku Kuda Nil,


Hippotam dengan jengkel berkata, "anak brengsek. Berani-beraninya dia kabur dari sini, tanpa mengatakan apapun dan cuma menuliskan surat. Memang adikmu sangat nakal, Himus."


Himus hanya tertawa menanggapi perkataan ayahnya, "sudahlah ayah. Setidaknya ada Nial dan temannya yang menjaga Pota. Ayah tak perlu khawatir. kita harus melihat situasi tentang Suku yang lain, agar kita tidak salah mengambil keputusan."

__ADS_1


Hippotam mengangguk pasrah, "baiklah, Himus."


__ADS_2